Viral Isu 'Bisnis Vaksin' Bakal Perkuat Holding BUMN Farmasi

CNN Indonesia | Senin, 14/12/2020 15:31 WIB
Unggahan akun IG @forumhumasbumn terkait bisnis vaksin mendapat kritik dari warganet. Kementerian BUMN memastikan pengadaan vaksin corona bukan untuk komersial. Unggahan akun IG @forumhumasbumn terkait bisnis vaksin mendapat kritik dari warganet. Kementerian BUMN memastikan pengadaan vaksin corona bukan untuk komersial. Ilustrasi. (AP/Ted S. Warren).
Jakarta, CNN Indonesia --

Isu 'bisnis vaksin' untuk memperkuat holding BUMN farmasi mendadak viral di masyarakat, khususnya di kalangan pengguna media sosial Twitter. Warganet khawatir 'bisnis vaksin' berkonotasi hanya menguntungkan perusahaan pelat merah di tengah kebutuhan vaksin corona atau covid-19.

Hal ini bermula dari unggahan akun Instagram @forumhumasbumn bertajuk 'Bisnis Vaksin Corona Bakal Semakin Menyehatkan Holding BUMN Farmasi' pada Senin (14/12). 

Dalam unggahan yang kemudian dihapus itu dinyatakan bahwa penguasaan pasar holding BUMN farmasi akan semakin kuat di industri farmasi nasional. Hal ini karena mendapat sokongan dari bisnis seputar penanganan pandemi virus corona atau covid-19, di mana holding BUMN terlibat dalam pengadaan vaksin dan keperluan vaksinasi.


"Bisnis seputar penanganan virus corona (covid-19) seperti alat rapid test, masker medis hingga pengadaan vaksin turut mendukung proyeksi tersebut," tulis unggahan Forum Humas BUMN seperti dikutip CNNIndonesia.com.

Tak hanya itu, PT Indofarma (Persero) Tbk rencananya juga akan memasok jarum suntik untuk mendukung program vaksinasi. Emiten berkode INAF itu merupakan salah satu bagian dari holding BUMN farmasi.

Para anggota holding BUMN farmasi akan bekerja sama terkait pengadaan vaksin dengan beberapa pihak. PT Bio Farma (Persero) akan melakukan pengadaan vaksin dengan Sinovac, Indofarma dengan Novavax, dan PT Kimia Farma (Persero) Tbk dengan G-42.

Viral Isu Bisnis Vaksin untuk Perkuat Holding BUMN FarmasiUnggahan 'Bisnis Vaksin Corona Bakal Semakin Menyehatkan Holding BUMN Farmasi' mendapat kritik dari warganet. Unggahan ini kemudian dihapus. (Tangkapan Layar Instagram/@forumhumasbumn).

Unggahan ini kemudian dibagikan akun @diambagus ke Twitter. Dalam unggahannya, ia mempertanyakan maksud 'bisnis vaksin' yang dianggap memberikan menggunakan diksi yang salah.

"BISNIS VAKSIN" WHAATTTTT??!! Demi Tuhan merinding, ini pengin banget dah gue silaturahim sama Corcomm-nya! Kenapa spelling-nya dicopyvisualnya bisa menggunakan kata2 tsb a***r! Gak kebayang, bisa dimaki-makinya macem apa dan gimana sama Head gue kalo buat hal yang samaa Allah...," tulisnya.

Unggahan itu kemudian ditanggapi oleh netizen lain, akun @tsetiady misalnya memberikan meme sindiran kepada para BUMN. "BUMN untuk negeri, BUMN untuk ngery," cuit meme yang dibagikannya.

Sementara akun @kalanofa mengaku kaget dengan maksud 'bisnis vaksin' tersebut. "Astaghfirullah kehabisan kata2," ucapnya.

Terkait hal ini, Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga memastikan tidak ada 'bisnis vaksin' yang semata-mata dilakukan secara komersial dan demi keuntungan para perusahaan pelat merah. Begitu juga 'bisnis' pada holding BUMN farmasi.

"Yang pasti konteksnya bukan bisnis, bukan bisnis yang seperti yang diperkirakan orang, Kami kan ditugaskan dalam pengadaan. Jadi bukan dalam konteks bisnis, kalau bisnis kan dia memang komersial. Ini kan tujuan vaksin itu bukan untuk komersial. Jadi ini masalah persepsi yang dilakukanlah," kata Arya kepada redaksi menanggapi isu tersebut.

Arya turut memastikan bahwa pengaturan harga vaksin covid-19 nanti sepenuhnya akan diatur oleh pemerintah. Dengan begitu, tidak ada kewenangan bagi masing-masing perusahaan negara untuk menentukan harga vaksin.

"Harga vaksin itu berhubungan dengan pemerintah, jadi itu ada beberapa lembaga yang mengambil keputusan soal harga vaksin," ujarnya.

Redaksi berusaha menghubungi sejumlah pimpinan perusahaan di bawah holding BUMN farmasi di antaranya Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir, Direktur Utama Indofarma Arief Pramuhanto, dan Direktur Utama Kimia Farma Verdi Budidarmo. Namun, belum ada respons dari pihak terkait.

[Gambas:Video CNN]



(uli/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK