DEN Ungkap Kebutuhan Biofuel Demi Tekan Impor BBM Hingga 2040

CNN Indonesia | Kamis, 17/12/2020 07:09 WIB
Dewan Energi Nasional (DEN) mengungkapkan Indonesia membutuhkan produksi biofuel dalam jumlah besar untuk menekan impor bahan bakar minyak hingga 2040. Dewan Energi Nasional (DEN) mengungkapkan Indonesia membutuhkan produksi biofuel dalam jumlah besar untuk menekan impor bahan bakar minyak hingga 2040. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia --

Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Djoko Siswanto mengungkapkan Indonesia membutuhkan produksi biofuel dalam jumlah besar untuk menekan impor bahan bakar minyak (BBM) saat konsumsi dalam negeri meningkat hingga 2040.

Berdasarkan perhitungan DEN, Indonesia perlu memproduksi biofuel 159 ribu barel per hari (bph) selama 2020-2025.

Selanjutnya, pada periode 2025-2030, dibutuhkan produksi sebesar 210 ribu bph. Sementara, pada kurun 2025-2030, jumlahnya produksi yang dibutuhkan meningkat menjadi 238 ribu bph.


Setelah itu, dalam kurun 2030-2040, dibutuhkan produksi biodiesel sebanyak 257 ribu barel per hari.

"Jadi itu kita nilai sudah cukup untuk mengurangi impor dari BBM kita khususnya bensin maupun menjaga agar kita tidak impor diesel," ucapnya dalam diskusi virtual bertajuk masa depan biodiesel Indonesia, Rabu (16/12).

Djoko mengatakan hitung-hitungan tersebut rencananya akan menjadi dasar untuk menetapkan target produksi biofuel dalam rancangan strategi industri nasional.

"Besok saya paparan bahan ini juga di depan Wamen BUMN dan Direksi PT Pertamina dan PLN kemudian Bapak menteri akan presentasi ini di hadapan presiden. Jadi ini kebijakan biofuel kita sampai paling tidak 2040," terangnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) Aprobi Paulus Tjakrawan mengatakan proyeksi kebutuhan tersebut harus segera ditetapkan dalam cetak biru pengembangan energi baru terbarukan (EBT).

Tujuannya, untuk memberikan kepastian bagi investor yang mau masuk dalam bisnis tersebut. Termasuk, kata dia, soal kepastian sampai kapan program mandatori biodiesel akan dilanjutkan dan ditingkatkan.

"Perlu ada sinyal tegas kebijakan ini akan seperti apa sebab sampai hari ini banyak yang mau investasi di biodiesel," tutur Paulus.

Menurut Paulus, investor selama ini cenderung mengamati posisi neraca perdagangan migas Indonesia untuk mengambil keputusan dalam bisnis biofuel. Jika impor BBM bukan lagi jadi masalah, ada kekhawatiran investasi mereka di bidang biofuel akan berujung pada kerugian.

"Mungkin saat ini belum bisa ada ketegasan saya bisa mengerti tapi itu penting untuk dunia usaha," tandasnya.

[Gambas:Video CNN]



(hrf/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK