Nilai Ekspor Minyak Sawit Naik di Tengah Pandemi Corona

CNN Indonesia | Jumat, 18/12/2020 06:04 WIB
Kemendag mencatat nilai ekspor minyak sawit dan turunannya tumbuh 6,9 persen menjadi US$15,95 miliar sepanjang Januari-Oktober 2020. Kemendag mencatat nilai ekspor minyak sawit dan turunannya tumbuh 6,9 persen menjadi US$15,95 miliar sepanjang Januari-Oktober 2020. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD BAGUS KHOIRUNAS).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengungkapkan nilai ekspor minyak sawit tetap positif selama pandemi covid-19. Tercatat, nilai ekspor minyak sawit dan turunannya tumbuh 6,9 persen (yoy) dari US$14,92 miliar menjadi US$15,95 miliar sepanjang Januari-Oktober 2020.

"Perbandingan yoy memang ada kenaikan yang cukup baik 6,9 persen ekspor minyak sawit ke seluruh dunia," ujar Kepala Subdirektorat Produk Agro Direktorat Pengamanan Perdagangan Kemendag Donny Tamtama, dalam diskusi Masa Depan Sawit Indonesia di Pasar Uni Eropa Pasca Covid-19, Kamis (17/12).

Ia menuturkan 4 negara tujuan ekspor terbesar adalah China, Uni Eropa, India, dan Pakistan. Untuk India, terjadi kenaikan nilai ekspor cukup signifikan yakni 41,31 persen, sedangkan nilai ekspor ke China justru turun 29,33 persen.


Usai pandemi, ia menuturkan pertumbuhan pasar minyak nabati termasuk minyak sawit diprediksi masih menjanjikan. Ini didukung perkembangan permintaan dari industri makanan dan minuman.

"Pasar minyak nabati global diperkirakan mencapai 233,1 juta ton pada 2025," katanya.

Menurut Donny, tren utama di pasar minyak nabati global adalah pengenalan produk olahan minimalis dan organik. Ini menjadi keberuntungan bagi Indonesia karena memegang posisi terdepan dalam pasar minyak nabati.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud menjelaskan meski nilai ekspor tumbuh, volume ekspor kelapa sawit turun selama pandemi covid-19. Permintaan turun karena penutupan hotel, restoran, dan layanan katering selama pandemi.

"Namun, secara nilai ekspor tidak mengalami penurunan karena harga CPO yang relatif stabil," ucapnya.

[Gambas:Video CNN]



(ulf/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK