Terendah Sejak 2014, Inflasi 2020 Disumbang Emas hingga Rokok

CNN Indonesia | Senin, 04/01/2021 16:26 WIB
BPS menilai inflasi sebesar 1,68 persen pada 2020 tidak bisa menjadi tolak ukur rendahnya daya beli masyarakat. BPS menilai inflasi sebesar 1,68 persen pada 2020 tidak bisa menjadi tolak ukur rendahnya daya beli masyarakat. Ilustrasi. (M Agung Rajasa).
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan inflasi sebesar 1,68 persen pada 2020 merupakan yang terendah sejak 2014 lalu.

Kendati inflasi tahunan rendah, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto mengatakan inflasi ini tidak serta merta menjadi tolak ukur daya beli masyarakat. Pasalnya, realisasinya tetap perlu melihat tingkat konsumsi rumah tangga dan pergerakan harga di pasar.

"Secara umum, kita bisa berharap daya beli masyarakat akan membaik di masa mendatang," ujar Setianto saat rilis inflasi periode Desember 2020 secara virtual, Senin (4/1).


Setianto mencatat ada beberapa komoditas yang memberi andil besar pada inflasi sepanjang 2020. Mulai dari emas perhiasan 0,26 persen, cabai merah 0,16 persen, minyak goreng 0,1 persen, rokok kretek filter 0,09 persen, dan rokok putih 0,09 persen.

Selain itu, inflasi juga disumbang oleh kenaikan harga daging ayam ras 0,05 persen, telur ayam ras 0,04 persen, ikan segar 0,04 persen, nasi dengan lauk 0,04 persen, dan uang kuliah 0,04 persen.

Secara kelompok, inflasi tertinggi ada di kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencapai 5,8 persen dengan andil 0,35 persen. "Ini karena kenaikan harga emas," imbuhnya.

Namun, andil inflasi tertinggi ada di kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,91 persen dengan tingkat inflasi 3,63 persen. Lalu, inflasi kesehatan 2,79 persen dengan andil 0,07 persen dan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran 2,26 persen dengan andil 0,2 persen.

Kemudian, inflasi kelompok pendidikan 1,4 persen dengan andil 0,08 persen, kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 1,03 persen dengan andil 0,06 persen, kelompok pakaian dan alas kaki 1,01 persen dengan andil 0,05 persen, dan kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya 0,73 persen dengan andil 0,02 persen.

Sisanya, inflasi berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,35 persen dengan andil 0,07 persen. Sementara penyumbang deflasi alias penurunan harga adalah kelompok transportasi sebesar 0,85 persen dengan andil minus 0,11 persen dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,35 persen dengan andil minus 0,02 persen.

Berdasarkan komponen, inflasi 2020 disumbang oleh komponen bergejolak (volatile foods) inflasi 3,62 persen dengan andil 0,59 persen. Komponen volatile foods, terdiri dari komponen energi dengan deflasi 0,9 persen dan andil minus 0,08 persen serta komponen bahan makanan inflasi 3,48 persen dan andil 0,62 persen.

Sedangkan komponen harga diatur pemerintah (administered price) inflasi 0,25 persen dengan andil 0,04 persen. Kemudian, inflasi inti sebesar 1,6 persen dan andil 1,05 persen.

[Gambas:Video CNN]



(uli/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK