Ekonomi RI Diklaim Lebih Baik dari Malaysia Dkk

CNN Indonesia | Senin, 11/01/2021 13:23 WIB
Kepala BKF Kementerian Keuangan menyebut proyeksi ekonomi RI minus 2,2 persen lebih baik dari Malaysia yang minus 6 persen atau Filipina 8,3 persen. Kepala BKF Kementerian Keuangan menyebut proyeksi ekonomi RI minus 2,2 persen lebih baik dari Malaysia yang minus 6 persen atau Filipina 8,3 persen. (Dok: Universitas Indonesia).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu mengklaim pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah tekanan pandemi covid-19 masih lebih baik dibandingkan dengan negara-negara tetangga kawasan Asia Tenggara. Sebut saja, Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Febrio mengatakan pertumbuhan ekonomi Tanah Air secara keseluruhan diproyeksi berkisar minus 2,2 persen pada 2020. Ini merupakan proyeksi pemerintah hingga lembaga ekonomi dan keuangan internasional.

"Ini lebih baik dibandingkan mayoritas negara ASEAN, seperti Malaysia minus 6 persen, Filipina minus 8,3 persen, Thailand minus 7,1 persen, Singapura minus 6 persen," kata Febrio dalam keterangan resmi, Senin (11/1).


Tak hanya dibandingkan negara-negara tetangga, Febrio mengklaim ekonomi nasional juga diperkirakan tetap lebih baik dari negara-negara dengan skala ekonomi besar di forum G20. Misalnya, Prancis, Jerman, hingga India.

Sebab, proyeksi ekonomi Perancis mencapai minus 9,8 persen pada 2020. Sementara, ekonomi Jerman minus 6 persen dan India minus 10,3 persen."Hanya China yang tumbuh positif 1,9 persen," imbuhnya.

Lebih lanjut Febrio mengklaim ekonomi Indonesia sejatinya sudah mulai membaik, meski masih minus. Hal ini tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur yang terus membaik dari bulan ke bulan.

Terakhir, PMI Indonesia ada di kisaran 51,3 pada Desember 2020. Begitu juga dengan kondisi pasar keuangan, rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat lagi jelang tutup tahun kemarin.

Ia mengatakan cukup baiknya pertumbuhan ekonomi tak lepas dari peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai penopang ekonomi di tengah pandemi.

Pemerintah pun terpaksa melebarkan defisit anggaran mencapai Rp956,3 triliun atau 6,09 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2020.

Pelebaran defisit terjadi karena realisasi belanja negara mencapai Rp2.589,9 triliun pada 2020 atau naik 12,2 persen dari 2019. Belanja negara mencapai 94,6 persen dari pagu.

Sementara pendapatan negara cuma terkumpul Rp1.633,6 triliun atau 96,1 persen dari pagu. Realisasinya anjlok 16,7 persen dari 2019.

"Hal ini terutama untuk menahan laju kontraksi ekonomi serta mengurangi dampak pada kenaikan angka kemiskinan dan tingkat pengangguran akibat pandemi," jelas Febrio.

Kendati begitu, ia juga menyebut realisasi defisit APBN masih lebih baik dari negara-negara lain. Menurut data yang dikantonginya, defisit Malaysia mencapai 6,5 persen dari PDB pada 2020.

Sementara, defisit anggaran Filipina 8,1 persen, India 13,1 persen, Jerman 8,2 persen, Perancis 10,8 persen, dan Amerika Serikat 18,7 persen dari PDB.

"Meskipun relatif kecil dibandingkan negara-negara lain, APBN Indonesia telah bekerja secara optimal sebagai instrumen kebijakan countercyclical di masa pandemi," tandasnya.

[Gambas:Video CNN]



(uli/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK