Revisi RUPTL, ESDM Taksir Pembangkit EBT Dipangkas 400 MW

CNN Indonesia | Kamis, 14/01/2021 19:35 WIB
Kapasitas pembangkit EBT diperkirakan turun karena menyesuaikan dengan target pertumbuhan listrik sebesar 4,9 persen per tahun. Kapasitas pembangkit EBT diperkirakan turun karena menyesuaikan dengan target pertumbuhan listrik sebesar 4,9 persen per tahun. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra).
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengungkapkan kapasitas pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) bakal terpangkas sekitar 400 Megawatt (MW) dalam revisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030.

Saat ini, Kementerian ESDM masih berdiskusi dengan PT PLN (Persero) untuk merampungkan revisi tersebut.

"Totalnya itu kalau tidak salah kalau untuk pembangkit EBT-nya itu berkurang 400 MW ini belum final tapi berdasarkan diskusi dengan draf terakhir," ujar Dadan dalam video conference, Kamis (14/1).


Dadan menjelaskan pemangkasan target pembangkit listrik EBT dalam RUPTL tak lepas dari rencana penurunan target pertumbuhan listrik menjadi 4,9 persen per tahun dari sebelumnya 6,4 persen per tahun.

Sejalan dengan itu, total target pembangunan pembangkit baru juga dipangkas hingga 15,5 ribu MW atau 15,5 Gigawatt (GW).

"Jadi secara angka EBT berkurangnya 400 MW. Kemudian juga terjadi pergeseran. Misalnya pembangkit panas bumi, itu ada yang digeser 2022, ada yang digeser ke 2023 atau 2024, jadi ikuti neraca (kelistrikan)," ucapnya.

Dadan juga mengatakan pembahasan revisi RUPTL kali ini merupakan yang terlama dibandingkan sebelumnya.

[Gambas:Video CNN]

Pasalnya, pandemi covid-19 membuat pemerintah harus mengkalkulasi ulang berapa total konsumsi listrik di tengah proyeksi pertumbuhan ekonomi yang masih penuh ketidakpastian.

Di samping itu, tutur Dadan, Menteri ESDM Arifin Tasrif juga ingin memastikan bahwa target bauran EBT sebesar 23 persen pada 2025 dapat tercapai.

"Pak Menteri ingin memastikan target 23 persen ini tercapai. Jadi kami berupaya supaya EBT itu bisa masuk (perhitungannya). Ini kan isunya banyak. Isu PLN over supply, isu jaringan transmisi tidak cukup, jadi Ditjen EBTKE, Ditjen Gatrik koordinasi terus dengan PLN," ujarnya.

(hrf/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK