Utang AS Tambah US$7 T Selama Kepemimpinan Trump

CNN Indonesia | Jumat, 15/01/2021 17:53 WIB
Utang AS melonjak US$7 triliun atau setara Rp98 ribu triliun pada masa pemerintahan Donald Trump dan diramal meningkat terus pada era Joe Biden karena pandemi. Utang AS naik US$7 triliun di masa pemerintahan Presiden AS Donald Trump dan diproyeksi makin bertambah di era Joe Biden karena corona. Ilustrasi. (Pixabay/RabidSquirrel).
Jakarta, CNN Indonesia --

Jumlah utang nasional Amerika Serikat melonjak sebesar US$7 triliun atau setara Rp98 ribu triliun (kurs Rp14 ribu per dolar AS) selama masa pemerintahan Presiden Donald Trump. Angka ini diprediksi terus melonjak setelah Trump turun dari posisinya.

Pasalnya, Presiden terpilih Joe Biden diperkirakan akan mengajukan paket stimulus tambahan sebesar US$2 triliun untuk memperbaiki dan membangun kembali ekonomi AS yang tertekan hebat oleh pandemi corona.

Stimulus itu akan menjadi tambahan dari paket bantuan senilai US$900 miliar yang sudah dikucurkan pemerintah bulan lalu.


Proposal yang terdiri dari cek stimulus US$2.000 untuk bantuan negara bagian dan lokal serta asuransi pengangguran ini bertujuan untuk menopang pemulihan ekonomi AS yang belakangan ini terlihat semakin rapuh.

Menambah gunung utang AS menjadi US$27 triliun sebenarnya bukan keputusan yang mudah. Tetapi, ini langkah yang bijaksana mengingat besarnya skala masalah yang dihadapi dan didukung biaya pinjaman yang sedang murah.

"Ini bukan waktunya untuk mengencangkan ikat pinggang. Perekonomian tidak dalam kondisi penghematan," kata Kepala Ekonom RSM Joe Brusuelas, dikutip dari CNN Bisnis pada Jumat (15/1).

[Gambas:Video CNN]

Pada pekan lalu, sebanyak 965 ribu orang AS dilaporkan mengajukan tunjangan pengangguran untuk pertama kalinya. Itu naik tajam dari minggu sebelumnya yang 784 ribu orang.

Pengajuan klaim pengangguran itu meningkat tajam di atas level terburuk yang terjadi  pada saat The Great Recessions. Sebanyak 140 ribu pekerjaan 'hilang' pada Desember lalu dan menjadi penurunan pertama sejak musim semi.

Wall Street memang sempat menyentuh rekor tertingginya. Namun, itu tidak terjadi pada sektor riil. Sektor-sektor yang mengalami pukulan seperti penerbangan, hiburan, perhotelan, dan lainnya mengalami kerugian besar akibat virus corona.

(wel/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK