Pekerja Kehilangan Rp360 T Akibat Pengurangan Jam Kerja

CNN Indonesia | Kamis, 21/01/2021 13:47 WIB
Bappenas memperkirakan penghasilan pekerja Rp360 triliun hilang akibat pemangkasan jam kerja di era corona. Kehilangan terbanyak dialami buruh manufaktur. Bappenas menyatakan penghasilan pekerja Rp360 triliun hilang akibat kebijakan pemangkasan jam kerja yang diterapkan demi mengatasi penyebaran virus corona. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa menyatakan pandemi covid-19 telah menyebabkan Rp360 triliun penghasilan pekerja hilang. Itu terjadi karena pengurangan jam kerja yang dilakukan seiring upaya menekan penyebaran virus itu.

Suharso mencatat akibat pengurangan itu, 24 juta pekerja kehilangan jam kerja hingga separuh waktu kerjanya. Artinya, jika pekerja memiliki 40 jam kerja, maka kini waktu kerjanya tinggal tersisa 20 jam.

"Akibatnya (pekerja) sektor pariwisata dan ekonomi kehilangan Rp360 triliun penghasilan yang hilang dari sekitar 18 juta di manufaktur dan 12 juta di pariwisata," ucap Suharso dalam 11th Kompas 100 CEO Forum "Let's Collaborate; Rising in Pandemic Era", Kamis (21/1).


Namun, Suharso menyatakan Rp360 triliun hanyalah dampak langsung yang dirasakan. Hal itu belum termasuk dampak tidak langsung akibat pandemi covid-19.

Maklum, pandemi corona telah memaksa pemerintah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) supaya penularan covid-19 tak kian menjadi. Kebijakan itu praktis membatasi pergerakan masyarakat.

"Dana kalau dihitung sampai dengan industri impact dan indirect impact sudah mendekati angka Rp1.000 triliun," terang Suharso.

Tak heran, sambungnya, kondisi itu membuat daya beli masyarakat berkurang dan ekonomi domestik anjlok ke level minus.

[Gambas:Video CNN]

"Ini menjelaskan mengapa daya beli berkurang dan yang mendorong perekonomian adalah konsumsi rumah tangga," jelas Suharso.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia tertekan hebat setelah corona menyebar di dalam negeri.

Pada kuartal I 2020 ekonomi hanya mampu tumbuh 2,97 persen. Padahal kuartal IV 2019, ekonomi nasional masih berhasil tumbuh  4,97 persen. 

Tekanan berlanjut pada kuartal II 2020 hingga ekonomi Indonesia minus 5,32 persen. Pada kuartal III 2020, tekanan mulai berkurang meskipun ekonomi masih minus 3,49 persen.

(aud/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK