Peternak Beberkan Alasan Produksi Sapi RI Minim

CNN Indonesia | Jumat, 22/01/2021 10:37 WIB
Peternak mengungkap sejumlah alasan produksi sapi domestik minim. Salah satunya, biaya produksi yang tinggi. Peternak mengungkap sejumlah alasan produksi sapi domestik minim. Salah satunya, biaya produksi yang tinggi. llustrasi. (ANTARA FOTO/David Muharmansyah).
Jakarta, CNN Indonesia --

Perhimpunan Peternak Sapi Kerbau Indonesia (PPSKI) mengungkap berbagai alasan minimnya produksi ternak di dalam negeri sehingga pemenuhan konsumsi daging sapi masih bergantung pada impor.

Pertama, mahalnya biaya produksi di dalam negeri. Ketua PPSKI Nanang Purus Subendro mengatakan biaya tinggi ini utamanya dari pakan hingga tenaga perawat.

"Semua harus berbayar dan ini yang saat ini dirasakan, biaya pakan tinggi," ungkap Nanang kepada CNNIndonesia.com, Kamis (21/1).


Menurut Nanang, biaya produksi yang tinggi utamanya terjadi pada bisnis skala menengah dengan kepemilikan sekitar 10 ekor sapi ke atas. Sementara usaha skala rumahan dengan 1-3 ekor sapi masih lebih rendah, asal bisa mengandalkan pakan gratis hingga tenaga perawat gratis alias dilakukan sendiri oleh pemilik.

Kedua, semakin sedikit generasi muda yang tertarik menjadi peternak. Hal ini membuat bisnis ini tak ada penerus.

Ketiga, lahan yang tersedia sebagai padang angonan semakin terbatas. Keempat, faktor cuaca, di mana saat musim kemarau biasanya sapi banyak yang kekurangan gizi, sehingga kemampuan reproduksinya menurun.

Kelima, kendala geografis. Saat ini, menurutnya, sentra sapi lokal cenderung terpencar-pencar dan jauh dari pasar.

"Sehingga untuk bisa sampai ke rumah potong hewan perlu biaya tinggi," tuturnya.

Direktur Eksekutif Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) Johny Liano menambahkan produksi di dalam negeri belum bisa sepenuhnya menutup kebutuhan domestik karena produktivitas yang masih rendah.

"Ada peningkatan populasi dan produktivitas, tapi belum optimal. Ini tugas pemerintah untuk meningkatkan populasi dan produktivitas sapi lokal tersebut," kata Johny.

Selain itu, menurutnya, tingkat kebutuhan konsumsi terus meningkat dari waktu ke waktu. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan penduduk, sementara produksi sapi belum mencukupi, sehingga selalu ada gap yang perlu ditutup oleh impor.

"Sehingga terjadi defisit daging untuk kebutuhan masyarakat dan kita terpaksa impor untuk menutup defisit tersebut," katanya.

Masalahnya, keran impor sedang seret saat ini, sehingga menimbulkan kenaikan harga daging sapi di tingkat pengecer atau pasar. Hal ini juga disebabkan oleh berkurangnya jumlah impor sapi dari Australia ke negara berkembang.

"Sementara negara Vietnam dan China impornya meningkat, sehingga terjadi kenaikan harga. Kenaikan tersebut tentu berdampak terhadap harga sapi di Indonesia," ungkapnya.

Johny mencatat harga sapi hidup di tingkat internasional naik dari kisaran US$2,8 sampai US$3 per kilogram (kg) menjadi US$3,8 per kg. "Ini sejak Juli naik sampai dengan sekarang," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]



(uli/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK