Harga Telur Ayam Jatuh Sejak Akhir Tahun, Peternak 'Ngamuk'

CNN Indonesia | Senin, 25/01/2021 14:25 WIB
Mengutip data PIHPS, tren harga telur ayam terus turun di tengah kenaikan harga pakan ternak ayam. Mengutip data PIHPS, tren harga telur ayam terus turun di tengah kenaikan harga pakan ternak ayam. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang peternak ayam petelur viral setelah video berdurasi 1 menit 30 detik menayangkan aksinya membanting rak telur. Bukan tanpa alasan, peternak yang belakangan diketahui bernama Suparni alias Pitut, asal Magetan, itu marah karena harga telur turun terus di tengah kenaikan harga pakan ternak ayam.

"Terus arep dadi opo peternak iki. Pakan mundak terus, endog soyo mudun, soyo mudun, soyo mudun. Sek di-nyang murah, di-nyang murah. Timbang di-nyang murah wes, tak guwakne pisan, wes," ungkapnya, dalam bahasa Jawa, dikutip dari video tersebut, Senin (25/1).

(Mau jadi apa peternak ini. Harga pakan ayam naik terus, harga telur semakin turun, semakin turun, semakin turun. Masih ditawar murah, ditawar murah. Daripada ditawar murah, sudah, saya buang sekalian).


Mengutip Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, tren harga telur ayam memang jatuh sejak akhir tahun lalu.

Pada 28 Desember 2020, harga rata-rata telur ayam dipatok Rp28.250 per kilogram. Namun, hari ini (25/1), harganya sudah di kisaran Rp26.950 per kg.

Di beberapa wilayah, bahkan harga telur ayam jauh di bawah rata-rata nasional. Seperti, Boyolali yang mematok harga Rp19.750 dan Kediri Rp19.900 per kg.

Harga itu terpaut jauh dibandingkan Bulungan, Kalimantan Utara, yang mematok harga telur ayam sebesar Rp83.450 dan Merauke Rp50.250 per kg.

[Gambas:Video CNN]

Ketua Umum Asosiasi Peternak Layer Nasional Ki Musbar Mesdi menjelaskan bahwa harga telur ayam di tangan peternak turun drastis menjadi Rp17 ribu-Rp18 ribu per kg secara nasional.

Harga itu lebih rendah dari yang dipatok pemerintah melalui Permendag Nomor 7 Tahun 2020 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen, yakni Rp19 ribu-Rp21 ribu.

Ia mengatakan penyebab penurunan harga telur karena berkurangnya serapan dari wilayah Jabodetabek dan Bandung. Hal ini diduga karena turunnya daya beli dan pembatasan sosial lantaran 2 wilayah itu merupakan zona merah pandemi covid-19.

"Peternak menyampaikan keluhan serapan telur menurun dari area Jabodetabek dan Bandung, karena produksi telur nasional 12.800 ton per hari. Lalu, penyerapannya 60 persen ada di daerah Jabodetabek dan Bandung," katanya kepada CNNIndonesia.com.

Kondisi ini mengakibatkan penumpukan di gudang penyimpanan telur milik peternak. Di sisi lain, gudang penyimpanan itu hanya mampu menampung telur selama 1 atau 2 hari.

Sementara itu, ia mengungkapkan stok telur milik peternak sudah berada di gudang penyimpanan telur hampir seminggu.

"Harganya itu lalu ditekan oleh pedagang, kenapa? Karena stok menumpuk kan otomatis peternak berusaha menjual, asal keluar saja pokoknya. Itu (stok telur) harus keluar karena ayam kan bertelur setiap hari," ucap Musbar.

Akibatnya, harga telur di pasar modern berada di kisaran Rp23 ribu per kg-Rp24 ribu per kg. Harga itu turun dibandingkan kondisi normal, yakni Rp27 ribu per kg-Rp28 ribu per kg.

(ulf/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK