Ekonom Ungkap Tantangan BSI Usai Merger

CNN Indonesia | Selasa, 16/02/2021 17:48 WIB
Ekonom syariah menyebut BSI memiliki sejumlah tantangan usai merger dilakukan. Salah satunya dari potensi gesekan budaya tiga bank syariah sebelum merger. Bank Syariah Indonesia memiliki sejumlah tantangan usai merger. Ilustrasi. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Ekonom Syariah Indef Fauziah Rizki Yuniarti memperkirakan hasil merger (penggabungan) bank syariah BUMNBank Syariah Indonesia (BSI) memiliki sejumlah tantangan ke depan. Tantangan tersebut berasal dari internal perusahaan maupun faktor eksternal.

Dari sisi internal, tantangan akan datang dari gesekan budaya dari tiga bank hasil merger. Pasalnya, sebelum dimerger, setiap bank pasti memiliki budaya internal masing-masing.

Ketika dimerger, budaya itu pasti akan terbawa.


"Yang penting peran pemimpin, butuh pemimpin yang tepat untuk pastikan crush cultur (gesekan budaya). Kalaupun ada, bisa diminimalisasi sehingga tidak ada pengaruh ke depan kepada produktivitas perusahaan," ujarnya dalam webinar Merger Bank Syariah: Bank Baru, Market Share Baru?, Selasa (16/2).

Selanjutnya, perseroan juga harus mengintegrasikan sistem IT dari ketiga bank, meliputi integrasi ATM, layanan mobile banking, kantor cabang, dan sebagainya. Integrasi ini bertujuan untuk menekan biaya operasional BSI ke depannya.

"Perusahaan harus putuskan apakah ATM ini efisien? Kapan harus putuskan ATM ini tutup? Kapan cabang bank ini akan ditutup dan sebagainya," ujarnya.

Selain itu, BSI dituntut untuk menghasilkan produk yang kompetitif melalui riset dan pengembangan yang tepat. Tujuannya, agar bisa bersaing dengan bank konvensional.

Kuncinya, kata Fauziah, adalah mengerti keinginan dan kebutuhan pasar.

[Gambas:Video CNN]

"Banyak pelaku sektor halal dan rill belum banyak yang pakai jasa bank syariah karena tidak sesuai dengan kebutuhan mereka. Akhirnya mereka banyak ke bank konvensional," tuturnya.

Dari sisi eksternal, tantangan juga berpotensi datang dari rendahnya literasi keuangan, khususnya keuangan syariah. Kondisi tersebut menyebabkan kepercayaan dan kesadaran konsumen pada produk syariah juga rendah.

Selain itu, ia menilai pelaku sektor keuangan syariah terlalu menetap di zona nyaman lantaran mengandalkan populasi muslim terbesar di dunia. Padahal, sebuah riset mengungkapkan posisi Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbanyak diprediksi tergantikan oleh India, Pakistan, dan Nigeria dalam 5-10 tahun mendatang.

"Kadang kita merasa karena sebagai populasi muslim terbesar jadi berada di zona nyaman, sehingga kurang inovasi. Akhirnya segini-gini saja pertumbuhannya. Memang potensinya besar tapi kita terlalu kurang motivasi untuk melakukan inovasi," ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ekonom Senior Indef Imam Sugema menilai aksi merger tiga bank BUMN syariah di tengah pandemi covid-19 bisa menjadi lompatan bagi industri keuangan syariah Indonesia. Momentum ini memanfaatkan kontraksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tidak sedalam negara tetangga.

Karenanya, ia meyakini pembentukan BSI di tengah krisis ekonomi akibat pandemi ini justru memperkuat posisi keuangan syariah Indonesia di kancah regional, maupun global.

"Jadi dari sisi komparatif dampak dari covid-19 di Indonesia ini relatif lebih ringan dibandingkan negara-negara lain. Sebetulnya inilah kesempatan melakukan positioning bagi perbankan di Indonesia untuk take off sembari melakukan berbagai penyesuaian," ucapnya.

Jebakan Market Share

BSI lahir di tengah mandeknya pertumbuhan pangsa pasar perbankan syariah dibandingkan bank konvensional. Fauziah menyebut kondisi tersebut sebagai jebakan 6 persen market share bank syariah.

"Perbankan syariah asetnya tumbuh, walaupun tumbuhnya sangat lambat. Ini yang digadang-gadang kita terjebak di 6 persen (market share). Walaupun tadinya 5 persen, tumbuh 6 persen dan 6 persen ini macet dalam beberapa tahun ke belakang, ini jebakan 6 persen," tuturnya.

Berdasarkan data yang dihimpunnya dari OJK, market share perbankan syariah per November 2020 sebesar 6,6 persen. Angka itu naik tipis dibandingkan kuartal III 2020 yakni 6,47 persen.

Sementara itu, market share perbankan syariah di kuartal II 2020 sebesar 6,4 persen dan kuartal I 2020 sebesar 6,19 persen.

Angka tersebut tidak jauh berbeda dari posisi 2019 lalu, yakni 6,14 persen di kuartal I 2019, menjadi 6,15 persen di kuartal II 2019, dan 6,14 persen di kuartal III 2019. Posisi perbankan syariah sedikit menguat di akhir 2019 menjadi 6,39 persen, lantaran konversi Bank Aceh menjadi Bank Aceh Syariah.

(ulf/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK