Aktivitas Manufaktur China Melambat, Harga Minyak Keok

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Selasa, 02/03/2021 08:01 WIB
Harga minyak dunia jatuh lebih dari 1,1 persen pada Senin (1/3), waktu AS, karena kekhwatiran investor terhadap perlambatan permintaan minyak China. Harga minyak dunia jatuh lebih dari 1,1 persen pada Senin (1/3), waktu AS, karena kekhwatiran investor terhadap perlambatan permintaan minyak China. Ilustrasi kilang minyak. (CNN Indonesia/Agus Triyono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia kembali jatuh. Pada perdagangan Senin (1/3), waktu AS, harga minyak keok lebih dari satu persen akibat kekhawatiran investor terhadap konsumsi atau permintaan minyak mentah China.

Mengutip Antara, Selasa (2/3), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei merosot 1,1 persen ke posisi US$63,69 per barel di London ICE Futures Exchange.

Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS pengiriman April rontok 1,4 persen jadi US$60,64 per barel di New York Mercantile Exchange.


Diketahui, pertumbuhan aktivitas pabrik China melambat ke level terendahnya dalam sembilan bulan terakhir pada Februari 2021. Hal ini meningkatkan kekhawatiran permintaan minyak mentah China akan melambat.

"Ada beberapa pembicaraan bahwa cadangan strategis mereka terisi, dan beberapa orang bertaruh menentang China yang terus mendorong harga minyak," terang Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group di Chicago.

Di sisi lain, investor juga khawatir bahwa Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, akan meningkatkan produksi minyak.

"Kekhawatirannya adalah hal itu pada akhirnya akan menambah sebanyak 1,5 juta barel ke pasar," kata Bob Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho.

Produksi minyak OPEC turun pada Februari karena pemangkasan sukarela oleh Arab Saudi. Akibatnya, kenaikan harga minyak yang terjadi beberapa waktu belakangan harus berakhir.

Analis ING mengatakan OPEC+ perlu menghindari pedagang yang melepaskan terlalu banyak pasokan.

"Ada sejumlah besar uang spekulatif dalam minyak saat ini, jadi mereka ingin menghindari tindakan apa pun yang akan membuat (para investor itu) keluar," ungkap para analis ING.

Dolar AS yang lebih kuat, yang biasanya bergerak berbanding terbalik dengan minyak, juga membebani harga minyak.

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,19 persen menjadi 91,0406 pada akhir perdagangan Senin (1/3/2021), setelah melonjak 0,82 persen di sesi sebelumnya.

Vaksinasi covid-19 yang meningkat memicu aktivitas ekonomi bersamaan dengan paket bantuan terkait virus corona senilai US$1,9 triliun yang disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat AS pada Sabtu (27/2/2021) menjaga harga dari penurunan terlalu jauh.

Harga minyak sempat naik di awal sesi di tengah harapan paket stimulus AS yang akan membayar vaksin dan pasokan medis, dan mengirim putaran baru bantuan keuangan darurat ke rumah tangga serta usaha kecil, yang akan berdampak langsung pada permintaan energi.

Persetujuan suntikan vaksin covid-19 Johnson & Johnson juga mendukung prospek ekonomi.

[Gambas:Video CNN]



(bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK