Faisal Basri: Rasio Pajak RI Terparah, 8 Tahun Berturut-turut

CNN Indonesia | Kamis, 04/03/2021 08:56 WIB
Faisal Basri menyebut rasio pajak RI terparah di dunia. Rasio pajak turun nyaris delapan tahun berturut-turut menjadi hanya satu digit. Faisal Basri menyebut rasio pajak RI terparah di dunia. Rasio pajak turun nyaris delapan tahun berturut-turut menjadi hanya satu digit. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Ekonom Senior Faisal Basri menyebut rasio pajak (tax ratio) RI menjadi yang terparah di dunia, turun nyaris delapan tahun berturut-turut. Bahkan, hanya tersisa satu digit.

"Tak ada satu negara pun yang mengalami penurunan rasio pajak separah Indonesia, nyaris 8 tahun berturut-turut. Hanya satu digit pula," cuitnya di akun Twitter @FaisalBasri pada Rabu (3/3).

Penurunan tercatat terjadi selama 7 tahun sejak 2013, saat itu rasio pajak turun tipis 0,1 persen dari 11,4 persen pada 2014 menjadi 11,3 persen.


Terkecuali pada 2018 yang sempat naik 0,3 persen dari 9,9 persen ke 10,2 persen. Namun, rasionya terus melandai.

Terakhir, pada 2020 akibat pandemi rasio turun signifikan sebesar 1,5 persen, yaitu dari 9,8 persen menjadi 8,3 persen.

Untuk diketahui, nisbah pajak merupakan perbandingan antara pajak diterima negara dengan produk domestik bruto (PDB). Cara menghitungnya, rasio pajak dibagi PDB dalam persen.

Artinya, rasio pajak memberikan gambaran mengenai kemampuan negara menarik pajak dari penghasil tahunan. Rendahnya nisbah pajak Indonesia menjadi indikator rendahnya kepatuhan membayar pajak masyarakat.

"Pendapatan pajak naik lebih lambat dari peningkatan PDB. Artinya, perekonomian tumbuh tetapi kian banyak yang tak terjaring pajak," jelas Faisal.

Melihat ke belakang, rasio pajak RI sempat menyentuh level tertinggi selama 20 tahun terakhir pada 2008, yakni 13,3 persen.

Sayangnya capaian tak bertahan lama dan anjlok di tahun setelahnya menjadi 11,1 persen dan pelambatan terus terjadi hingga di era pandemi covid-19.

[Gambas:Video CNN]



(wel/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK