Kredit Masih Minus, OJK Sentil Bank Swasta dan Asing

CNN Indonesia | Kamis, 25/03/2021 16:25 WIB
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat laju penyaluran kredit bank swasta minus 5 persen dan bank asing negatif 25 persen pada Januari 2021. https://www.cnnindonesia.com/tag/kartu-prakerja. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia --

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan pertumbuhan kredit pada Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) dan bank asing masih kontraksi pada Januari 2021. Sementara, bank BUMN dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) mulai tumbuh positif.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso. Ia merinci pertumbuhan kredit bank swasta tercatat minus 5 persen (yoy) pada Januari 2021. Sedangkan, penyaluran kredit di bank asing jatuh lebih dalam minus 25 persen (yoy).

Sementara itu, kredit bank pelat merah berhasil tumbuh kurang lebih 1 persen dan BPD 5,6 persen.


"Kami menaruh perhatian betul yang swasta ini, kenapa? Ini akan kami lihat secara lebih detail, bahkan debitur per debitur tentunya ini tugas OJK melihat, upaya sehingga ada jawabannya ini kenapa," ucapnya dalam acara Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional, Kamis (25/3).

Secara total, penyaluran kredit perbankan mengalami kontraksi 2,15 persen (yoy) pada Januari 2021. Menurutnya, salah satu penyebab lesunya penyaluran kredit lantaran ada penurunan permintaan kredit dari 200 debitur besar.

Pasalnya, mereka tidak membutuhkan modal kerja sebesar kondisi sebelum pandemi covid-19 sehingga permintaan kreditnya turun. Namun, Wimboh meyakini permintaan kredit debitur kelas kakap itu akan bertambah sejalan dengan perbaikan kondisi ekonomi sehingga mereka membutuhkan modal kerja baru.

Ia berharap agar kinerja kredit bisa diakselerasi untuk mendorong target pertumbuhan kredit 7,5 persen tahun ini.

[Gambas:Video CNN]

"Akan kami monitor agar kredit growth 7,5 persen ini bisa tercapai di 2021 dan kalau itu tercapai kami yakin bisa untuk mendukung pertumbuhan ekonomi 4,5 persen di akhir tahun," ucapnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga mendorong perbankan untuk menurunkan tingkat suku bunga kredit. Sebab, Bank Indonesia sudah memangkas suku bunga acuan hingga ke level 3,5 persen.

"Likuiditas bank tidak ada masalah, bank mempunyai ruang yang luas dan NPL (non performing loan) juga masih terkendali. Tinggal bagaimana ini bisa kita tunggu lebih bagus di 2021," tuturnya.

(ulf/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK