Untung dan Rugi Beli Properti dan Mobil Saat Pandemi Covid-19

CNN Indonesia | Kamis, 08/04/2021 13:44 WIB
Krisis ekonomi akibat pandemi virus corona membuat sebagian harga properti dan kendaraan bermotor turun. Berikut pertimbangan beli rumah dan mobil saat pandemi. Krisis ekonomi akibat pandemi virus corona membuat sebagian harga properti dan kendaraan bermotor turun. (ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA).
Jakarta, CNN Indonesia --

Krisis ekonomi akibat pandemi virus corona membuat sebagian harga properti seperti rumah tapak, apartemen, hingga ruko dan kendaraan bermotor, seperti mobil dan motor turun. Hal ini terjadi karena permintaan mulai berkurang seiring meningkatnya kehati-hatian masyarakat dalam melakukan pengeluaran di tengah kondisi krisis.

Tapi, harga properti dan kendaraan yang mulai turun, tentu menggoda bagi masyarakat yang tetap membutuhkan, baik untuk ditempati, digunakan, maupun investasi. Lantas, apa tepat membeli properti dan kendaraan bermotor saat krisis ekonomi akibat pandemi?

Ekonom BCA David Sumual mengatakan hal ini sejatinya tepat-tepat saja, tapi ada syaratnya. Yaitu, seseorang yang melakukan pembelian properti atau kendaraan bermotor, benar-benar bisa mengkalkulasi dan yakin akan ada pemulihan ekonomi dalam waktu yang cepat.


"Banyak yang bilang saat krisis atau ekonomi sedang melemah sebenarnya jika kita yakin pemulihan akan terjadi dan konsisten itu hal yang tepat," ujar David di acara Indonesia Macroeconomic Update 2021, Kamis (8/4).

Syarat lain adalah tetap menyesuaikan dengan profil risiko seseorang. Profil risiko ini biasanya menyesuaikan pendapatan, arus kas, dan beban pengeluaran masing-masing individu, misalnya apakah gajinya tetap atau tidak, banyak pengeluaran lain selain pembelian properti atau kendaraan di masa mendatang atau tidak, dan lainnya.

"Tergantung risk appetite masing-masing," imbuhnya.

Kendati begitu, dari sisi ekonomi makro, di mana pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bergantung pada konsumsi rumah tangga, tentu pembelian properti dan kendaraan bermotor yang merupakan barang tahan lama perlu dilakukan.

Maka dari itu tak heran bila pemerintah rela memberikan stimulus pengurangan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) bagi kendaraan bermotor. Begitu juga dengan stimulus uang muka (down payment/DP) nol persen untuk pembelian properti dari Bank Indonesia (BI).

"Maka diharapkan sektor swasta dan masyarakat bisa lebih berani konsumsi dan belanja untuk barang tahan lama, seperti properti, otomotif, elektronik, dan seterusnya," tuturnya.

Di sisi lain, David turut memperkirakan konsumsi masyarakat akan meningkat jelang lebaran pada tahun ini, meski tidak setinggi biasanya saat mudik tidak dilarang. Sebab, masyarakat kini sudah mulai terbiasa berbelanja online.

"Meski mobilitas menurun, tapi sisi transaksi ada pemulihan, dari data transaksi artinya masyarakat tetap belanja walaupun medianya berpindah ke online," tandasnya.

[Gambas:Video CNN]



(uli/age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK