Adaro Cari Pinjaman Rp5,8 T untuk Lunasi Utang Jatuh Tempo

CNN Indonesia | Senin, 19/04/2021 19:43 WIB
Adaro Energy mencari pinjaman sekitar Rp5,8 triliun untuk refinancing utang jatuh temponya pada pertengahan tahun ini. Adaro Energy mencari pinjaman sekitar Rp5,8 triliun untuk refinancing utang jatuh temponya pada pertengahan tahun ini.(CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Adaro Energy Tbk mencari pinjaman US$400 juta atau sekitar Rp5,8 triliun (kurs Rp14.526 per dolar AS) untuk refinancing utang jatuh tempo pada pertengahan tahun ini.

Presiden Direktur Adaro Energy Garibaldi (Boy) Thohir mengatakan saat ini perusahaannya tengah menjajaki pinjaman tersebut dari sindikasi bank.

"Pertengahan tahun ini ada pinjaman kami yang jatuh tempo US$400 juta. Makannya kami menjajaki ke beberapa bank untuk bisa refinance pinjaman tersebut lima tahun ke depan," ucapnya dalam Silaturahmi Ramadan Adaro, Senin (19/4).


Salah satu utang terbesar Adaro saat ini berasal dari pinjaman sindikasi bank. Plafonnya tercatat mencapai US$1 miliar dari 14 bank internasional yang diraih pada 25 Agustus 2014 yang digunakan untuk melunasi obligasi dan refinancing pinjaman sindikasi lama.

Pada 25 Agustus 2021 mendatang pinjaman tersebut akan jatuh tempo. Sementara, hingga kuartal III 2020, Adaro telah melakukan pembayaran cicilan sebesar US$108 juta.

Saldo pinjaman yang terutang dari fasilitas pinjaman tersebut kini sebesar US$448 juta atau turun dari periode akhir Desember 2019 yang sebesar US$556 juta.

Dalam kesempatan yang sama Boy juga menanggapi terkait proyeksi lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings bahwa dividen payout ratio Adaro Energy akan tetap tinggi di sekitar 55 persen.

Menurutnya, dividen payout ratio perusahaan sejak awal sudah berada di angka 40 persen dengan memperhatikan tingkat pengembalian atau return para pemegang saham.

"Setiap tahun kami konsisten membagikan dividen dan besaran kami sesuaikan dengan cash flow perusahaan. Kalau ada lebih tentu kami bagikan sebagai dividen. Kami menjaga keseimbangan investasi dan pengembalian kepada pemegang saham," ucapnya.

[Gambas:Video CNN]



(hrf/age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK