PLTU Batang Diperkirakan Beroperasi Awal 2022

CNN Indonesia | Selasa, 20/04/2021 08:29 WIB
Proses pembangunan PLTU Batang sudah lebih dari 94 persen dan diperkirakan bisa beroperasi akhir 2021 atau awal 2022. Proses pembangunan PLTU Batang sudah lebih dari 94 persen dan diperkirakan bisa beroperasi akhir 2021 atau awal 2022. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra).
Jakarta, CNN Indonesia --

Chief Financial Officer PT Adaro Energy Tbk Luckman Lie mengatakan proses pembangunan PLTU Batang, Jawa Tengah, sudah lebih dari 94 persen dan diperkirakan bisa beroperasi akhir 2021 atau awal 2022.

Jadwal tersebut molor dari rencana operasional semula yakni pada 2020.

"Banyak hal yang perlu dikejar dan kami perbaiki sana-sini dan progress sedang kejar terus kita harap akan beroperasi di akhir 2021 akhir ya, atau awal 2022 di proyek Batang," ujarnya dalam Silaturahmi Ramadan Adaro, Senin (19/4).


Lie menjelaskan nantinya Adaro akan menyuplai 5-7 juta ton batu bara untuk PLTU Batang per tahunnya. "Itu progress batang dan konsumsi batu bara yang akan disuplai Adaro," imbuhnya.

Terkait dengan pasokan listrik yang tak terserap dan potensi oversupply, ia mengaku tak khawatir sebab potensi peningkatan konsumsi listrik terbuka lebar seiring percepatan penanganan covid-19 melalui vaksinasi.

"Semakin cepat vaksinasi, pemerintah mati-matian lakukan itu, pertumbuhan perekonomian sangat diperlukan. Saya pikir setelah vaksinasi selesai pasokan listrik akan naik dengan sendirinya. Saya kira timingnya pas. Saya masih optimis ini berlangsung dengan baik," jelasnya.

Proyek PLTU Batang sendiri merupakan Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dengan investasi senilai US$4,2 miliar atau sekitar Rp58,8 triliun (asumsi kurs Rp14.000 per dolar AS).

Proyek ini dikerjakan oleh PT Bhimasena Power Indonesia (BPI), yang merupakan anak usaha PT Adaro Energy Tbk, sebagai kontraktor pelaksana.

Dalam hal ini, BPI menanggung sekitar 20 persen dari total kebutuhan investasi. Sementara itu, sisanya disediakan oleh Japan Bank for International Cooperation (JBIC) sebesar US$1,92 miliar (48 persen dari biaya investasi) dan konsorsium bank sebesar US$1,28 miliar (32 persen dari nilai investasi).

Proyek ini digadang-gadang sebagai proyek KPBU Listrik terbesar di Asia, dengan kapasitas sebesar 2 x 1.000 megawatt (MW). Proyek ini juga diklaim lebih efisien karena menggunakan teknologi ultra supercritical yang mampu menekan penggunaan bahan bakar.

[Gambas:Video CNN]



(hrf/age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK