ANALISIS

Berkah THR dan Asa Jokowi Kerek Ekonomi 7 Persen

CNN Indonesia | Rabu, 21/04/2021 07:01 WIB
Ekonom pesimistis THR bisa mengangkat ekonomi hingga 7 persen di tengah larangan mudik dan masyarakat yang masih menahan konsumsi. Ekonom pesimistis THR bisa mengangkat ekonomi hingga 7 persen di tengah larangan mudik dan masyarakat yang masih menahan konsumsi. Ilustrasi. (CNN Indonesia/ Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menaruh harap pada pertumbuhan ekonomi kuartal II 2021 sebagai titik balik perekonomian Indonesia yang terpuruk akibat pandemi covid-19. Ia pun menargetkan pertumbuhan ekonomi periode April-Juni bisa mencapai di atas 7 persen.

"Hati-hati, di kuartal II tahun ini, berarti April, Mei, Juni ini sangat menentukan sekali pertumbuhan ekonomi kita bisa melompat naik atau tidak. Kalau tidak, kuartal berikutnya kita akan betul-betul sangat berat. Kita harus bisa meningkatkan, menaikkan paling tidak di atas 7 persen di kuartal II," ujarnya dalam Rapat Koordinasi Kepala Daerah 2021, Rabu (14/4) malam.

Jokowi mengakui laju ekonomi di atas 7 persen merupakan target yang berat. Oleh sebab itu, ia meminta dukungan pada seluruh kepala daerah mulai dari tingkat provinsi, kabupaten, dan kota guna mencapai target tersebut.


Salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2021 adalah masa Ramadan, Lebaran, hingga pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) baik bagi PNS maupun pekerja swasta.

Faktor tersebut diharapkan menjadi mesin pendorong melesatnya pertumbuhan ekonomi seperti harapan Jokowi. Namun, sejumlah pengamat menilai kucuran THR kurang bertaji mendorong pertumbuhan ekonomi ke level 7 persen.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad mengatakan daya dorong THR kepada konsumsi rumah tangga tidak akan signifikan. Padahal, konsumsi rumah tangga merupakan penyumbang terbesar Produk Domestik Bruto (PDB) yakni 57,66 persen sepanjang 2020 lalu.

Pasalnya, ia memprediksi mayoritas masyarakat mengalokasikan dana THR untuk tambahan simpanan, alih-alih konsumsi saat Lebaran. Pertimbangannya, belum ada kepastian dalam perekonomian Indonesia lantaran pandemi covid-19 masih berlangsung.

"THR tidak terlalu mendorong (konsumsi) karena saya yakin sebagian besar bukan untuk untuk konsumsi tapi disimpan, karena mereka tahu dengan situasi sekarang, pandemi masih berlangsung sehingga belum ada kepastian kapan selesai," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (20/4).

Kondisi tersebut tidak terkecuali bagi PNS, TNI, dan Polri. Untuk golongan tersebut, penyebab konsumsi dari uang THR tidak maksimal adalah mereka masih menahan diri untuk belanja, mengunjungi saudara, maupun berwisata ketika Lebaran nanti karena khawatir terhadap penularan covid-19.

"Karena covid-19, konsumsi terbatas, tidak bisa mudik, wisata jauh tidak bisa, ke pusat belanja takut, karena masih relatif riskan," jelasnya.

Terlebih, pemerintah telah melarang mudik Lebaran tahun ini, sehingga pengeluaran masyarakat selama mudik Lebaran pun berkurang. Tauhid memperkirakan potensi perputaran uang yang hilang akibat larangan mudik Lebaran 2021 mencapai Rp140 triliun-Rp150 triliun, atau tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya berdasarkan data Bank Indonesia (BI).

"Apalagi, sekarang kemungkinan akan lebih ketat, belajar dari tahun lalu sudah diperbaiki (pengawasan larangan mudik) tahun ini. Selain itu, sudah banyak yang mudik duluan, sehingga jelang hari H tidak banyak tambahan uang beredar," jelasnya.

Tak ayal, ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi di kuartal II 2021 tidak mencapai 7 persen meski tumbuh positif. Selain faktor THR yang tidak mampu mengungkit konsumsi, ada tiga hal lain yang menguatkan prediksinya itu.

Pertama, daya beli masih rendah tercermin dari tingkat inflasi Maret 2021 yakni 0,08 persen secara bulanan dan 1,37 persen secara tahunan. Tren inflasi sejak awal tahun cenderung turun, yakni 0,26 persen di Januari, 0,10 persen di Februari 2021, dan kembali turun pada Maret kemarin.

Kedua, perputaran uang akan berkurang khususnya karena larangan mudik. Ketiga, pemulihan sektor riil belum banyak terjadi. Indikasinya, kata dia, permintaan kredit perbankan masih mengalami kontraksi minus 2,15 persen pada Februari yang menandakan belum ada peningkatan di sektor bisnis.

"Kalau dibandingkan kuartal II 2020 minus 5,32 persen, saya kira akan positif (di kuartal II 2021), tapi saya kurang begitu yakin sampai angka 7 persen, saya kira itu terlalu tinggi. Tetapi, kalau di bawah 5 persen relatif masih bisa tercapai karena dia akan membaik posisinya," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]



Peluang Laju Ekonomi 7 Persen

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK