Pemerintah Ramal Jagung Pipilan Kering Defisit pada April-Mei

CNN Indonesia | Selasa, 20/04/2021 23:33 WIB
Kemenko Perekonomian memperkirakan jagung pipilan kering mengalami defisit 265.349 dan 2.896 ton pada April dan Mei 2021 ini karena besarnya jumlah kebutuhan. Kemenko Perekonomian memperkirakan jagung pipilan kering mengalami defisit 265.349 dan 2.896 ton pada April dan Mei 2021. Ini karena besarnya jumlah kebutuhan. Ilustrasi. (Dok. FreeFoodPhotos.com).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan prognosa ketersediaan jagung pipilan kering untuk April dan Mei mendatang mengalami defisit sebesar masing-masing 265.349 ton dan 2.896 ton.

Asisten Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian Muhammad Syaifulloh menyebut prognosa diambil dari perkiraan produksi jagung pipilan kering kadar air 15 persen dan perkiraan kebutuhan.

Pasalnya, hasil prognosa menunjukkan produksi jagung mengalami defisit dalam dua bulan berturut-turut. Pada April, diprediksikan produksi sebesar 1.450.037 ton sementara kebutuhan sebesar 1.715.386.


Untuk Mei produksi sebesar 1.415.480 ton, lebih kecil dari konsumsi sebesar 1.418.376 ton.

"Kalau lihat prognosa ketersediaan dan kebutuhan jagung pipilan kering Januari-Mei 2021, pada April-Mei itu sudah ada warning yaitu minus 265.349 ton di April dan Mei minus 2.896 ton," katanya pada webinar Pataka bertajuk Harga Jagung Melambung, Selasa (20/4).

Dia menyebut salah satu faktor pemicu rendahnya produksi adalah kebiasaan petani dalam menggonta-ganti komoditas tanaman saat harga sedang jatuh.

Selain itu, masalah juga dipicu angka kehilangan atau tercecer yang tinggi. Misalnya pada April 2021, dari total produksi sebesar 1,45 juta ton, jagung pipilan kering yang tercecer sebesar 103.823 atau sekitar 7,16 persen.

[Gambas:Video CNN]

"Ini jadi PR kami bagaimana edukasi atitude petani/nelayan untuk konsisten sehingga tak mudah ganti dari jagung ditanami jadi padi dan sebagainya. Itu menjadikan sirkulasi harga tak sesuai ekspektasi kita," jelasnya.

Pada kesempatan sama, Kepala Subdirektorat Mutu dan Standardisasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Muhammad Gazali mengatakan manajemen stok menjadi kunci stabilisasi ketersediaan.

Pasalnya, sepanjang tahun, periode Januari-April merupakan puncak produksi atau sekitar 45 persen dari total produksi tahunan.

Atas dasar itulah lanjutnya, perlu dilakukan pengembangan sentra produksi jagung.

Tak menampik adanya defisit dalam dua bulan ini, ia menyebut pada Mei mendatang produksi jagung pipilan kering akan digenjot.

"Diasumsikan bahwa akan ada kekurangan pada April-Mei. Kalau prognosa ketersediaan pada April-Mei itu masih estimasi. Sehingga, kondisi minus ini, mudah-mudahan bisa dikejar produksi untuk kondisi ini," katanya.

Untuk tahun ini, Kementan menargetkan produksi jagung mencapai 22,5 juta ton guna mencukupi kebutuhan industri pakan unggas dalam negeri.

(wel/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK