Sri Mulyani Klaim Wanita Bisa Dorong Ekonomi Sampai US$12 T

CNN Indonesia | Rabu, 21/04/2021 18:14 WIB
Menkeu Sri Mulyani menyatakan perempuan bisa mendorong kenaikan ekonomi global hingga US$12 triliun atau Rp1.743 triliun pada 2025 mendatang. Sri Mulyani menyatakan perempuan bisa mendorong kenaikan ekonomi global hingga US$12 triliun atau Rp1.743 triliun pada 2025 mendatang. (ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan perempuan mempunyai peran penting bagi perekonomian domestik maupun global. Apabila perempuan diberikan kesempatan yang sama dalam perekonomian, maka bisa mendorong kenaikan ekonomi global hingga US$12 triliun pada 2025 atau Rp1.743 triliun (kurs Rp14.530 per dolar AS).

"Secara global apabila ekonomi memberikan peranan yang sama atau kesempatan yang sama untuk perempuan dalam berkontribusi, maka perekonomian global bisa meningkat US$12 triliun lebih besar di 2025," ujarnya dalam acara Woman in Tax: Peran Perempuan dalam Perpajakan Indonesia, Selasa (21/4).

Sementara itu, secara total potensi perempuan dalam perekonomian mencapai US$28 triliun, asal diberikan kesempatan yang setara. Angka itu mewakili 26 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dunia.


"Apabila perempuan diberikan kesempatan yang sama dalam perekonomian, dalam melakukan pekerjaan produktif, maka perekonomian akan mendapatkan dampak positif, size perekonomian juga bisa meningkat," ucapnya.

Ani, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa studi tersebut telah dilakukan oleh sejumlah lembaga internasional. Meliputi, Bank Dunia, McKinsey, dan World Economic Forum (WEF).

Namun faktanya, kata Ani, jabatan tinggi dalam sebuah organisasi kerap diisi oleh laki-laki ketimbang perempuan. Meskipun, baik perempuan maupun laki-laki itu memiliki kemampuan yang sama.

Bendahara negara menduga, kondisi ini disebabkan oleh beban dan tanggung jawab perempuan lebih besar yang tidak terbatas pada pekerjaan di kantor. Tugas besar itu khususnya, tanggung jawab kepada keluarga.

"Ada hal yang harus diselidiki, apakah ini penyebabnya policy (kebijakan) tidak sama untuk maju, atau perempuan cenderung slow down saat menghadapi masalah alamiah yang harus mereka hadapi seperti hamil dan punya anak," jelasnya.

[Gambas:Video CNN]



(ulf/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK