Keringanan Cicilan Kredit Turun pada Maret 2021

CNN Indonesia | Kamis, 06/05/2021 15:53 WIB
OJK mencatat tren penurunan restrukturisasi atau keringanan cicilan kredit perbankan pada Maret 2021 dibandingkan akhir 2020. OJK mencatat tren penurunan restrukturisasi atau keringanan cicilan kredit perbankan pada Maret 2021 dibandingkan akhir 2020.(CNN Indonesia/ Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia --

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat tren penurunan restrukturisasi atau keringanan cicilan kredit perbankan pada Maret 2021 dibandingkan akhir 2020.

Berdasarkan catatan OJK, jumlah restrukturisasi perbankan mencapai Rp808 triliun pada akhir Maret atau turun 16,7 persen dari Rp971 triliun pada Desember 2020. Pada tahun lalu OJK mencatat restrukturisasi diberikan kepada 7,6 juta debitur, angka itu turun dari akhir Maret lalu sebanyak 5,54 juta debitur.

Rinciannya, dari 5,54 juta debitur, sebanyak 3,89 juta di antaranya merupakan pelaku UMKM dan 1,64 juta lainnya adalah non-UMKM.


"Outstanding restrukturisasi kredit dan jumlah debitur restrukturisasi perbankan akibat pandemi covid-19 per Maret 2021 menunjukkan tren menurun dibandingkan Desember 2020," jelas Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso lewat rilis, Kamis (6/5).

Wimboh menyebut pihaknya terus melakukan asesmen keberhasilan proses restrukturisasi lembaga jasa keuangan, termasuk memperhitungkan kecukupan mitigasi dalam menjaga stabilisasi sistem keuangan.

Sementara, untuk akhir tahun lalu, Wimboh merinci jumlah restrukturisasi kredit untuk sektor UMKM mencapai Rp386,6 triliun dengan jumlah 5,8 juta debitur. Sementara untuk non-UMKM, realisasi restrukturisasi kredit mencapai sebesar Rp584,4 triliun dengan 1,8 juta debitur.

Seperti diketahui, sejak pandemi melanda, OJK menetapkan kebijakan relaksasi pinjaman lewat POJK No.11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease.

OJK memperpanjang restrukturisasi hingga Maret 2022 mendatang sebagai langkah antisipasi untuk menyangga terjadinya penurunan kualitas debitur restrukturisasi.

"Namun kebijakan perpanjangan restrukturisasi diberikan secara selektif berdasarkan asesmen bank untuk menghindari moral hazard agar debitur tetap mau dan mampu melakukan kegiatan ekonomi dengan beradaptasi di tengah masa pandemi ini," ujar Wimboh beberapa waktu lalu.

[Gambas:Video CNN]



(wel/age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK