Kandas, Angan Pekerja Hotel Layani Tamu di Hari Lebaran

Ulfa Arieza, CNN Indonesia | Rabu, 12/05/2021 11:00 WIB
Kesibukan di lobi hotel menjadi pemandangan nyata saat musim libur Lebaran tiba. Namun, gambaran tersebut kini tinggal angan belaka. Lebaran kali ini, sebagian besar hotel tak lagi hiruk pikuk seperti biasanya. Ilustrasi hotel. (Istockphoto/DragonImages).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kesibukan di lobi hotel menjadi pemandangan nyata saat musim libur Lebaran tiba. Tamu-tamu silih berganti berdatangan, sementara para pegawai menyambut mereka dengan senyum hangat.

Sayangnya, cerita hiruk pikuk tamu di hotel itu tidak terjadi pada musim Lebaran tahun ini. Retni, seorang pegawai hotel di Kota Yogyakarta sudah memupuk mimpi menyambut kedatangan para tamu pada momentum Idulfitri 2021.

Maklum saja, tahun lalu pengunjung sepi saat Lebaran karena pandemi covid-19. Bahkan, tempatnya mencari nafkah sempat tutup selama delapan bulan.


Ketika aktivitas masyarakat pulih perlahan, manajemen kembali membuka layanan hotel. Meski tak langsung ramai, namun tingkat hunian (okupansi) hotel mencapai 40 persen.

Secercah harapan pun muncul di hati para pegawai, agar momentum Idulfitri 2021 ini menjadi titik balik kedatangan pengunjung. Namun, mereka terpaksa gigit jari lantaran pemerintah kembali melarang mudik Lebaran. Pupus sudah mimpi itu.

"Setelah pelarangan mudik okupansi nol persen. Ini adalah sejarah okupansi terburuk selama saya sepuluh tahun di perhotelan," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (11/5).

Ia juga pasrah ketika manajemen memutuskan untuk memangkas Tunjangan Hari Raya (THR) Lebaran. Pekerja pun terpaksa maklum sebab kondisi hotel memang sepi pengunjung.

Bahkan, manajemen hotel telah memangkas gaji mereka sejak dampak pandemi covid-19 membuat sektor perhotelan mati suri. Namun, Retni enggan mengungkapkan besaran potongan THR dan gaji tersebut.

"Kalau potongan gaji dari awal pandemi sekitar April 2020," ujarnya.

Menghadapi kondisi itu, Retni harus berpikir keras agar bisa bertahan hidup. Ibu satu anak ini pun berjualan online untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga selagi gajinya dipangkas. Ia juga harus mengencangkan ikat pinggang dalam pengeluaran sehari-hari.

"Tidak mungkin bertahan hidup dalam kondisi seperti sekarang tanpa ada penghasilan tambahan," ucapnya.

Nasib serupa dialami oleh mayoritas pekerja hotel di Kota Gudeg. Maklum saja, sektor pariwisata menjadi tumpuan perekonomian Yogyakarta.

Ia mengatakan banyak hotel dan restoran yang tutup atau dijual karena tidak mampu bertahan di tengah gempuran pandemi covid-19. Imbasnya, banyak pekerja hotel dan restoran yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau dirumahkan.

Uluran tangan pemerintah menjadi satunya harapan agar bisnis hotel dan restoran tidak gulung tikar. Ia mengatakan hotel dan restoran membutuhkan stimulus seperti keringanan tarif listrik, tarif pajak, dan sebagainya.

"Kami di usaha perhotelan saat ini hanya menunggu mukjizat tamu dari staycation, tapi juga masih belum tahu apakah akan ada atau tidak," ujarnya.

Okupansi Hotel Hanya 10 Persen

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK