Larangan Mudik, Pengawasan Mal Bandung Diperketat

CNN Indonesia | Kamis, 13/05/2021 05:40 WIB
Pemkot Bandung meningkatkan pengawasan di mal dan pusat perbelanjaan untuk mengantisipasi kunjungan yang terus meningkat saat periode larangan mudik lebaran. Pemkot Bandung meningkatkan pengawasan di mal dan pusat perbelanjaan untuk mengantisipasi kunjungan yang terus meningkat saat periode larangan mudik lebaran.Ilustrasi. (CNN Indonesia/Huyogo).
Bandung, CNN Indonesia --

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung meningkatkan pengawasan di mal dan pusat perbelanjaan untuk mengantisipasi aktivitas kunjungan yang terus meningkat saat periode larangan mudik lebaran.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung Elly Wasliah memastikan akan menambah petugas untuk mengawasi mal dan pusat perbelanjaan hingga H+3 Idulfitri 1442 Hijriah.

"Kami terjunkan semua petugas yang ada yaitu 72 orang petugas di beberapa mal yang potensi kunjungan tinggi. Kami harus waspada sampai setelah lebaran. Apalagi warga Kota Bandung tidak boleh mudik, artinya sebagian besar ada di Kota Bandung," kata Elly dalam keterangannya, Rabu (12/5).


Selain itu, Disdagin juga sudah menggandeng Dinas Kesehatan (Dinkes) untuk ikut menerjunkan petugasnya ke lapangan.

"Mulai hari Selasa, ada tenaga kesehatan yang siaga di 9 mal dan 1 ritel," ujarnya.

Menurut Elly, para pengelola 23 mal dan ritel yang diwakili oleh Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) DPD Jawa Barat sudah mendapatkan peringatan keras saat dipanggil dalam rapat koordinasi di Mapolrestabes Bandung pada 3 Mei 2021 lalu.

Dalam kesempatan yang sama, lanjut Elly, para pengelola mal dan ritel ini juga sepakat, ketika ditemukan pelanggaran terhadap aturan selama penanganan covid-19 maka tempatnya akan ditutup.

"Tapi setelah itu, sudah tidak ada peringatan. Maka kami akan eksekusi kalau ada pelanggaran. Kalau ada pelanggaran baik itu prokes, kapasitas pengunjung, atau jam operasional, kami tidak segan akan merekomendasikan ditutup atau disegel selama 14 hari dan denda Rp500 ribu," ujarnya.

Elly menyampaikan bahwa mal dan ritel yang memiliki kunjungan tinggi, mampu menerapkan aturan sesuai standar protokol kesehatan. Namun, sebagai konsekuensinya terjadi kepadatan di pintu masuk lantaran pengelola membatasi jumlah kunjungan hanya 50 persen dari kapasitas.

Untuk itu, Elly juga terus berkoordinasi bersama Satgas Penanganan Covid-19 Kota Bandung untuk mengimbau agar pengunjung tidak berkerumun saat menunggu giliran memasuki mal atau ritel.

"Itu justru manajemen ritel dan mal menerapkan kapasitas pengunjung 50 persen. Setelah semua pintu akses ditutup maka terdapat antrean pengunjung. Itu konsekuensi dari ditutupnya karena kapasitas 50 persen," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Hukum dan Hubungan Antar Lembaga pada Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD Jawa Barat, Rully menyatakan, 23 mal di Kota Bandung siap mengikuti aturan termasuk dengan konsekuensi yang ditempuh apabila terjadi pelanggaran.

Di samping kesiapan berkomitmen, Rully juga meminta kepada masyarakat agar memahami kondisi dan situasi terkini di lapangan. Yakni perihal adanya penyesuaian prosedur di mal dan ritel terkait protokol kesehatan.

"Kami berkomitmen 100 persen dengan peraturan pemerintah kota. Kita siap bekerja sama, berkonsultasi dan mohon bimbingan. Tapi tidak hanya di bulan Ramadan saja, bagaimana ini tidak terjadi di tahun berikutnya? Masyarakat dalam hal ini juga perlu diedukasi," kata Rully.

Menurut Rully, masyarakat memang menjadi pihak yang harus dilayani secara optimal oleh mal ataupun ritel. Namun pengelola juga memerlukan bantuan dalam rangka penyebaran informasi terkait penyesuaian ini mengingat pengunjung yang datang bukan hanya masyarakat Kota Bandung saja.

"Kemarin yang terjadi itu menurut pengecekan pendatang tidak hanya Kota Bandung tapi dari sekitar Bandung raya. Karena ini merupakan pola yang sudah terjadi sejak dulu selama berpuluh-puluh tahun," ungkapnya.

[Gambas:Video CNN]



(hyg/age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK