IFG Yakin Industri Asuransi Masih Menjanjikan Meski Pandemi

IFG | CNN Indonesia
Senin, 31 Mei 2021 11:32 WIB
Indonesia Financial Group (IFG) optimis potensi pertumbuhan industri asuransi di Indonesia masih besar meski terdampak langsung pandemi Covid-19. Indonesia Financial Group (IFG) optimis potensi pertumbuhan industri asuransi di Indonesia masih besar meski terdampak langsung pandemi Covid-19. (IFG).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kendati terdampak langsung oleh pandemi Covid-19, industri asuransi di Indonesia berhasil bertahan. Indonesia Financial Group (IFG) sebagai BUMN holding perasuransian, penjaminan dan investasi meyakini industri asuransi masih memiliki prospek menjanjikan seiring upaya pemulihan ekonomi nasional dan global di 2021, salah satunya lewat kegiatan vaksinasi Covid-19.

Industri Asuransi merupakan salah satu sektor finansial yang terdampak langsung karena pandemi Covid-19. Pandemi global ini memicu resesi ekonomi dunia selama 2020 yang merupakan resesi terburuk sejak era 1930-an.

Berbagai kebijakan strategis yang diambil sebagai langkah pencegahan penularan pandemi seperti lock-down dan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) berdampak langsung pada banyak sektor karena memangkas efektivitas stimulus fiskal maupun moneter.

Berdasarkan data International Association of Insurance Supervisors, nilai aset perusahaan asuransi, baik dalam bentuk saham dan obligasi sempat mengalami penurunan dan baru menunjukkan perbaikan kinerja di Q4-2020, terutama sejak ditemukannya vaksin Covid-19. Selain itu, perbaikan
kinerja pasar finansial didukung oleh beragam stimulus moneter maupun fiskal yang dilakukan lembaga keuangan global maupun nasional demi menjaga likuiditas dan memperkecil dampak krisis.

Meskipun terdampak langsung, Komisaris Utama IFG Fauzi Ichsan optimis potensi pertumbuhan industri asuransi di Indonesia masih besar. Apalagi dalam tempo 20 tahun, aset industri asuransi sebagai persentase dari PDB naik dari 2 persen ke kisaran 5 persen.

"Yang harus diperhatikan adalah jumlah aset di perusahaan bergantung dengan kualitas aset dan besarnya klaim/provisi yang bisa menggerus modal. Walaupun potensi pertumbuhan industri asuransi besar namun membutuhkan tambahan modal, konsolidasi dan SDM spesialis asuransi" tutur Fauzi.

Saat ini industri asuransi Indonesia sendiri masih di dominasi oleh asuransi jiwa. Dikutip dari OJK, industri asuransi jiwa 3 kali lebih besar jika dibandingkan asuransi umum lainnya. Selama tahun 2015- 2019 sendiri, penerimaan premi bruto asuransi jiwa rata-rata tumbuh 6,3 persen per tahun, sementara non-jiwa tumbuh 6,1 persen.

Di sisi lain, Fauzi menganggap sektor asuransi umum atau non-jiwa masih memiliki prospek untuk bertumbuh namun bergantung pada aktivitas ekonomi masyarakat. Lebih dari 90 persen premi dihasilkan oleh lini bisnis asuransi kendaraan bermotor, kredit bank, properti dan kesehatan/kecelakaan.

Untuk menjamin keberlangsungan industri ekonomi nasional pelaku industri harus pandai memilah tantangan yang datang dan mampu mengelompokkan sebagai tantangan sebelum pandemi atau yang diakibatkan oleh pandemi.

IFG merangkum, setidaknya terdapat 5 tantangan industri asuransi yang disebabkan oleh pandemi seperti penurunan tajam nilai saham, obligasi dan properti yang dimiliki perusahaan asuransi sehingga menyebabkan mark-to-market loss, kenaikan klaim asuransi jiwa maupun non jiwa, penurunan kebutuhan produk dan penerimaan premi, kebijakan suku bunga rendah yang memperkecil hasil investasi perusahaan asuransi dan turunnya kebutuhan asuransi akibat kebijakan WFH.

Fauzi memperkirakan di tahun 2022, industri asuransi akan mengalami "new normal". "Dimana kita harus melihat krisis sebagai katalis transformasi industri asuransi dalam masa pemulihan ekonomi setelah pandemi," ujarnya.

Ke depannya, kata Fauzi, banyak hal yang harus ditingkatkan seperti akselerasi IT platform, pengembangan kapasitas akturial untuk meningkatkan kualitas SDM, pembenahan neraca industri asuransi melalui koreksi jumlah dan estimasi beban klaim serta menaikan provisi walau menggerus modal. Kewmudian perlu juga dibuat regulasi dan implementasi yang berkaitan dengan provisi beban klaim asuransi, dan diperketatnya modal minimum.

"Dengan penguatan industri asuransi, keseimbangan antara perbankan, pasar modal dan IKNB bisa dicapai dalam mendukung pertumbuhan ekonomi," ujar Fauzi.

(osc/osc)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER