GRP Raih Laba Bersih US$7,40 Juta di Triwulan I 2021

Gunung Raja Paksi, CNN Indonesia | Kamis, 10/06/2021 11:19 WIB
Capaian itu membuat PT Gunung Raja Paksi optimis dapat memenuhi target laba bersih yang diproyeksikan untuk 2021, usai merugi US$8,9 juta pada tahun sebelumnya. PT Gunung Raja Paksi (GRP) tetap mencatatkan kinerja positif di tengah pandemi. Pada triwulan pertama 2021, GRP mencetak laba bersih hingga US$7,40 juta. (Foto: dok. Gunung Raja Paksi)
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Gunung Raja Paksi (GRP) tetap mencatatkan kinerja positif di tengah pandemi. Pada triwulan pertama 2021, GRP mencetak laba bersih hingga US$7,40 juta.

Chief Financial Officer GRP Budi Raharjo menyebut capaian itu membuat perusahaan optimis dapat mencapai target 2021. Menurutnya, hal tersebut sesuai dengan target laba bersih yang meningkat pada tahun fiskal 2021.

Jika pada tahun fiskal 2020, perusahaan mengalami rugi bersih US$8,9 juta, maka untuk tahun fiskal 2021, laba bersih yang diproyeksikan lebih dari US$20 juta.


"Meski proyeksi penjualan pada tahun fiskal 2021 akan mirip dengan penjualan pada tahun fiskal 2020, tetapi perseroan menargetkan peningkatan laba bersih. Dan kami bersyukur, tanda-tanda pemenuhan target sudah terlihat pada triwulan pertama ini," kata Budi.

Dia menjelaskan, kinerja positif GRP itu juga didukung oleh pasar domestik yang mulai kembali pulih, kondisi yang turut membangkitkan sektor infrastruktur dan manufaktur sebagai bagian industri konsumen produk baja.

Untuk mendukung kinerja, lanjut Budi, perusahaan juga akan terus mengembangkan penjualan di mancanegara. Selama ini, beberapa negara yang telah menjadi pasar ekspor GRP antara lain Kanada, Malaysia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat.

"Untuk ekspor, target kami setidaknya sama seperti tahun lalu, yaitu sekitar 5 persen dari total penjualan bersih perusahaan," katanya.

Budi menambahkan, pada 2021 GRP memiliki belanja modal sebesar US$60 juta. Dana tersebut akan digunakan untuk meningkatkan fasilitas produksi Light Section Mill (LSM) and Medium Section Mill (MSM).

"Dan hingga saat ini, progres penyerapan Capex sudah mencapai sekitar 30 persen. Proyek LSM sudah tahap final pengiriman parts dari luar negeri, sedangkan proyek MSM dalam tahap final negosiasi dengan equipment vendor, yang akan dilanjutkan dengan tahap awal negosiasi dengan financier," ujar Budi.

(rea)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK