Presiden ke-6 RI SBY mengklaim pengangguran dan kemiskinan berkurang secara drastis di masa akhir kepemimpinannya.(ANTARA FOTO/ASPRILLA DWI ADHA).
Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengklaim pengangguran dan kemiskinan berkurang secara drastis di masa akhir kepemimpinannya sebagai orang nomor satu di Indonesia. Ia mengatakan penurunan itu efek dari kebijakan-kebijakan ekonomi yang diterapkan selama menjabat.
"Alhamdulillah sejarah membuktikan kalau dulu setelah selesai memimpin, pengangguran kita drop, kemiskinan kita drop segera signifikan dan pertumbuhan meningkat dengan baik," ucap SBY saat sidang promosi doktor anak keduanya Edhie Baskoro Yudhoyono yang berkuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB), Kamis (10/6).
Lantas, apakah betul angka pengangguran dan kemiskinan selama kepemimpinan SBY turun drastis? Untuk mengetahui hal tersebut, CNNIndonesia.com merangkum data jumlah pengangguran dan kemiskinan dari Badan Pusat Statistik (BPS)selama kepemimpinan SBY selama dua periode yakni sejak 2004 hingga 2014 lalu.
BPS mencatat angka pengangguran selama kepemimpinan SBY berada di rentang 7,14 juta orang hingga 11,89 juta orang. Tren pengangguran selama masa kepemimpinan SBY memang turun, namun masih dalam kisaran angka tersebut.
Pada awal kepemimpinannya, angka pengangguran sebanyak 10,25 juta orang di 2014. Setelah 2004, BPS merilis angka pengangguran sebanyak dua kali dalam setahun.
Pada Februari 2005 jumlah pengangguran bertambah menjadi 10,85 juta orang dan 11,89 juta orang pada November 2005. Ini merupakan angka pengangguran tertinggi di masa kepemimpinan SBY.
Pada 2006, jumlah pengangguran mencapai 11,10 juta orang di Februari dan 10,93 juta orang di Agustus. Jumlah pengangguran belum banyak berubah di 2007, yakni 11,10 juta orang pada Februari dan 10,93 juta orang di Agustus 2007.
Pada 2008, jumlah pengangguran bisa ditekan di bawah 10 juta. Detailnya, 9,42 juta orang pada Februari 2008 dan 9,39 juta orang di Agustus 2008.
Jumlah pengangguran pada periode kedua kepemimpinan SBY lebih baik, yakni bisa dipertahankan di bawah 10 juta orang.
Detailnya, 9,25 juta orang di Februari 2009 dan 8,96 juta orang pada Agustus 2009. Pada 2010, angkanya tidak banyak berubah yakni 8,59 juta orang di Februari dan 8,31 juta orang di Agustus 2010.
Selanjutnya, jumlah pengangguran pada Februari 2011 sejumlah 8,37 juta orang dan pada Agustus 2011 sebanyak 8,68 juta orang.
Memasuki 2012, jumlah pengangguran bisa ditekan menjadi 7 jutaan orang. Rinciannya, 7,75 juta orang di Februari 2012 dan 7,34 juta orang di Agustus 2012. Kemudian, 7,24 juta orang pada Februari 2013 dan 7,41 juta orang pada Agustus 2013.
Pada akhir kepemimpinan SBY, jumlah pengangguran mencapai level terendah yakni 7,14 juta orang pada 2014. Namun, bertambah menjadi 7,24 juta orang di Agustus 2014.
Apabila dibandingkan era kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi), angka pengangguran selama periode kepemimpinan Jokowi berada di kisaran 7 jutaan orang setiap tahunnya. Dengan demikian, jumlah pengangguran masa kepemimpinan Jokowi lebih rendah dibandingkan era SBY.
Jumlah pengangguran masa pemerintahan Jokowi mencapai level terendah pada Februari 2019 yakni 6,89 juta orang. Namun setelah itu naik menjadi 7,1 juta orang di Agustus 2019 dan tembus 9,76 juta orang pada Agustus 2020.
Kenaikan jumlah pengangguran tersebut disebabkan pandemi covid-19 yang menekan banyak sektor sehingga perusahaan terpaksa memangkas jumlah pekerja. Namun, data BPS terakhir mengungkapkan jumlah pengangguran berkurang menjadi 8,74 juta orang pada Februari 2021 lalu.
Sementara itu, jumlah penduduk miskin pada era SBY berada di rentang 27,73 juta hingga 39,30 juta. Sedangkan, tingkat kemiskinan di kisaran 10,96 persen-17,75 persen.
Selama kepemimpinan SBY, tingkat kemiskinan juga berkurang, namun masih dalam rentang tersebut. Rinciannya, penduduk miskin pada 2004 mencapai 36,15 juta orang dengan tingkat kemiskinan sebesar 16,66 persen.
Lalu, berkurang di 2005 menjadi 35,10 juta orang penduduk miskin. Dengan jumlah itu, tingkat kemiskinan ikut berkurang menjadi 15,97 persen.
Sayangnya, jumlah penduduk miskin meningkat di 2006 menjadi 39,30 juta orang, yang merupakan jumlah kemiskinan tertinggi selama kepemimpinan SBY. Dengan jumlah itu, maka tingkat kemiskinan menyentuh 17,75 persen.
Angka penduduk miskin berhasil dikurangi menjadi 37,17 juta orang di 2007, dengan tingkat kemiskinan sebesar 16,58 persen. Lalu, pemerintahan SBY berhasil kembali mengurangi jumlah penduduk miskin di 2008 menjadi 34,96 juta orang, dengan tingkat kemiskinan sebesar 15,42 persen.
Pada 2009 jumlah penduduk miskin tercatat sebanyak 32,53 juta orang dengan tingkat kemiskinan sebesar 14,15 persen. Lalu, di 2010 turun menjadi 31,02 juta orang dengan tingkat kemiskinan sebesar 13,33 persen.
Mulai 2011, BPS merilis data penduduk miskin sebanyak dua kali dalam setahun. Pada tahun ini pula, pemerintahan SBY berhasil menekan angka kemiskinan di bawah 30 jutaan orang.
Pada Maret 2011 jumlah penduduk miskin masih bertengger di angka 30,02 juta orang dengan tingkat kemiskinan sebesar 12,49 persen. Namun, pada September 2011 berkurang menjadi 29,89 juta orang dengan tingkat kemiskinan sebesar 12,36 persen.
Kemudian, pada Maret 2012 jumlah penduduk miskin tercatat sebanyak 29,13 juta orang dengan tingkat kemiskinan sebesar 11,96 persen dan September 2012 sebanyak 28,59 juta orang dengan tingkat kemiskinan sebesar 11,66 persen.
Pada 2013, jumlah penduduk miskin kembali berkurang menjadi 28,07 juta orang di Maret 2013, dengan tingkat kemiskinan sebesar 11,37 persen. Namun, kembali naik mencapai 28,55 juta orang di September 2013 dengan tingkat kemiskinan sebesar 11,47 persen.
Pada akhir kepemimpinan SBY, jumlah penduduk miskin bisa ditekan menjadi 28,28 juta orang di Maret 2014, dengan tingkat kemiskinan sebesar 11,25 persen. Lalu, pada September 2014 jumlah penduduk miskin berkurang menjadi 27,73 juta orang, dengan tingkat kemiskinan sebesar 10,96 persen. Angka ini merupakan jumlah penduduk miskin paling rendah pada masa kepemimpinan SBY.
Serupa, pada masa kepemimpinan Jokowi tingkat kemiskinan juga cenderung menurun. Bahkan, pada masa pemerintahan Jokowi diklaim untuk pertama kalinya tingkat kemiskinan mencapai satu digit yakni pada Maret 2018. Saat itu, jumlah penduduk miskin mencapai 26 juta dengan tingkat kemiskinan 9,82 persen.
"Alhamdulillah untuk pertama kalinya angka kemiskinan turun di bawah 10 persen. Hanya satu digit angka kemiskinan, yang terendah dalam sejarah Indonesia," kata Jokowi pada 2018 lalu.
Jumlah penduduk miskin pada era Jokowi berada di kisaran 24,79 juta orang hingga tertinggi 28,6 juta orang pada Maret 2015.
Sayangnya, setelah berhasil menekan tingkat kemiskinan ke satu digit, pandemi covid-19 kembali mengerek jumlah penduduk miskin. Pada September 2020, tingkat kemiskinan kembali ke dua digit sebesar 10,19 persen, dengan jumlah penduduk miskin mencapai 27,55 juta orang.
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengklaim pengangguran dan kemiskinan berkurang secara drastis di masa akhir kepemimpinannya sebagai orang nomor satu di Indonesia. Ia mengatakan penurunan itu efek dari kebijakan-kebijakan ekonomi yang diterapkan selama menjabat.
"Alhamdulillah sejarah membuktikan kalau dulu setelah selesai memimpin, pengangguran kita drop, kemiskinan kita drop segera signifikan dan pertumbuhan meningkat dengan baik," ucap SBY saat sidang promosi doktor anak keduanya Edhie Baskoro Yudhoyono yang berkuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB), Kamis (10/6).
Lantas, apakah betul angka pengangguran dan kemiskinan selama kepemimpinan SBY turun drastis? Untuk mengetahui hal tersebut, CNNIndonesia.com merangkum data jumlah pengangguran dan kemiskinan dari Badan Pusat Statistik (BPS)selama kepemimpinan SBY selama dua periode yakni sejak 2004 hingga 2014 lalu.
BPS mencatat angka pengangguran selama kepemimpinan SBY berada di rentang 7,14 juta orang hingga 11,89 juta orang. Tren pengangguran selama masa kepemimpinan SBY memang turun, namun masih dalam kisaran angka tersebut.
Pada awal kepemimpinannya, angka pengangguran sebanyak 10,25 juta orang di 2014. Setelah 2004, BPS merilis angka pengangguran sebanyak dua kali dalam setahun.
Pada Februari 2005 jumlah pengangguran bertambah menjadi 10,85 juta orang dan 11,89 juta orang pada November 2005. Ini merupakan angka pengangguran tertinggi di masa kepemimpinan SBY.
Pada 2006, jumlah pengangguran mencapai 11,10 juta orang di Februari dan 10,93 juta orang di Agustus. Jumlah pengangguran belum banyak berubah di 2007, yakni 11,10 juta orang pada Februari dan 10,93 juta orang di Agustus 2007.
Pada 2008, jumlah pengangguran bisa ditekan di bawah 10 juta. Detailnya, 9,42 juta orang pada Februari 2008 dan 9,39 juta orang di Agustus 2008.
Jumlah pengangguran pada periode kedua kepemimpinan SBY lebih baik, yakni bisa dipertahankan di bawah 10 juta orang.
Detailnya, 9,25 juta orang di Februari 2009 dan 8,96 juta orang pada Agustus 2009. Pada 2010, angkanya tidak banyak berubah yakni 8,59 juta orang di Februari dan 8,31 juta orang di Agustus 2010.
Selanjutnya, jumlah pengangguran pada Februari 2011 sejumlah 8,37 juta orang dan pada Agustus 2011 sebanyak 8,68 juta orang.
Memasuki 2012, jumlah pengangguran bisa ditekan menjadi 7 jutaan orang. Rinciannya, 7,75 juta orang di Februari 2012 dan 7,34 juta orang di Agustus 2012. Kemudian, 7,24 juta orang pada Februari 2013 dan 7,41 juta orang pada Agustus 2013.
Pada akhir kepemimpinan SBY, jumlah pengangguran mencapai level terendah yakni 7,14 juta orang pada 2014. Namun, bertambah menjadi 7,24 juta orang di Agustus 2014.
Apabila dibandingkan era kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi), angka pengangguran selama periode kepemimpinan Jokowi berada di kisaran 7 jutaan orang setiap tahunnya. Dengan demikian, jumlah pengangguran masa kepemimpinan Jokowi lebih rendah dibandingkan era SBY.
Jumlah pengangguran masa pemerintahan Jokowi mencapai level terendah pada Februari 2019 yakni 6,89 juta orang. Namun setelah itu naik menjadi 7,1 juta orang di Agustus 2019 dan tembus 9,76 juta orang pada Agustus 2020.
Kenaikan jumlah pengangguran tersebut disebabkan pandemi covid-19 yang menekan banyak sektor sehingga perusahaan terpaksa memangkas jumlah pekerja. Namun, data BPS terakhir mengungkapkan jumlah pengangguran berkurang menjadi 8,74 juta orang pada Februari 2021 lalu.
Kemiskinan Era SBY
Presiden ke-6 RI SBY mengklaim pengangguran dan kemiskinan berkurang secara drastis di masa akhir kepemimpinannya. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar).
Sementara itu, jumlah penduduk miskin pada era SBY berada di rentang 27,73 juta hingga 39,30 juta. Sedangkan, tingkat kemiskinan di kisaran 10,96 persen-17,75 persen.
Selama kepemimpinan SBY, tingkat kemiskinan juga berkurang, namun masih dalam rentang tersebut. Rinciannya, penduduk miskin pada 2004 mencapai 36,15 juta orang dengan tingkat kemiskinan sebesar 16,66 persen.
Lalu, berkurang di 2005 menjadi 35,10 juta orang penduduk miskin. Dengan jumlah itu, tingkat kemiskinan ikut berkurang menjadi 15,97 persen.
Sayangnya, jumlah penduduk miskin meningkat di 2006 menjadi 39,30 juta orang, yang merupakan jumlah kemiskinan tertinggi selama kepemimpinan SBY. Dengan jumlah itu, maka tingkat kemiskinan menyentuh 17,75 persen.
Angka penduduk miskin berhasil dikurangi menjadi 37,17 juta orang di 2007, dengan tingkat kemiskinan sebesar 16,58 persen. Lalu, pemerintahan SBY berhasil kembali mengurangi jumlah penduduk miskin di 2008 menjadi 34,96 juta orang, dengan tingkat kemiskinan sebesar 15,42 persen.
Pada 2009 jumlah penduduk miskin tercatat sebanyak 32,53 juta orang dengan tingkat kemiskinan sebesar 14,15 persen. Lalu, di 2010 turun menjadi 31,02 juta orang dengan tingkat kemiskinan sebesar 13,33 persen.
Mulai 2011, BPS merilis data penduduk miskin sebanyak dua kali dalam setahun. Pada tahun ini pula, pemerintahan SBY berhasil menekan angka kemiskinan di bawah 30 jutaan orang.
Pada Maret 2011 jumlah penduduk miskin masih bertengger di angka 30,02 juta orang dengan tingkat kemiskinan sebesar 12,49 persen. Namun, pada September 2011 berkurang menjadi 29,89 juta orang dengan tingkat kemiskinan sebesar 12,36 persen.
Kemudian, pada Maret 2012 jumlah penduduk miskin tercatat sebanyak 29,13 juta orang dengan tingkat kemiskinan sebesar 11,96 persen dan September 2012 sebanyak 28,59 juta orang dengan tingkat kemiskinan sebesar 11,66 persen.
Pada 2013, jumlah penduduk miskin kembali berkurang menjadi 28,07 juta orang di Maret 2013, dengan tingkat kemiskinan sebesar 11,37 persen. Namun, kembali naik mencapai 28,55 juta orang di September 2013 dengan tingkat kemiskinan sebesar 11,47 persen.
Pada akhir kepemimpinan SBY, jumlah penduduk miskin bisa ditekan menjadi 28,28 juta orang di Maret 2014, dengan tingkat kemiskinan sebesar 11,25 persen. Lalu, pada September 2014 jumlah penduduk miskin berkurang menjadi 27,73 juta orang, dengan tingkat kemiskinan sebesar 10,96 persen. Angka ini merupakan jumlah penduduk miskin paling rendah pada masa kepemimpinan SBY.
Serupa, pada masa kepemimpinan Jokowi tingkat kemiskinan juga cenderung menurun. Bahkan, pada masa pemerintahan Jokowi diklaim untuk pertama kalinya tingkat kemiskinan mencapai satu digit yakni pada Maret 2018. Saat itu, jumlah penduduk miskin mencapai 26 juta dengan tingkat kemiskinan 9,82 persen.
"Alhamdulillah untuk pertama kalinya angka kemiskinan turun di bawah 10 persen. Hanya satu digit angka kemiskinan, yang terendah dalam sejarah Indonesia," kata Jokowi pada 2018 lalu.
Jumlah penduduk miskin pada era Jokowi berada di kisaran 24,79 juta orang hingga tertinggi 28,6 juta orang pada Maret 2015.
Sayangnya, setelah berhasil menekan tingkat kemiskinan ke satu digit, pandemi covid-19 kembali mengerek jumlah penduduk miskin. Pada September 2020, tingkat kemiskinan kembali ke dua digit sebesar 10,19 persen, dengan jumlah penduduk miskin mencapai 27,55 juta orang.