Pengusaha Truk soal Pemberantasan Preman: Dulu Juga Pernah

CNN Indonesia | Selasa, 15/06/2021 06:57 WIB
Pengusaha truk mengatakan operasi pemberantasan preman dan pungli, termasuk di pelabuhan bukan barang baru. Karena tak ada konsistensi, preman masih marak. Pengusaha truk mengatakan operasi penangkapan preman yang dilakukan polisi usai mendapat perintah Jokowi bukan hal baru. Tapi, masalah masih terjadi. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Ilham).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pengusaha truk buka suara soal operasi penangkapan preman dan pungutan liar besar-besaran yang dilakukan pihak kepolisian usai diperintah oleh Presiden Jokowi. Ketua Umum Keamanan dan Keselamatan Indonesia (Kamselindo) sekaligus pengusaha truk dan logistik Kyatmaja Lookman menyebut itu sudah pernah dilakukan oleh aparat.

Sayangnya, karena tidak adanya konsistensi dan sistem yang mampu mencabut masalah dari akar rumput, preman dan pungli pun muncul lagi.

"Dulu juga pernah diberlakukan Saber Pungli (Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar). Pak Presiden juga ngomong hal sama. Jadi ini dejavu sebenarnya. Kejadiannya berulang kembali," bebernya kepada CNNIndonesia.com, Senin (14/6).


Polisi gencar menangkap preman dan pelaku pungutan liar belakangan ini. Tercatat lebih dari 100 orang yang telah ditangkap polisi di berbagai wilayah di Indonesia dalam operasi itu.

Operasi dilakukan setelah Jokowi mendengar keluh kesah sejumlah sopir truk di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara soal ulah preman itu. Usai mendengar keluhan, Jokowi memerintahkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk segera menindaklanjuti keluhan supir itu.

Hal itu langsung direspons aparat dari Polda Metro Jaya. Sedikitnya, 49 orang ditangkap, termasuk koordinator pungli di area JICT, Ahmad Zainul Arifin pada Jumat (11/6).

Kyatmaja menyebut praktik pungli sudah jadi rahasia umum, terjadi hampir setiap hari dan pengusaha dibuat tidak berdaya. Ia menyebut pungli terjadi baik di luar maupun di dalam pelabuhan.

[Gambas:Video CNN]

Tak hanya di Tanjung Priok, ia menyebut praktik juga terjadi merata di pelabuhan lainnya.

Pungli di dalam pelabuhan, ia menyebut biasanya kerugian tidak terlalu besar, hanya Rp5.000-Rp10 ribu per truk. Menurut dia, yang mengkhawatirkan adalah pungli di luar pelabuhan.

Dia menyebut aksi dilakukan pada saat terjadi kemacetan. Saat kendaraan sedang berhenti, para preman memalak dan merampas barang pribadi supir truk.

Ponsel dan dompet menjadi barang paling umum yang dirampas preman.

Saat menjadi sorotan presiden dan penertiban dilakukan polisi, aksi premanisme biasanya turun. Tapi, ia menilai masalah tidak selesai hanya dengan penangkapan sementara.

Karena, dulunya pun, operasi penangkapan juga pernah dilakukan Polri. Sayangnya, karena tidak adanya konsistensi dan tidak adanya sistem yang mampu mencabut masalah dari akar rumput, pungli dan aksi premanisme muncul lagi.

Bahkan katanya, aksi tak hanya dilakukan orang dewasa. Ia menyebut pelaku juga berasal dari kelompok anak dan remaja.

Ia meyakini bahwa aksi pungli merupakan tindak kriminalitas yang terorganisir. Pasalnya, pelaku cukup lihai dalam melakukan aksinya.

Ia mengaku sempat melihat pelaku remaja yang membongkar aki hingga ban serap truk.

Penangkapan pelaku pungli, kata dia, tidak akan berhasil selama masalah sosial alias kemiskinan tak diatasi pemerintah. Bila tidak ada pembinaan untuk mengarahkan preman pungli untuk mencari pekerjaan lain, ia pesimis permasalahan bakal tuntas.

Ujung-ujungnya, kata dia, pengusaha yang jadi sapi perah.

(wel/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK