Nestle dan Unilever Bakal Naikkan Harga Jual ke Konsumen

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Jumat, 30/07/2021 13:26 WIB
Nestle dan Unilever akan menaikkan harga jual produk mereka, seiring dengan meningkatnya biaya komoditas dan ongkos pengiriman barang. Nestle dan Unilever akan menaikkan harga jual produk mereka, seiring dengan meningkatnya biaya komoditas dan ongkos pengiriman barang. (iStockphoto).
Jakarta, CNN Indonesia --

Perusahaan konsumer raksasa Nestle dan Unilever disebut akan menaikkan harga jual produk mereka. Kenaikan harga dilakukan sejalan dengan meningkatnya biaya komoditas dan pengiriman barang.

Mengutip CNN Business, Jumat (30/7), manajemen Nestle mengatakan akan mengerek harga sebagai respons dari rantai pasokan global yang meningkat.

"Inflasi hampir tidak ada selama beberapa tahun, kemudian tiba-tiba naik tajam. Ini sangat memukul kami," ujar CEO Nestle Mark Schneider.


Kendati demikian, ia meyakini inflasi yang naik saat ini hanya bersifat sementara. Karenanya, kenaikan harga jual pun sekitar 2 persen untuk mengimbangi kenaikan biaya yang ditanggung perusahaan hingga 4 persen.

Produsen yang menjual es krim, kopi, sereal, dan susu itu menaikkan harga mulai paruh pertama tahun ini. "Kami bakal melakukan lindung nilai terhadap beberapa kenaikan biaya, seperti harga kopi," terang Schneider.

Namun, ada beberapa kenaikan biaya yang tidak bisa dihindari perusahaan, seperti transportasi, yang ikut menekan margin Nestle.

Sebelum Nestle, General Electric (GE), Anheuser-Busch InBev (BUD), dan Unilever telah memperingatkan ancaman kenaikan biaya rantai pasokan global akibat pemulihan ekonomi dari pandemi covid-19.

Permintaan beberapa barang diklaim meningkat tajam karena orang-orang mulai melanjutkan perjalanan dan kembali beraktivitas ke kantor. Sementara, persoalan rantai pasokan global masih menantang.

Beberapa perusahaan yang menyadari hal ini telah melakukan lindung nilai terhadap kenaikan harga barang dengan membeli komoditas berjangka. Namun, beberapa perusahaan lainnya memilih untuk menaikkan harga jual lebih tinggi ke konsumen.

Unilever, yang memutuskan mengerek harga sejumlah barang juga mengaku kenaikan terpaksa dilakukan karena biaya yang ditanggung perusahaan lebih tinggi. Contohnya, harga minyak kedelai yang meningkat hingga 80 persen dibanding tahun sebelumnya.

"Inflasi berdampak pada kami di seluruh spektrum, seperti biaya bahan, biaya kemasan, terutama biaya pengiriman dan distribusi. Kami telah dan akan terus menaikkan harga sesuai dinamika," ungkap Kepala Keuangan Unilever Graeme Pitkethly.

[Gambas:Video CNN]



(bir/age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK