1001 Cara Pengusaha Warteg Bertahan di Tengah Pandemi
CNN Indonesia
Selasa, 03 Agu 2021 07:06 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Rojikin memutar otak untuk mempertahankan usaha wartegnya di tengah pandemi. Jual perhiasan istri hingga kuras tabungan ia lakukan agar bisa bertahan. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma).
Jakarta, CNN Indonesia --
Rojikin Manggala menghela napas panjang sebelum menceritakan usaha wartegmiliknya yang babak belur akibat pandemicovid-19. Ia tertegun, kebingungan mencari kata untuk mengutarakan isi hatinya.
Ia harus rela melihat 5 warteg miliknya yang tersebar di wilayah Jobodetabek tutup selama setahun. Empat belas warteg yang dibangunnya dari nol sejak 10 tahun lalu kini tersisa 9.
Itu pun, kata dia, sudah dilakukan berbagai cara untuk bertahan. Rojikin mengaku sudah menjual sejumlah aset, mulai dari kendaraan hingga emas istri dilepas demi membiayai warteg yang terus nombok.
Tabungan jangan ditanya, sudah habis terkuras membiayai usaha. Hitung-hitung, Rojikin sudah menjual asetnya sekitar Rp300 juta. Kendati sudah habis-habisan mempertahankan usahanya, aset yang telah dijual masih tidak mencukupi untuk bertahan.
"Rumah kontrakan sebenarnya mau saya jual tapi sampai sekarang masih belum laku ya. Bagaimana mau beli? Mungkin semua orang mengalami hal serupa kan. Kalau aset saya likuid mungkin sudah habis semua," bebernya kepada CNNIndonesia.com, Senin (2/8).
Rojikin dan istri berupaya keras untuk tidak menutup wartegnya dan merumahkan pekerja. Tapi, sebulan sudah PPKM berjalan, ia mengaku mulai kepikiran untuk menutup satu lagi warteg miliknya.
Maklum, bulan ini ada satu kontrak warteg yang jatuh tempo dan harus diperpanjang. Dia diberi waktu satu minggu untuk memutuskan nasib warungnya yang berada di Tangerang, Banten.
Rojikin mengaku belum memutuskan langkah selanjutnya. Bagai buah simalakama, ia menyebut tak ingin menutup satu warung lagi namun kas di tangan sudah seret.
"Saya minta waktu untuk berpikir, ini lagi ditungguin saya mau diperpanjang enggak," ujarnya.
Kas usaha terus boncos karena beban operasional yang dikeluarkan saat ini tidak jauh berbeda dengan saat normal. Sementara, pendapatan merosot tajam di atas 50 persen.
Ia menyebut omzet harian kini hanya berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp1,5 juta per warung. Dulunya, masih ada warung yang bisa meraup Rp4 juta per hari.
Dari pendapatan harian, setelah dipotong belanja lauk warteg, ia menyebut hanya tersisa beberapa ratus ribu saja untuk membayar gaji dan beban operasional lain. Belum lagi, Rojikin juga terlilit tumpukan utang.
Sebagai pelaku usaha kecil, Rojikin menyayangkan kembali diberlakukan PPKM. Sebab, sebelum PPKM berlaku mulai terlihat momentum pemulihan pendapatan. Bahkan, ia sempat optimis dan mengambil tambahan modal di bank.
Baru mau bangkit, PPKM diberlakukan. Sebagai pelaku kecil, Rojikin hanya bisa mengelus dada dan menjalankan aturan. Awalnya, ia kira PPKM hanya akan berlangsung dua pekan namun kini sudah sebulan berselang.
Walau tertatih, Rojikin menyebut masih berusaha sekuat tenaga untuk tak melakukan PHK. Ia sempat menawarkan kesempatan untuk karyawannya mengelola warteg yang sudah tidak lagi mampu dibayarnya. Sayang, sepinya pemasukan membuat tawaran tersebut tidak menarik.
Ketika ditanya soal bantuan yang sudah didapatnya dari pemerintah, Rojikin hanya tertawa. "Iya dapat, dapat informasinya saja," selorohnya.
Sudah 1,5 tahun pandemi, ia menyebut hanya menerima keringanan restrukturisasi utang, itu pun baru diberikan bulan ini. Berbagai informasi yang dia dapatkan soal bantuan untuk pelaku usaha tidak pernah sampai kepadanya.
Dia berharap pemerintah bisa bergerak cepat memberi berbagai macam bantuan yang dijanjikan. Bila tak cepat, napas pelaku usaha yang sudah putus-putus bisa berhenti.
"Beritanya sudah santer banget bantuan untuk UMKM tapi saya tanya teman-teman belum ada yang dapat. Gimana caranya dapetnya? Itu berita bener apa enggak saya enggak ngerti itu," ungkapnya.
Tak hanya warteg, pandemi juga berdampak pada usaha taman wisata. Cek kisahnya di halaman berikut.
Himpitan ekonomi tak hanya dirasakan Rojikin, Sapto Wahyudi, General Manager Terminal Wisata Grafika Cikole juga mengeluhkan hal serupa. Selama tempat wisata yang dikelolanya mesti tutup akibat pandemi, ia harus putar otak untuk membayar biaya operasional.
Mau tak mau, ia harus menjual sebagian koleksi burung. "Sebenarnya, kami ingin menyelamatkan operasional perusahaan untuk menutup gaji karyawan, sehingga mau tidak mau, salah satunya jual koleksi burung macaw," ujarnya, Rabu (28/7).
Manajer yang berdomisili di Lembang, Kebupaten Bandung Barat, Jawa Barat, ini menyebut ada enam ekor burung macaw yang terpaksa dilego. Burung dengan paruh bengkok tersebut laku dijual Rp30 juta untuk ukuran sedang dan Rp100 juta untuk ukuran besar.
Hasil dari penjualan burung macaw tersebut kemudian digunakan untuk menutup operasional perusahaan, termasuk gaji karyawan. "Intinya, bisa menutup gaji karyawan satu bulan," imbuh dia.
Sapto melanjutkan PPKM yang kini diperpanjang membuat perusahaan tidak mengantongi pemasukan sama sekali karena objek wisata ditutup. Kondisi ini mempengaruhi keuangan pengelola.
"Kunjungan sudah nggak ada sama sekali. Kami cuma berharap dari kamar karena status kamar masih boleh buka, walaupun sangat tidak sesuai ekspektasi kami," ungkapnya.
Ia mengaku sudah menawarkan promo besar-besaran kepada pengunjung. Namun demikian, okupansi tetap saja masih jauh dari target.
"Sudah promo kamar cukup jauh kita diskon sampai 30-40 persen kamar. Dengan catatan terisi 25-35 persen (okupansi), tapi tidak tercapai," katanya.
Sebelum PPKM pada 3 Juli lalu, Terminal Wisata Grafika Cikole mempekerjakan total 105 karyawan. Terdiri dari, 30-40 karyawan saat weekday dan 80 karyawan saat weekend.
"Sekarang (saat PPKM) yang masuk cuma 5 persen. Paling banter kalau ada yang menginap, 10 persen (karyawan) dari total 105 karyawan," terang Sapto.
Hitung-hitungan pengelola, total kerugiannya sejak awal pandemi mencapai Rp2 miliar hingga saat ini.
Menurut Sapto, pelaku usaha sebenarnya setuju dengan dilakukannya pembatasan mobilitas masyarakat, mulai dari PSBB hingga PPKM. Agar pandemi covid-19 dapat cepat teratasi dan pelaku usaha bisa kembali pada aktivitas normalnya.
"Bagaimana pengendalian pandemi ini bisa terjaga, contohnya kami suruh berapa minggu pun kami siap. Dalam artian positif, kita bisa lebih save (aman) lagi dan bisa bareng-bareng melakukan pengendalian, kami siap mendorong pemerintah dalam pengendalian," ujarnya.
Namun, yang menjadi catatannya, ia juga berharap bantuan pada masa PPKM Level 4. Misalnya, dari BPJS Ketenagakerjaan untuk pekerja yang terdampak pembatasan aktivitas.
"Kami juga masih bingung status KBB sendiri. Kalau dari Pak Ridwan Kamil kami masuk PPKM level 3, sedangkan Kementerian Dalam Negeri, kami dianggap PPKM level 4 sehingga restoran-restoran itu belum boleh buka. Tapi kalau dari Kemenaker kami masuk ke Level 3 dan tidak mendapat bantuan," ungkapnya.
Harapan Sapto tak muluk-muluk. Ia hanya ingin pemerintah satu suara dan menetapkan wilayahnya masuk PPKM level 4.
"Kami sih inginnya semua level 4, berarti dari Kemenaker kita bisa dapat dari BPJS Ketenagakerjaan. Meski restoran enggak bisa buka tapi ada subsidi kepada karyawan," lanjutnya.
Rojikin Manggala menghela napas panjang sebelum menceritakan usaha wartegmiliknya yang babak belur akibat pandemicovid-19. Ia tertegun, kebingungan mencari kata untuk mengutarakan isi hatinya.
Ia harus rela melihat 5 warteg miliknya yang tersebar di wilayah Jobodetabek tutup selama setahun. Empat belas warteg yang dibangunnya dari nol sejak 10 tahun lalu kini tersisa 9.
Itu pun, kata dia, sudah dilakukan berbagai cara untuk bertahan. Rojikin mengaku sudah menjual sejumlah aset, mulai dari kendaraan hingga emas istri dilepas demi membiayai warteg yang terus nombok.
Tabungan jangan ditanya, sudah habis terkuras membiayai usaha. Hitung-hitung, Rojikin sudah menjual asetnya sekitar Rp300 juta. Kendati sudah habis-habisan mempertahankan usahanya, aset yang telah dijual masih tidak mencukupi untuk bertahan.
"Rumah kontrakan sebenarnya mau saya jual tapi sampai sekarang masih belum laku ya. Bagaimana mau beli? Mungkin semua orang mengalami hal serupa kan. Kalau aset saya likuid mungkin sudah habis semua," bebernya kepada CNNIndonesia.com, Senin (2/8).
Rojikin dan istri berupaya keras untuk tidak menutup wartegnya dan merumahkan pekerja. Tapi, sebulan sudah PPKM berjalan, ia mengaku mulai kepikiran untuk menutup satu lagi warteg miliknya.
Maklum, bulan ini ada satu kontrak warteg yang jatuh tempo dan harus diperpanjang. Dia diberi waktu satu minggu untuk memutuskan nasib warungnya yang berada di Tangerang, Banten.
Rojikin mengaku belum memutuskan langkah selanjutnya. Bagai buah simalakama, ia menyebut tak ingin menutup satu warung lagi namun kas di tangan sudah seret.
"Saya minta waktu untuk berpikir, ini lagi ditungguin saya mau diperpanjang enggak," ujarnya.
Kas usaha terus boncos karena beban operasional yang dikeluarkan saat ini tidak jauh berbeda dengan saat normal. Sementara, pendapatan merosot tajam di atas 50 persen.
Ia menyebut omzet harian kini hanya berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp1,5 juta per warung. Dulunya, masih ada warung yang bisa meraup Rp4 juta per hari.
Dari pendapatan harian, setelah dipotong belanja lauk warteg, ia menyebut hanya tersisa beberapa ratus ribu saja untuk membayar gaji dan beban operasional lain. Belum lagi, Rojikin juga terlilit tumpukan utang.
Sebagai pelaku usaha kecil, Rojikin menyayangkan kembali diberlakukan PPKM. Sebab, sebelum PPKM berlaku mulai terlihat momentum pemulihan pendapatan. Bahkan, ia sempat optimis dan mengambil tambahan modal di bank.
Baru mau bangkit, PPKM diberlakukan. Sebagai pelaku kecil, Rojikin hanya bisa mengelus dada dan menjalankan aturan. Awalnya, ia kira PPKM hanya akan berlangsung dua pekan namun kini sudah sebulan berselang.
Walau tertatih, Rojikin menyebut masih berusaha sekuat tenaga untuk tak melakukan PHK. Ia sempat menawarkan kesempatan untuk karyawannya mengelola warteg yang sudah tidak lagi mampu dibayarnya. Sayang, sepinya pemasukan membuat tawaran tersebut tidak menarik.
Ketika ditanya soal bantuan yang sudah didapatnya dari pemerintah, Rojikin hanya tertawa. "Iya dapat, dapat informasinya saja," selorohnya.
Sudah 1,5 tahun pandemi, ia menyebut hanya menerima keringanan restrukturisasi utang, itu pun baru diberikan bulan ini. Berbagai informasi yang dia dapatkan soal bantuan untuk pelaku usaha tidak pernah sampai kepadanya.
Dia berharap pemerintah bisa bergerak cepat memberi berbagai macam bantuan yang dijanjikan. Bila tak cepat, napas pelaku usaha yang sudah putus-putus bisa berhenti.
"Beritanya sudah santer banget bantuan untuk UMKM tapi saya tanya teman-teman belum ada yang dapat. Gimana caranya dapetnya? Itu berita bener apa enggak saya enggak ngerti itu," ungkapnya.
Tak hanya warteg, pandemi juga berdampak pada usaha taman wisata. Cek kisahnya di halaman berikut.
Jual Burung
General Manager Terminal Wisata Grafika Cikole Sapto Wahyudi terpaksa menjual burung macaw koleksinya untuk menutup operasional usahanya. Ilustrasi. (Sinoca/Pixabay).
Himpitan ekonomi tak hanya dirasakan Rojikin, Sapto Wahyudi, General Manager Terminal Wisata Grafika Cikole juga mengeluhkan hal serupa. Selama tempat wisata yang dikelolanya mesti tutup akibat pandemi, ia harus putar otak untuk membayar biaya operasional.
Mau tak mau, ia harus menjual sebagian koleksi burung. "Sebenarnya, kami ingin menyelamatkan operasional perusahaan untuk menutup gaji karyawan, sehingga mau tidak mau, salah satunya jual koleksi burung macaw," ujarnya, Rabu (28/7).
Manajer yang berdomisili di Lembang, Kebupaten Bandung Barat, Jawa Barat, ini menyebut ada enam ekor burung macaw yang terpaksa dilego. Burung dengan paruh bengkok tersebut laku dijual Rp30 juta untuk ukuran sedang dan Rp100 juta untuk ukuran besar.
Hasil dari penjualan burung macaw tersebut kemudian digunakan untuk menutup operasional perusahaan, termasuk gaji karyawan. "Intinya, bisa menutup gaji karyawan satu bulan," imbuh dia.
Sapto melanjutkan PPKM yang kini diperpanjang membuat perusahaan tidak mengantongi pemasukan sama sekali karena objek wisata ditutup. Kondisi ini mempengaruhi keuangan pengelola.
"Kunjungan sudah nggak ada sama sekali. Kami cuma berharap dari kamar karena status kamar masih boleh buka, walaupun sangat tidak sesuai ekspektasi kami," ungkapnya.
Ia mengaku sudah menawarkan promo besar-besaran kepada pengunjung. Namun demikian, okupansi tetap saja masih jauh dari target.
"Sudah promo kamar cukup jauh kita diskon sampai 30-40 persen kamar. Dengan catatan terisi 25-35 persen (okupansi), tapi tidak tercapai," katanya.
Sebelum PPKM pada 3 Juli lalu, Terminal Wisata Grafika Cikole mempekerjakan total 105 karyawan. Terdiri dari, 30-40 karyawan saat weekday dan 80 karyawan saat weekend.
"Sekarang (saat PPKM) yang masuk cuma 5 persen. Paling banter kalau ada yang menginap, 10 persen (karyawan) dari total 105 karyawan," terang Sapto.
Hitung-hitungan pengelola, total kerugiannya sejak awal pandemi mencapai Rp2 miliar hingga saat ini.
Menurut Sapto, pelaku usaha sebenarnya setuju dengan dilakukannya pembatasan mobilitas masyarakat, mulai dari PSBB hingga PPKM. Agar pandemi covid-19 dapat cepat teratasi dan pelaku usaha bisa kembali pada aktivitas normalnya.
"Bagaimana pengendalian pandemi ini bisa terjaga, contohnya kami suruh berapa minggu pun kami siap. Dalam artian positif, kita bisa lebih save (aman) lagi dan bisa bareng-bareng melakukan pengendalian, kami siap mendorong pemerintah dalam pengendalian," ujarnya.
Namun, yang menjadi catatannya, ia juga berharap bantuan pada masa PPKM Level 4. Misalnya, dari BPJS Ketenagakerjaan untuk pekerja yang terdampak pembatasan aktivitas.
"Kami juga masih bingung status KBB sendiri. Kalau dari Pak Ridwan Kamil kami masuk PPKM level 3, sedangkan Kementerian Dalam Negeri, kami dianggap PPKM level 4 sehingga restoran-restoran itu belum boleh buka. Tapi kalau dari Kemenaker kami masuk ke Level 3 dan tidak mendapat bantuan," ungkapnya.
Harapan Sapto tak muluk-muluk. Ia hanya ingin pemerintah satu suara dan menetapkan wilayahnya masuk PPKM level 4.
"Kami sih inginnya semua level 4, berarti dari Kemenaker kita bisa dapat dari BPJS Ketenagakerjaan. Meski restoran enggak bisa buka tapi ada subsidi kepada karyawan," lanjutnya.