Melihat Dampak PPKM Terhadap Pasar Saham Indonesia

CNN Indonesia | Rabu, 11/08/2021 07:06 WIB
Analis menyebut PPKM darurat memang sempat menggoyang bursa saham dalam negeri. Tapi fundamental ekonomi RI yang kuat membuat goncangan teredam. Analis menyebut PPKM darurat memang sempat menggoyang bursa saham dalam negeri. Tapi fundamental ekonomi RI yang kuat, membuat goncangan teredam. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat keok 0,64 persen menjadi 6.088 pada hari pertama setelah pemerintah memperpanjang PPKM level pada Selasa (10/8). Sebelumnya, pemerintah memutuskan memperpanjang PPKM hingga 16 Agustus mendatang.

Managing Partner Indogen Capital Chandra Firmanto menyebut perpanjangan PPKM sebetulnya sudah bisa ditebak pelaku pasar karena kasus covid-19 di RI belum terkendali.

Bila ekonomi dibuka tiba-tiba, yang ada risiko pandemi memperburuk ekonomi malah semakin besar. Yang menjadi kekhawatiran pasar, lanjutnya, adalah kemunculan varian baru covid-19.


Ia mengatakan varian baru covid-19 yang kian sulit ditebak arahnya menyebabkan kekhawatiran pelaku pasar. Dampaknya terhadap pasar saham Indonesia pun cukup negatif karena penanganan covid-19 RI kalah cepat dari mutasi virus.

"Penanganan Indonesia di bawah AS dan China, jadi varian covid lebih maju dari kita," katanya pada interview eksklusif dengan CNNIndonesia.com, Selasa (10/8).

Kendati mengkhawatirkan dari segi produktivitas, namun ia mengaku tak khawatir dengan fundamental ekonomi RI karena cukup besar andil bantuan dari negara penggerak ekonomi dunia terhadap perekonomian nasional, terutama AS dan China.

Dia menyebut keduanya sudah sibuk mencari pasokan impor bahan baku dan bahan penolong di tengah pemulihan ekonomi. Membutuhkan negara importir bahan baku, menurut Chandra, kedua negara itu ingin Indonesia bisa bangkit dari infeksi covid-19.

[Gambas:Video CNN]

Selain itu, ia menilai mereka juga melihat RI sebagai mitra dagang yang memiliki pasar potensial.

Chandra menilai koreksi indeks lebih disebabkan oleh sikap oportunis investor yang terbawa sejak dampak awal pandemi covid-19 lalu.

Untuk mereka yang berinvestasi kala itu, cuan yang didapat saat ini sudah lumayan. Akibat mental cuan ini, ia menyebut banyak investor yang menggunakan strategi trading kilat dan cepat ambil untung.

Kendati begitu, ia meyakini secara jangka panjang indeks tidak dilihat bermasalah, terutama oleh investor luar negeri.

Potensi Sektor Digital

Chandra mengaku melihat sektor teknologi sebagai salah satu sektor potensial yang bakal terus tumbuh dan mendapat perhatian pasar.

Ini ditopang oleh mentalitas investor Indonesia yang ia yakini mulai beralih dari fundamental investing menuju investasi berbasis potensi. Artinya, investor tidak hanya melihat kinerja lampau perusahaan tapi melihat potensi saham.

Untuk saham teknologi, ia menyebut strategi yang digunakan berbasis potensi yang membutuhkan waktu setidaknya enam bulan. Maka itu, ia menyebut jangan kaget bila saham sektor teknologi bakal bergerak fluktuatif, terutama di awal.

Ia mencontohkan saham Tesla milik Elon Musk. Bila berdasarkan kinerja perusahaan, harga yang dibanderol saat ini over valued atau kemahalan. Namun, yang dilihat investor adalah potensi ke depan saat mobil listrik Tesla sudah diproduksi dalam jumlah besar dan mendominasi pasar mobil listrik.

Menyikapi fluktuasi saham startup pertama yang melantai di BEI, PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), ia mengaku sudah memprediksi saham bakal fluktuatif karena investor Indonesia masih gampang panik.

Untuk diketahui, BUKA anjlok 6,76 persen pada perdagangan Selasa (10/8) atau di hari perusahaan melantai. Pada Jumat lalu di hari pertama, BUKA melejit 25 persen dan kemudian bergerak fluktuatif pada Senin (9/8) dan ditutup menguat 4,72 persen. Saat ini BUKA berada di posisi 1.035, masih menguat dari harga IPO 850.

"Investor kita gampang panik ya, masih ada kombinasi FOMO, jadi panik beli dan panik juga. Jadi naik turun pasti terjadi dia (BUKA) sebagai salah satu IPO teknologi pertama," kata dia.

(wel/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK