OJK Minta Bank Tak Jual Kredit UMKM Demi Penuhi Target BI

CNN Indonesia | Kamis, 09/09/2021 11:01 WIB
OJK meminta bank tidak melakukan jual beli portofolio kredit UMKM demi memenuhi target penyaluran BI. OJK meminta bank tidak melakukan jual beli portofolio kredit UMKM demi memenuhi target penyaluran BI. (CNN Indonesia/Rosyid).
Jakarta, CNN Indonesia --

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta bank tidak melakukan jual beli portofolio kredit UMKM hanya demi memenuhi target penyaluran dari Bank Indonesia (BI). Target itu mengharuskan bank menyalurkan kredit ke UMKM mencapai 30 persen dari total kreditnya pada 2024.

"Jangan sampai jual beli kredit UMKM ini bisa tidak memberikan positive impact kepada entrepreneur karena hanya sekadar memenuhi angka pencapaian secara nasional saja," ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso saat konferensi pers virtual, Rabu (8/9).

Selain itu, Wimboh juga mewanti-wanti bank agar target penyaluran kredit UMKM ini tidak membuat bank menerapkan kebijakan pengurangan kredit ke segmen lain. Misalnya, mengurangi penyaluran kredit ke segmen korporasi, komersial, dan konsumsi hanya demi mengerek porsi penyaluran kredit UMKM dari total portofolio.


Sebab, menurutnya, hal ini justru tidak mendukung fungsi intermediasi bank kepada perekonomian, di mana seharusnya penyaluran kredit terus meningkat karena bisa menggerakkan ekonomi.

"Karena bisa-bisa hanya sekadar memenuhi kewajiban individunya, ini dia mendisakselerasi pertumbuhan kredit untuk korporasi. Nah ini bahaya, bahaya sekali, jangan sampai begitu," ucapnya.

Lebih lanjut, Wimboh meminta agar bank bisa menyusun strategi pencapaian target penyaluran kredit UMKM mencapai 30 persen pada 2024 secara hati-hati dan matang. Strategi ini perlu dilakukan dengan turut memperhatikan kemampuan dari masing-masing bank yang tentu berbeda-beda.

"Secara individu ini juga akan kita track," imbuhnya.

Sebelumnya, BI menargetkan porsi penyaluran kredit bank ke segmen UMKM bisa mencapai 20 persen dari total penyaluran pada Juni 2022. Lalu, porsinya naik menjadi 25 persen pada Juni 2023 dan 30 persen pada Juni 2024.

[Gambas:Video CNN]

Penyaluran Kredit

Di sisi lain, Wimboh mencatat penyaluran kredit bank mencapai Rp5.563,7 triliun per Juli 2021. Realisasinya tumbuh 0,5 persen secara tahunan, namun masih minus 0,32 persen secara bulanan.

Penyaluran terbesar masih berasal dari segmen kredit korporasi mencapai Rp2.699,4 triliun. Lalu, disumbang oleh segmen kredit ritel Rp1.567,3 triliun, UMKM Rp1.100,4 triliun, dan lainnya Rp196,5 triliun.

Dari realisasi ini tercatat penyaluran kredit baru mencapai Rp1.439 triliun. Sementara pelunasan atau pembayaran angsuran kredit mencapai Rp1.332 triliun. Sedangkan kredit yang dihapus buku sebesar Rp4,12 triliun.

Wimboh memperkirakan penyaluran kredit ini akan terus meningkat sampai akhir tahun seiring dengan kebijakan PPKM yang sudah dilonggarkan. Dengan begitu, mobilitas dan aktivitas masyarakat akan meningkat dan memunculkan permintaan kredit.

"Sampai akhir tahun kami perkirakan di atas 4 persen, ringnya sekitar 4 persen sampai 4,5 persen, ini targetnya yang sebenarnya cukup konservatif," kata Wimboh.

Lebih lanjut, OJK mencatat rasio kredit bermasalah atau macet (Non Performing Loan/NPL) gross 3,35 persen dan NPL net 1,09 persen pada Juli 2021. Sementara dari tingkat suku bunga kredit, rata-rata suku bunga kredit modal kerja berada di kisaran 9 persen.

Sedangkan suku bunga kredit investasi 8,63 persen dan kredit konsumsi 10,73 persen. OJK mengklaim seluruh suku bunga kredit bank sudah turun dari posisi dua tahun terakhir.

Untuk Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat tumbuh 7,9 persen secara tahunan menjadi Rp6.965,83 triliun per Juli 2021. Total aset naik 10,43 persen menjadi Rp9.412,19 triliun.

OJK turut mencatat jumlah bank umum turun dalam empat tahun terakhir. Pada 2017, jumlah bank umum ada 115, kini cuma 107 per Juni 2021.

Begitu juga dengan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dari semula 1.734 menjadi 1.599 bank pada periode yang sama. Jumlah kantor bank umum juga merosot dari 32.276 menjadi 29.661 kantor dan kantor BPR dari 6.192 menjadi 3.305 kantor.

(uli/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK