Evergrande Mulai Bayar 'Utang' dengan Properti

CNN Indonesia | Minggu, 19/09/2021 18:15 WIB
Pengembang raksasa China yang sedang terbelit masalah keuangan, China Evergrande Group mulai membayar utang pada investor mereka dengan properti. Pengembang raksasa China yang sedang terbelit masalah keuangan, China Evergrande Group mulai membayar utang pada investor mereka dengan properti. Ilustrasi. (AFP/NOEL CELIS).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pengembang raksasa China yang sedang terbelit masalah keuangan, China Evergrande Group telah mulai membayar kewajiban pada investor mereka. Tapi, unit utama Hengda Real Estate Group Co Ltd menyatakan pembayaran dilakukan manajemen dengan real estat mereka.

Sebagai informasi, Evergrande nyaris bangkrut. Kini perusahaan properti China itu memiliki utang lebih dari US$300 miliar atau Rp4.277 triliun (Kurs Rp14.256 per dolar AS)

Berada dalam pergolakan krisis likuiditas, mereka berupaya sekuat tenaga mengumpulkan uang supaya bisa membayar utang ke bank dan pemasoknya. Tercatat, mereka memiliki kewajiban pembayaran bunga obligasi sebesar US$83,5 juta yang jatuh tempo pada Kamis (16/9) lalu.


Perusahaan mengatakan dalam posting WeChat pada Sabtu (18/9) kemarin bahwa investor yang tertarik untuk menebus produk manajemen kekayaan untuk aset fisik harus menghubungi konsultan investasi mereka atau mengunjungi kantor lokal.

"Metode dan detail pembayaran khusus tunduk pada kondisi setempat," kata seorang perwakilan layanan pelanggan Evergrande seperti dikutip dari Reuters pada Minggu ini.

Sementara itu, sejumlah bank yang menjadi sumber aliran kredit bagi China Evergrande mulai menghitung kerugian atas pinjaman yang mereka berikan ke raksasa properti itu. Beberapa bank juga mulai berancang-ancang memberi pelonggaran pelunasan kredit bagi Evergrande yang santer diisukan bakal bangkrut akibat masalah tumpukan utangnya itu.

Salah satu bank yang sudah mulai menghitung kerugian atas pinjaman ke Evergrande adalah Agricultural Bank of China (AgBank). Sumber dari internal perusahaan menyatakan telah membuat beberapa ketentuan soal kerugian pinjaman dari total porsi kreditnya ke Evergrande.

Begitu juga dengan China Minsheng Banking Corp dan China CITIC Bank Corp Ltd. Namun, ketiganya belum memberi tanggapan terhadap informasi yang didapat Reuters.

Kendati begitu, porsi kredit bank kepada Evergrande sebenarnya telah menurun sejak tahun lalu. China Minsheng Banking Corp misalnya, telah menurunkan porsi kredit dari 40 miliar yuan setara Rp88,08 triliun (kurs Rp2.202 per yuan China) menjadi 30 miliar yuan atau Rp66,06 triliun dalam setahun terakhir.

Tak hanya itu, sumber lain menyatakan bank juga sudah tidak memberikan pinjaman baru kepada Evergrande dalam beberapa bulan terakhir. Sementara total kredit Evergrande dari berbagai bank mencapai 693,4 miliar yuan atau Rp1.526,86 triliun pada tahun lalu.

Nilainya turun dari 782,3 miliar yuan atau Rp1.722,62 triliun pada 2019. Sayangnya, penurunan kredit ini tidak mengurangi risiko kebangkrutan Evergrande karena bisnis mereka setara 2 persen dari PDB China.

Sebelumnya, bank sentral China, People's Bank of China (PBoC) telah meminta semua bank pemberi kredit bagi Evergrande untuk menghitung porsi kredit yang mereka berikan ke perusahaan. Begitu juga dengan risiko keuangan atau kerugian dari pemberian kredit tersebut.

[Gambas:Video CNN]



(uli/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK