Krisis Evergrande, Harga Minyak Dunia Tertekan

CNN Indonesia | Selasa, 21/09/2021 07:27 WIB
Harga minyak dunia jatuh pada pekan ini karena investor menghindari risiko di pasar saham akibat krisis keuangan China Evergrande. Harga minyak dunia jatuh pada pekan ini karena investor menghindari risiko di pasar saham akibat krisis keuangan China Evergrande. Ilustrasi kilang minyak. (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/foc).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia jatuh pada awal pekan ini karena investor menghindari risiko di pasar saham dan penguatan dolar AS yang terjadi akibat krisis keuangan China Evergrande.

Melansir Antara, Selasa (21/9), harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November jatuh US$1,42 atau 1,9 persen menjadi US$73,92 per barel di London ICE Futures Exchange.

Begitu juga dengan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober anjlok US$1,68 atau 2,3 persen menjadi US$69,86 per barel di New York Mercantile Exchange.


Analis Pasar Minyak Rystad Energy Nishant Bhushan menilai harga minyak dunia terimbas langkah investor saham yang ingin menghindari risiko kerugian di pasar bila bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), jadi mengurangi likuiditas (tapering) pada akhir tahun ini.

Di sisi lain, dolar AS juga menguat berkat isu krisis keuangan China Evergrande yang membuat banyak pihak melepas sahamnya dan beralih ke aset lain, yakni mata uang negeri Paman Sam.

"Karena dolar AS biasanya merupakan tempat yang aman, nilai tukarnya terhadap mata uang lainnya menguat, sebuah perkembangan yang melengkapi lingkungan penghindaran risiko dan mempengaruhi harga-harga komoditas, terutama minyak," ucapnya.

Kendati begitu, harga minyak dunia masih mendapat topangan dari produksi kilang AS yang belum naik signifikan meski sudah mulai beroperasi lagi usai tutup saat Badai Ida menerjang.

Tercatat, produksi produsen minyak di AS baru 422 ribu barel atau 23 persen dari total produksi mereka. Bahkan, Royal Dutch Shell, salah satu produsen di AS memperkirakan instalasi kilang akan membutuhkan waktu pemulihan hingga akhir tahun.

Sementara, Analis Rystad Energy lainnya Artem Abramov memperkirakan produksi minyak AS secara keseluruhan akan turun 200 ribu sampai 250 ribu barel per hari akibat dampak badai beberapa waktu lalu.

Sumbangan minyak dari kilang AS yang terkena badai mencapai 16 persen dari total produksi minyak AS mencapai 1,8 juta barel per hari.

[Gambas:Video CNN]



(uli/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK