Ridwan Kamil Pangkas Target Pendapatan Jabar 2021 Rp5 T

CNN Indonesia | Jumat, 24/09/2021 07:09 WIB
Gubernur Jabar Ridwan Kamil memangkas target pendapatan daerah sebanyak Rp5 triliun dari semula Rp41,1 triliun menjadi Rp36,09 triliun. Gubernur Jabar Ridwan Kamil memangkas target pendapatan daerah sebanyak Rp5 triliun dari semula Rp41,1 triliun menjadi Rp36,09 triliun. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma).
Bandung, CNN Indonesia --

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengungkapkan dalam nota keuangan RAPBD-P 2021, Pemprov Jabar merevisi target pendapatan daerah dari semula Rp41,1 triliun menjadi Rp36,09 triliun. Dengan penurunan itu, ia menargetkan pendapatan asli daerah yang semula Rp25,06 triliun turun menjadi Rp19,55 Triliun.

Sementara di sisi lain, pendapatan transfer yang semula ia targetkan Rp16,38 triliun, naik menjadi Rp16,49 triliun. Sedangkan pendapatan lain-lain yang sah, targetnya ia naikkan dari Rp23,37 miliar menjadi Rp40,88 miliar.

"Proses secepatnya terkait perubahan anggaran 2021. Karena banyak asumsi, pendapatan kami berkurang, sehingga APBD kita mengalami koreksi hampir lebih dari Rp5 triliun," kata dia di Gedung DPRD Jabar Kota Bandung, Kamis (23/9).


Emil, sapaannya menuturkan, dampak dari koreksi tersebut banyak anggaran perjalanan dinas yang dipangkas. Kemudian sejumlah proyek strategis pun kemungkinan akan digeser prioritasnya.

"Sehingga kita mengurangi banyak perjalanan dinas, mengurangi makan minum, mengurangi proyek yang mungkin kita anggap bisa kita geser. Ini situasi dan realitas yang kita hadapi, sehingga banyak program pembangunan yang terkendala. Seperti bansos kita kurangi mungkin ada yang sudah ekspektasi seperti apa jadi kita memang sedang prihatin," ujarnya.

Dari sisi belanja, Pemprov Jabar memangkas belanja yang tidak perlu. Oleh karena itu, belanja pada tahun anggaran 2021 diubah dari semula Rp44,61 triliun menjadi Rp39,9 triliun.

[Gambas:Video CNN]

Pengeluaran yang dipangkas seperti belanja operasional. Itu meliputi belanja perjalanan dinas, belanja makanan dan minuman, paket rapat, belanja alat/bahan kegiatan kantor, belanja sewa, dan lain-lain, efisiensi belanja insentif pemungutan pajak daerah, serta rasionalisasi belanja hibah.

Kemudian belanja modal juga dipotong. Adapun belanja ini berasal dari efisiensi paket pekerjaan yang bisa ditunda untuk tahun berikutnya, dan atau diperkirakan sampai dengan akhir tahun tidak selesai dilaksanakan, serta belanja modal pendukung kegiatan.

Belanja transfer juga ikut dikurangi yang meliputi penyesuaian pengeluaran bagi hasil pajak kepada kabupaten/kota sebagai dampak penurunan target pendapatan pajak daerah, dan juga efisiensi belanja bantuan keuangan.

Sedangkan belanja tidak terduga (BTT) ditingkatkan. Peningkatan ini dalam rangka pemenuhan kebutuhan penanganan covid-19 dan dampaknya, pelaksanaan PPKM, antisipasi bencana banjir dan kekeringan, kewajiban kepada pihak ketiga yang belum terbayarkan, serta kebutuhan darurat dan mendesak lainnya.

Beberapa insentif untuk sektor-sektor yang masih terdampak akan diberikan. Seperti misalnya, insentif UMKM hingga sektor pariwisata yang hingga saat ini masih tertekan pandemi.

Sementara itu, dari sisi industri ekonomi, ia menyatakan Jawa Barat masih tumbuh bagus. Secara makro, ekonomi Jabar juga tumbuh 6,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy)

"Tapi secara umum ekonomi makro kita kan lagi bagus di angka 6,13 persen walaupun setelah dibedah ekonomi kita itu bagusnya di skala makronya. Industri terutama yang ekspor. Tapi kalau sektor ril, UMKM, pariwisata masih juga banyak kendala-kendala yang terus akan kita berikan insentif," tutur Emil.

(hyg/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK