Nasib Kristalina Georgieva Sebagai Ketua IMF Belum Diputuskan

CNN Indonesia | Selasa, 12/10/2021 08:39 WIB
Dewan IMF mengaku belum mencapai keputusan soal kelanjutan Kristalina Georgieva sebagai direktur pelaksana usai kasus manipulasi data EoDB. Dewan IMF mengaku belum mencapai keputusan soal kelanjutan Kristalina Georgieva sebagai direktur pelaksana usai kasus manipulasi data EoDB. (AFP/Brendan Smialowski).
Jakarta, CNN Indonesia --

Dana Moneter Internasional (IMF) mengaku masih belum mencapai keputusan soal kelanjutan Kristalina Georgieva sebagai Ketua dan Direktur Pelaksana usai dugaan memanipulasi laporan ease of doing business (EODB) Bank Dunia.

Dalam sebuah investigasi yang dilakukan firma hukum ternama WilmerHale, Georgieva dituduh memanipulasi data untuk kepentingan China saat memangku jabatan sebagai CEO Bank Dunia.

Ia bersama rekannya mantan menteri keuangan Bulgaria Simeon Djankov dan mantan presiden Bank Dunia Jim Yong Kim dinilai menekan staf untuk merubah peringkat EODB China agar tidak turun.


Namun, Georgieva telah berulang kali membantah kesimpulan firma hukum tersebut. Ia juga belum menanggapi pertimbangan dewan terkait kelanjutan karirnya di IMF.

Dilansir AFP, Senin (11/10), hingga kini masih belum ada kejelasan terkait nasib Georgieva. Namun, Bank Dunia bersama IMF akan mendiskusikan hal ini pada rapat musim gugur.

Dewan IMF dikabarkan telah mempertemukan antara perusahaan WilmerHale dengan Georgieva pada akhir pekan lalu.

Badan tersebut mengatakan dalam sebuah pernyataan sudah ada progres lebih lanjut untuk menyimpulkan pertimbangan tentang masalah ini. Dewan Eksekutif telah secara konsisten menyebut komitmen untuk menyelesaikan masalah ini secara menyeluruh, objektif, dan tepat waktu.

Masalah ini mencuat kala pemimpin bank terlibat dalam negosiasi sensitif dengan Pemerintahan China mengenai peningkatan modal pinjaman bank.

Mantan ekonom Bank Dunia Joseph Stiglitz justru membela Georgieva. Ia berpendapat bahwa aksi tersebut bertujuan untuk memakzulkan Georgieva dan menyerang reputasinya melalui laporan WilmerHale.

Departemen Keuangan AS turut menyelidiki skandal ini dan telah menyimpulkan bahwa laporan ini dianggap "mengkhawatirkan", dikutip dari CNNIndonesia.com, Rabu (22/9).

Pemerintah AS memiliki suara penting dalam dewan eksekutif IMF karena dapat memilih direktur pelaksana dan Gedung Putih memiliki hak veto atas organisasi tersebut.

Media asal Inggris The Economist bahkan mendesak Georgieva untuk mundur dari jabatannya.

Mereka menilai wanita asal Bulgaria itu memiliki andil dalam perubahan data. Bahkan, dirinya disebut mengubah data 3 negara lainnya.

Walau Georgieva telah membantah tuduhan tersebut, The Economist masih tidak bisa membenarkan tindakannya. Sebab sebagai pimpinan IMF harusnya ia dapat memegang prinsip dan bebas dari kepentingan apapun termasuk China.

[Gambas:Video CNN]



(fry/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK