Bos Bukalapak Buka Suara soal Harga Saham Jatuh

CNN Indonesia | Kamis, 14/10/2021 11:59 WIB
Bukalapak menyatakan penurunan saham mereka di bawah harga IPO terjadi akibat imbas kenaikan harga komoditas di pasar internasional. Bukalapak menyatakan penurunan saham mereka di bawah harga IPO terjadi akibat imbas kenaikan harga komoditas di pasar internasional. Ilutsrasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) buka suara terkait kejatuhan nilai saham mereka belakangan ini. Direktur PT Bukalapak.com Tbk Teddy Oetomo menilai itu merupakan imbas kenaikan harga komoditas di pasar internasional.

Hal itu sedikit banyak membuat investor lebih 'bergairah' membeli saham-saham dari perusahaan yang menjalani bisnis berbasis komoditas.

"Dari obrolan dengan teman-teman di capital market, memang yang namanya fund manager waktu investasi, kita lihat alokasi tergantung pada industri dan yang terjadi saat ini adalah harga komoditas naik, jadi ada rotasi portofolio, mereka masuk ke arah yang lebih comodity driven," ungkap Teddy saat berbincang dengan awak media secara virtual.


Pada saat IPO, harga saham emiten berkode BUKA itu dibanderol di kisaran Rp850 per saham. Tapi sampai perdagangan Kamis (14/10) pukul 11.30 WIB, saham perusahaan turun ke kisaran Rp735 per saham.

Ia mengatakan investor kerap melakukan rotasi portofolio karena ingin memanfaatkan potensi keuntungan dari kondisi ekonomi saat ini. Selain itu, hal ini juga bertujuan untuk menyeimbangkan kepemilikan saham berdasarkan industri.

"Investor balance portofolio ini supaya lebih banyak terhadap portofolio coal karena harganya lagi naik," imbuhnya.

Sayangnya, saham-saham perusahaan teknologi justru terkena imbas, termasuk Bukalapak, sehingga harga sahamnya turun. Tapi, ia mengklaim hal ini sejatinya tidak hanya terjadi pada harga saham perusahaannya, tapi juga perusahaan lain.

"Tapi kalau dilihat, bukan cuma sektor teknologi termasuk pemain lain, bukan hanya Bukalapak," ucapnya.

Selain karena faktor kenaikan harga komoditas, Teddy mengakui bahwa peruntungan perusahaan teknologi ketika melantai di bursa saham memang tidak selalu mulus. Bahkan, menurutnya, perusahaan teknologi global pun sempat mengalami hal seperti ini, sebut saja Facebook, Google, dan lainnya.

[Gambas:Video CNN]

"Perusahaan teknologi itu, Google, Facebook, dan lainnya, waktu mereka habis IPO, biasanya performance-nya memang agak weak. Kenapa? Karena perusahaan tech itu inovatif. Rata-rata setelah IPO, ada periode investor masih coba mengerti bisnis mereka," jelasnya.

Kendati begitu, Teddy meyakini potensi pemulihan ekonomi Indonesia ke depan akan membuat pasar keuangan membaik dan berimbas pada kinerja perusahaan di pasar modal. Di sisi lain, Bukalapak terus berusaha meningkatkan kinerja perusahaan secara internal.

"Dari company sendiri, sebetulnya performa dari kuartal kedua, pertumbuhannya cukup robust, dan insyaAllah kita terus ke depan bisa pertahankan karena momentumnya suportif," tuturnya.

Di sisi lain, perusahaan belum bisa memastikan apakah prospek tersebut akan membuat perusahaan bisa segera membagi laba perusahaan kepada pemegang saham alias dividen. Teddy mengaku bahwa kinerja keuangan masih terus berusaha ditingkatkan.

"Jadi harus net income positif dulu, terus beberapa kali sampai retail earningnya positif, baru secara regulasi diperkenankan untuk membagikan dividen. Kita usahakan terus ke depan untuk deliver, insyaAllah ke depan bisa, kita usahakan bisa deliver performance agar kita bisa bagi dividen," terangnya.

Respons Pesaing Masuk Bursa

Dalam kesempatan yang sama, Teddy turut membagi tanggapan soal rencana IPO dari pesaing di sektor e-commerce. Sebut saja salah satunya yang sudah memberi sinyal melantai di bursa pada tahun depan adalah GoTo, hasil kolaborasi Gojek dan Tokopedia.

"Sebetulnya tujuan kita adalah kita jalankan (masuk bursa) sehingga yang lain bisa mengikuti. Justru kita ingin melihat Indonesia yang punya banyak sekali tech start up, teknologi ekosistem untuk 'Ayo kita melantai bareng di IDX, di bursa yang ada di Indonesia' begitu," katanya.

Sebab, menurut Teddy, potensi pasar keuangan Indonesia sangat besar ke depan, sehingga bisa menjadi sumber pendanaan bagi perusahaan teknologi. Selain itu, pertumbuhan perusahaan teknologinya sendiri juga tinggi.

Tapi, masih sangat sedikit yang mau tercatat sebagai perusahaan terbuka di pasar modal. Bahkan, rasionya juga jauh tertinggal dari negara lain.

"Kita tidak merasa perusahaan yang paling hebat, tidak merasa paling canggih, tapi Bukalapak saja bisa, jadi saya yakin yang lain juga bisa," pungkasnya.

(uli/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK