Jakarta, CNN Indonesia -- Bicara Korea Selatan (Korsel), tentu publik langsung identik dengan tren budaya k-pop maupun k-drama. Apalagi, jumlah penggemarnya terus meningkat di berbagai negara di dunia dari waktu ke waktu. Terbaru, ada Squid Game.
Squid Game adalah serial drama Korsel yang tengah digandrungi banyak orang pada saat ini adalah Squid Game yang rilis melalui layanan streaming Netflix. Bahkan, Netflix mencatat Squid Game menjadi serial paling populer dengan 111 juta akun penonton hanya dalam beberapa hari sejak dirilis pada 17 September lalu.
Namun, tidak seperti serial drama Korsel pada umumnya yang berisi cerita 'cinta-cintaan', Squid Game justru menghadirkan sebuah permainan masa kecil yang populer di negeri ginseng itu. Tetapi, hal ini bukan berarti menyenangkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebab, tokoh-tokoh yang bermain dalam permainan itu harus bertaruh nyawa agar bisa bertahan dan memenangkan permainan dengan iming-iming hadiah mencapai 45,6 miliar won atau sekitar Rp542,64 miliar (kurs Rp11,9 per won).
Para pemain rela bertaruh nyawa karena umumnya berasal dari kalangan yang kesulitan ekonomi, bahkan terlilit utang. Salah satunya, tokoh Gi-hoon yang diperankan oleh aktor Lee Jung-jae.
Ia merupakan pengangguran yang tinggal bersama ibunya yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang di pasar. Sehari-hari, ia tak memiliki penghasilan, sehingga ditinggal istri dan anaknya, lalu menggantungkan hidup pada ibunya.
Alih-alih mencari pekerjaan, sehari-hari ia hanya mencari peruntungan dari judi, sampai akhirnya mendapat undangan untuk bermain di permainan yang mempertaruhkan nyawa itu. Bukan cuma Gi-hoon, tokoh-tokoh lain pun punya permasalahan ekonomi dalam hidupnya sehingga bertaruh di Squid Game.
Sutradara Squid Game Hwang Dong-hyuk rupanya memang sengaja menghadirkan cerminan kesulitan ekonomi di serial ini. Ia menuturkan permasalahan ekonomi adalah hal yang pernah dialaminya dan juga banyak orang di Korsel.
"Mereka (Gi-hoon dan Sang-woo) merupakan dua sisi hidup saya. Seperti Gi-hoon, saya dibesarkan ibu tunggal dengan permasalahan ekonomi di Ssangmun-dong," ungkap Hwang Dong-hyuk.
Lantas, bagaimana kondisi perekonomian masyarakat di negeri k-pop itu sebenarnya?
Tingkat Pengangguran Tinggi
Squid Game, serial baru Korsel yang sedang booming, menggambarkan ketimpangan ekonomi di Korsel. (Dok. Netflix via IMDb).
Data lembaga riset CEIC mencatat produk domestik bruto (PDB) mencapai US$1.737 triliun per Maret 2021. Korsel menempati posisi negara dengan ekonomi terbesar ke-10 di dunia di jajaran G20.
Pertumbuhan ekonomi negara tersebut 1,7 persen per Maret 2021 setelah dihantam dampak pandemi covid-19 yang mewabah di seluruh dunia. Sementara itu, tingkat pengangguran 3,3 persen per Juli 2021.
Tingkat pengangguran ini sebenarnya sudah jauh turun dari rekor tertinggi yang pernah dicapai Korsel, yaitu 71, persen pada Juni 1999. Namun, belum mencapai titik terendah sebesar 3 persen pada September 2013.
Bila dibandingkan dengan Jepang yang sama-sama berada di kawasan Asia Timur, tingkat pengangguran Korsel lebih tinggi, di mana negeri sakura cuma 2,6 persen. Namun, tingkat pengangguran Korsel lebih rendah dari China sebesar 3,86 persen.
Lebih lanjut, rasio nilai utang rumah tangga di Korsel mencapai 106,6 persen dari PDB per Desember 2020. Ini merupakan rekor tertinggi rasio utang rumah tangga dalam sejarah Korsel.
Sebelumnya, rasio utang rumah tangga berada di kisaran 103,8 persen dari PDB per September 2020. Sedangkan rekor terendah sekitar 63,8 persen dari PDB pada Maret 2005.
[Gambas:Video CNN]