Buwas Beberkan Bulog Berpotensi 'Buntung'

Christine Novita Nababan | CNN Indonesia
Senin, 18 Oct 2021 20:40 WIB
Dirut Bulog Buwas membeberkan bahwa perusahaan pimpinannya berpotensi rugi karena penyaluran beras rendah, padahal penyerapan beras petani tinggi. Dirut Bulog Buwas membeberkan bahwa perusahaan pimpinannya berpotensi rugi karena penyaluran beras rendah, padahal penyerapan beras petani tinggi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Utama Bulog Budi Waseso membeberkan kondisi perusahaan yang dipimpinnya berpotensi merugi karena penyaluran beras lebih rendah dibandingkan dengan biaya penyerapan gabah dan beras petani. Termasuk juga, ongkos perawatannya.

"Tentunya, potensi Bulog merugi itu pasti. Kenapa? Ya, kita uangnya pinjam, bunga itu komersil berjalan terus," ungkap Buwas, panggilan akrabnya, dalam Laporan Akhir Hasil Pemeriksaan (LAHP) Ombudsman RI terkait tata kelola beras, dilansir Antara, Senin (18/10).

Yang paling mendasar, kata Buwas, hilangnya pangsa pasar Bulog untuk menyalurkan cadangan beras pemerintah (CBP) yang diserap dari petani.


Hal ini dikarenakan bansos beras untuk rakyat sejahtera (rastra) disetop dan diganti dengan bantuan pangan non tunai (BNPT). Dari sana, Bulog kehilangan pangsa pasar sebanyak 2,6 juta ton setiap tahun untuk menyalurkan CBP.

Saat ini, Bulog hanya menyalurkan CBP untuk keperluan operasi pasar dan bantuan bencana alam yang jumlahnya sekitar 850 ribu ton per tahun. Di luar itu, Bulog menyalurkan CBP bila ada program yang dijalankan alias tidak rutin, seperti bantuan beras PPKM dan lain sebagainya.

Di sisi lain, Bulog juga wajib menyerap gabah hasil panen petani untuk kebutuhan CBP minimal 1 juta ton dan maksimal 1,5 juta ton. Nah, penyerapan beras petani ini dilakukan lewat pembiayaan bank dengan bunga komersil.

Belum lagi, ongkos perawatan beras selama masa penyimpanan di gudang. Padahal, gudang yang digunakan pun gudang biasa. Bukan gudang khusus untuk menyimpan beras. Sehingga, kualitas beras semakin lama disimpan akan semakin turun mutu dan tidak bisa disalurkan ke pasar.

"Saya harus jujur bahwa gudang Bulog bukan gudang beras, tapi gudang pada umumnya. Jadi, bagaimana mau menyimpan suatu pangan bisa awet? Tidak mungkin. Supaya awet, perawatannya jadi mahal," imbuh Buwas.

Sementara itu, Bulog, lanjut dia, tidak memiliki kewenangan untuk menyalurkan beras CBP, kecuali untuk kebutuhan operasi pasar guna menstabilkan harga beras. Penyaluran CBP harus melalui penugasan pemerintah karena CBP merupakan beras milik negara.

Karenanya, ketika BUlog diwajibkan untuk terus menyerap beras hasil panen petani, namun tidak bisa disalurkan ke pasar dan disimpan terlalu lama di gudang, maka perusahaan merugi.

[Gambas:Video CNN]



(bir/bir)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER