Asing Lepas Surat Utang, Beralih ke Saham pada Pekan Ini

CNN Indonesia
Jumat, 22 Oct 2021 19:36 WIB
BI mencatat investor asing melepas kepemilikan surat utang atau SBN di Indonesia senilai Rp1,35 triliun pada 18-21 Oktober 2021. BI mencatat investor asing melepas kepemilikan surat utang atau SBN di Indonesia senilai Rp1,35 triliun pada 18-21 Oktober 2021. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Indonesia (BI) mencatat investor asing melepas kepemilikan surat utang atau Surat Berharga Negara (SBN) di Indonesia senilai Rp1,35 triliun pada 18-21 Oktober 2021.

Realisasinya berbanding terbalik dari pekan lalu, di mana asing justru melakukan pembelian surat utang mencapai Rp1,78 triliun.

Kendati begitu, minat asing terhadap pasar keuangan nasional sejatinya tidak hilang. Sebab pada periode yang sama, asing justru memborong saham di pasar modal mencapai Rp2,06 triliun.


"Jual neto di pasar SBN sebesar Rp1,35 triliun dan beli neto di pasar saham sebesar Rp2,06 triliun," ungkap Direktur Eksekutif dan Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangan resmi, Jumat (22/10).

Bersamaan dengan realisasi surat utang dan saham, maka pasar keuangan Indonesia mencatat aliran modal asing masuk alias capital inflow sebesar Rp710 miliar. Sementara, secara tahun berjalan, akumulasi capital inflow mencapai Rp11,55 triliun pada Januari-Oktober 2021.

Sementara itu, bank sentral nasional mencatat tingkat premi risiko Credit Default Swaps (CDS) Indonesia lima tahun turun dari 84,82 basis poin (bps) menjadi 82,17 bps. Namun, tingkat imbal hasil (yield) SBN bertenor 10 tahun justru naik ke 6,19 persen.

Yield SBN ini lebih tinggi dari yield surat utang AS, US Treasury bertenor 10 tahun di kisaran 1,7 persen. Tapi serupa dengan SBN, yield surat utang negeri Paman Sam juga naik pada pekan ini.

Sementara, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp14.122 per dolar AS pada akhir perdagangan sore ini. Sedangkan kurs referensi JISDOR BI menempatkan rupiah di Rp14.162 per dolar AS.

[Gambas:Video CNN]

Inflasi 0,08 Persen

BI turut memberikan laporan Survei Pemantauan Harga (SPH) terhadap harga kebutuhan pokok masyarakat pada pekan ketiga Oktober 2021. Hasil pemantauan menyatakan harga sejumlah komoditas meningkat, sehingga menimbulkan inflasi secara bulanan sebesar 0,08 persen.

Sedangkan, inflasi secara tahun berjalan berada di kisaran 0,88 persen. Sedangkan inflasi tahunan mencapai 1,62 persen.

"Penyumbang utama inflasi Oktober 2021 sampai dengan minggu kedua, yaitu komoditas cabai merah sebesar 0,06 persen," terang Erwin.

Selain itu, kenaikan harga juga terjadi pada minyak goreng sekitar 0,03 persen serta cabai rawit, rokok kretek filter dan angkutan udara masing-masing sebesar 0,01 persen. Tapi, ada beberapa komoditas yang turun harganya, sehingga memunculkan deflasi.

"Beberapa komoditas mengalami deflasi, antara lain telur ayam ras dan tomat masing-masing sebesar 0,03 persen serta bayam, kangkung, sawi hijau, bawang merah dan emas perhiasan masing-masing sebesar 0,01 persen," pungkasnya.

(uli/bir)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER