Menkeu Sindir Aset Negara Kalah Populer dari Utang dan Pajak

CNN Indonesia
Senin, 15 Nov 2021 11:04 WIB
Menkeu Sri Mulyani menyebut aset negara kalah populer dalam perbincangan masyarakat dibandingkan utang dan pajak. Menkeu Sri Mulyani menyebut aset negara kalah populer dalam perbincangan masyarakat dibandingkan utang dan pajak. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyindir bahwa instrumen keuangan negara dalam APBN, yaitu aset negara, kalah populer dibandingkan instrumen lainnya, seperti utang dan penerimaan dari pajak.

Ia menyebut pemahaman barang milik negara (BMN) misalnya, yang merupakan aset negara di masyarakat masih sangat kurang. Yang ramai dibicarakan hanya soal utang negara dan pajak.

"BMN merupakan aset milik negara, sering di dalam pembicaraan di publik BMN ini kurang populer dibandingkan dua hal lain yang lebih sering disampaikan atau sering dibicarakan di publik, yaitu aspek pajak dan aspek utang negara," bebernya pada acara Apresiasi Kekayaan Negara DJKN Kemenkeu, Senin (15/11).

Ani, sapaan akrabnya, menyebut BMN dan aset negara secara keseluruhan tak kalah pentingnya dari utang dan penerimaan pajak. Padahal, tidak hanya utang saja yang bertambah, ia menyebut aset negara juga bertumbuh.

Ani mencatat aset negara mencapai Rp11.098,67 triliun pada 2020. Angka itu meningkat sebesar 6,02 persen dibandingkan 2019 lalu, yakni Rp10.467,53 triliun.

"Kenaikan nilai aset negara kita lebih dari Rp4.000 triliun, ini adalah sisi neraca yang tidak dibahas karena yang sering dilihat adalah sumbernya penerimaan, utamanya pajak dan pembiayaan, yaitu utang," jelasnya.

Oleh karena itu, ia mengingatkan anak buahnya untuk tak lelah menyampaikan kepada publik akan aset dan kekayaan negara serta fungsinya dalam kehidupan masyarakat.

Ani mengakui bahwa ada kesulitan di masyarakat memahami soal aset negara, khususnya yang bersifat intangible atau yang tidak dapat dilihat secara kasat mata. Menurut Ani, perbaikan SDM dan inovasi bangsa juga masuk dalam aset intangible yang sering luput.

Ia menambahkan bahwa aset negara tak hanya berupa bangunan yang bisa dilihat saja, seperti bandara, gedung kedutaan besar di luar negeri, jalan tol, dan sebagainya.

"Kita tidak boleh melupakan ada aset yang sifatnya intangible atau kualitas manusia yang sehat dan makin cerdas, yang memiliki skill (keahlian) itu aset yang intangible," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]



(wel/bir)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER