Bappenas Ungkap Alasan RI Lower Middle Income: Produktivitas Rendah

Christine Novita Nababan | CNN Indonesia
Selasa, 23 Nov 2021 08:18 WIB
Bappenas menyebut tingkat produktivitas RI masih rendah, bahkan menjadi isu dalam 30 tahun terakhir. Tak heran, RI terjebak dalam lower middle income. Bappenas menyebut tingkat produktivitas RI masih rendah, bahkan menjadi isu dalam 30 tahun terakhir. Tak heran, RI terjebak dalam lower middle income. Ilustrasi. (CNN Indonesia/ Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa menyebut bahwa tingkat produktivitas RI masih rendah. Bahkan, menjadi isu dalam 30 tahun terakhir.

"Dan, kita tidak pernah loncat dalam tingkat produktivitas," imbuhnya dalam sambutan wisuda Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Banking School (STIE-IBS) secara daring dikutip Antara, Senin (22/11).

Menurut Suharso, penyebab rendahnya produktivitas Indonesia karena jarangnya mahasiswa yang mempelajari total factor productivity (TFP).


"Padahal, ini penting untuk mendorong capital dalam pertumbuhan ekonomi dan regulasi kita masih tertinggal," jelasnya.

Kondisi ini tidak terlepas dari destruksi teknologi dan model bisnis yang berubah. Begitu pun di industri keuangan.

Permintaan sumber daya manusia (SDM), sambung dia, juga berubah sehingga membutuhkan peningkatan keahlian (upscalling) dari SDM untuk menghasilkan tenaga kerja terampil.

Karenanya, dalam 12 tahun terakhir, perekonomian Indonesia cenderung tumbuh di bawah angka potensialnya.

"Satu hal yang perlu dicatat mengapa kita masih 'lower middle income', salah satunya karena tingkat produktivitas kita yang masih rendah," kata Suharso.

Ia menekankan kemajuan sebuah negara ditentukan oleh tingkat kompleksitas ekonominya. Makin tinggi tingkat kompleksitas ekonominya, maka semakin maju negara tersebut.

Namun sayangnya, RI memiliki tingkat kompleksitas ekonomi yang sangat rendah. Tak terkecuali dibandingkan dengan negara-negara Asia, RI masih sangat rendah.

Suharso juga menekankan pentingnya untuk fokus pada Human Capital Index, bukan Human Development Index.

[Gambas:Video CNN]



(bir/agt)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER