Luhut Sebut Separuh Kebutuhan Migas RI Berasal dari Impor

Safyra Primadhyta | CNN Indonesia
Senin, 29 Nov 2021 16:15 WIB
Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Panjaitan menyebut separuh kebutuhan migas masih dipenuhi dari impor. Rata-rata nilai impor migas US$2 miliar per tahun. Menko Luhut mengingatkan potensi lapangan migas di Indonesia masih besar. Hal itu memungkinkan untuk temuan lapangan migas baru. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan).
Nusa Dua, CNN Indonesia --

Pemerintah mendorong pelaku industri hulu minyak dan gas (migas) untuk menggarap potensi di dalam negeri. Pasalnya, saat ini, Indonesia masih mengimpor migas untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan rata-rata tahunan impor minyak Indonesia mencapai US$20 miliar dan gas US$2,5 miliar. Kondisi ini berdampak negatif terhadap defisit transaksi berjalan.

"Indonesia memiliki kebutuhan minyak 1,4 juta barel per hari. Namun, Indonesia hanya mampu memproduksi 700 ribu barel per hari. Artinya, kita hanya mampu memenuhi separuh kebutuhan domestik kita," ujar Luhut dalam sambutannya secara virtual pada The 2nd International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas 2021 di Nusa Dua, Bali, Senin (29/12).


Padahal, Indonesia memiliki potensi sumber daya energi dan mineral yang besar mengingat lokasinya berada di atas lempeng tektonik. Namun, lapangan yang ditemukan baru sebagian kecil dari potensi yang ada.

"Oleh karena itu, penemuan lapangan baru sangat memungkinkan ujarnya," ujarnya.

Pada saat yang sama, pemerintah akan meningkatkan produksi dari lapangan yang ada melalui berbagai cara. Misalnya, metode enhanced oil recovery (EOR) dapat memperpanjang produktivitas lapangan, terutama di lapangan tua.

Selain itu, EOR juga bisa dikombinasikan dengan teknologi penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon (carbon captured, utilization, and storage/CCUS) yang dapat menekan emisi. Hal ini sejalan dengan komitmen Indonesia untuk menekan emisi karbon dalam Konferensi Iklim COP26.

"Meski pun demikian, kami masih harus mempelajari teknologi CCUS dan dampaknya pada jangka panjang," jelasnya.

Sebagai catatan, proyek CCUS pertama rencananya digarap oleh BP sebagai bagian dari pengembangan lapangan Tangguh LNG di Papua Barat. Cara kerjanya, karbondioksida yang dihasilkan oleh proses pengeboran diinjeksikan kembali ke reservoir.

Adapun, rencana pengembangan (PoD) proyek Vorwata CCUS ini telah disetujui Satuan Kerja Khusus Pelaksana Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) pada Agustus lalu.

Ke depan, Luhut meyakini industri hulu migas bisa menjadi pendorong ekonomi berkelanjutan. Dalam hal ini, industri tidak hanya memberikan nilai tambah tetapi juga meningkatkan pengembangan infrastruktur di daerah, terutama di daerah terdepan, terpencil, dan tertinggal.

[Gambas:Video CNN]



(sfr/agt)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER