Sri Mulyani Bongkar Efek Penurunan Produksi Migas ke Ekonomi Makro

Safyra Primadhyta | CNN Indonesia
Selasa, 30 Nov 2021 19:21 WIB
Menkeu Sri Mulyani menyebut penurunan produksi migas membuat ekonomi rapuh karena pasokan energi harus ditutup dari impor. Menkeu Sri Mulyani menyorot produksi industri hulu migas yang terus merosot selama satu dekade terakhir yang dapat membebani ekonomi makro. (CNN Indonesia/ Andry Novelino).
Nusa Dua, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyorot kinerja produksi industri hulu minyak dan gas (migas) yang merosot selama satu dekade terakhir. Pasalnya, permintaan terhadap energi terus meningkat terutama di negara berkembang.

"Jika kita berbicara migas di Indonesia kita menyaksikan lifting (produksi siap jual) yang terus merosot. Lifting migas pada 2020 hanya 707 ribu barel per hari dan kita juga melihat produksi gas turun menjadi 983 ribu BOEPD," ujar Ani, sapaan akrabnya, dalam paparan secara virtual dalam The 2nd International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas 2021 di Nusa Dua, Bali, Selasa (30/11).

Sebagai catatan, pada 2020 lalu, lifting minyak Indonesia tercatat 953 ribu bph dan lifting gas menembus 1,39 juta BOEPD.


Ani menaruh perhatian lantaran selisih antara pasokan dan permintaan energi bakal melebar. Kondisi tersebut akan berpengaruh pada neraca perdagangan, khususnya transaksi berjalan, mengingat pemenuhan kebutuhan akan ditutup dari impor.

"Hal ini memberi kelemahan bagi perekonomian jika ingin tumbuh secara stabil dan berkelanjutan. Jadi, migas menciptakan situasi yang menantang," ujarnya.

Di sisi lain, ia menyadari isu perubahan iklim menjadi perhatian utama bagi pembuat kebijakan di dunia. Masalah ini akan berpengaruh pada industri migas.

"Banyak diskusi terkait bagaimana Indonesia dan dunia dapat bertransformasi ke jalur net zero emission menjadi sangat penting dan pastinya akan berpengaruh pada industri migas," terangnya.

Pemerintah Indonesia, sambungnya, mendorong investasi demi meningkatkan produksi migas yang akan mengurangi beban neraca dagang. Terlebih, saat ini, masih ada 96 cekungan (basin) yang belum dieksplorasi secara optimal. Salah satunya caranya adalah memberikan insentif fiskal bagi pelaku usaha hulu migas.

Di sisi lain, pemerintah juga memiliki komitmen kuat untuk mencegah bencana iklim dengan target mengurangi emisi karbon. Hal ini sesuai dengan hasil pertemuan antarnegara dalam Konferensi Iklim COP26 di Glasgow beberapa waktu lalu.

Untuk itu, Kementerian Keuangan akan berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk bisa mencapai kedua tujuan tersebut. Mulai dari Kementerian ESDM, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, hingga Kementerian Transportasi.

"Kementerian Keuangan akan terus bekerja dengan Kementerian ESDM dan industri untuk bisa merancang kebijakan yang tepat agar Indonesia bisa terus tumbuh, memiliki energi yang akan mendukung pemulihan ekonomi dan bersama-sama mengatasi masalah kemiskinan," jelasnya.

[Gambas:Video CNN]



(sfr/agt)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER