Hendro, Buah Naga dan Cerita Omzet Melesat Berkat Sinar Listrik
Agus Triyono | CNN Indonesia
Rabu, 15 Des 2021 13:59 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Tak hanya untuk pertanian, listrik juga bisa digunakan untuk meningkatkan produktivitas hasil peternakan. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi).
Segendang sepenarian dengan Hendro dan petani buah naga di Banyuwangi, manfaat besar dari listrik juga didapat oleh Ahmad Royani, peternak ayam di Wanareja, Sirampong, Brebes Jawa Tengah.
Manfaat itu ia rasakan semenjak menerapkan sistem peternakan ayam closed house mulai sekitar 2017 lalu. Ia bercerita semenjak menerapkan sistem itu, produktivitas hasil peternakannya meningkat sampai dengan tiga kali lipat dibandingkan dengan sistem biasa.
Pasalnya, dengan menggunakan sistem itu kandang lebih steril, udara lebih bersih, oksigen dan temperatur menjadi lebih terjamin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena kan semua kita bisa atur dengan listrik," katanya.
Ia mengakui ada biaya yang dibutuhkan untuk menerapkan sistem itu. Salah satunya, untuk instalasi listrik baru dengan daya 4.000 KVa sebesar Rp8 juta.
"Yang lain saya buat sendiri, seperti blower dan lain sebagainya, jadi kebutuhan besar untuk pasang listrik," katanya.
Tapi, investasi itu tertutup dengan hasil ternaknya yang menjadi lebih bagus.
"Karena produktivitasnya lebih bagus, bandingannya dengan yang konvensional naiknya dari sisi omzet, bisa Rp2.000 banding Rp6.000. Karena kalau yang konvensional tidak bisa diukur hasilnya, kadang dapat untung besar, kadang minus, kadang pas-pasan. Kalau yang ini lebih pasti," katanya.
Direktur Niaga dan Manajemen PLN Bob Saril mengatakan pemanfaatan energi listrik untuk electrifying agriculture, peternakan dan kegiatan produktif lainnya sekarang ini memang menjadi salah satu perhatian dari perusahaannya.
Pasalnya, melalui sistem ini, produktivitas pertanian dan peternakan bisa meningkat sampai dengan berkali lipat. Tak hanya itu, melalui sistem ini, biaya operasional para petani juga bisa ditekan sampai dengan 60 persen.
Karena tingginya manfaat itu, Bob menambahkan inovasi ini cukup diminati oleh petani dan masyarakat. Berdasarkan data yang dimilikinya, sampai dengan November kemarin sudah ada 160 ribu-an petani yang memanfaatkan sistem ini untuk menggenjot usaha mereka.
"Ini tentu perkembangan yang menggembirakan," katanya.
Bob menambahkan agar sistem itu bisa semakin luas dimanfaatkan masyarakat, pihaknya terus melakukan berbagai upaya. Pertama, memberikan kemudahan akses listrik kepada masyarakat.
Kedua, memberikan layanan konsultasi kepada masyarakat tentang pemanfaatan listrik di sektor pertanian. Ketiga, membantu membentuk kelompok tani guna mengawinkan mereka dengan marketplace sehingga pemasaran produk mereka lebih mudah.
"Kami juga mengajak para petani milenial untuk menggunakan teknologi berbasis digital, meningkatkan elektrifikasi yang ada sampai ke sektor pertanaian sehingga dan mendorong para petani mengganti alat mereka menjadi berbasis listrik dengan menggandeng kelompok tani," katanya.
Ekonom CORE Muhammad Faisal sementara itu mengatakan supaya program itu berhasil PLN dan pemerintah juga harus bahu membahu dalam menjaga kualitas penyediaan listrik.
"Di tengah efektifitas dan manfaat ini, PLN dan pemerintah harus memberikan dukungan infrastruktur yang kuat, bukan hanya jangkauan elektrifikasi yang bagus tapi juga volume dan kualitas listrik harus bagus juga, diperhatikan jangan sering mati. Itu salah satu poin utama karena listrik itu bahan bakar ekonomi," katanya.
Selain itu, ia juga menyarankan kepada pemerintah dan PLN untuk bisa memberikan diskon tarif untuk masyarakat yang memanfaatkan listrik untuk keperluan produktif.
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba PLN Journalist Award 2021 dengan tema 'Energi untuk Kebangkitan Ekonomi Negeri'.
Riil dan tidak mengada-ada. Begitulah cerita Hendro, petanibuah nagaasal Desa Sumber Mulya, Pesanggaran Banyuwangi soal besarnya manfaat listrik bagi kegiatan ekonominya.
Maklum, karena listrik, penghasilannya sebagai petani buah naga bisa melejit 3 sampai dengan 4 kali lipat jika dibandingkan sebelumnya.
Kepada CNNIndonesia.com Selasa (14/12) kemarin, lelaki yang sudah menjadi petani buah naga sejak 2009 ini bercerita manfaat besar itu ia dapatkan setelah melakukan inovasi pertanian dengan menggunakan metode electrifying agriculture.
Metode ini mengandalkan sinar lampu LED untuk meningkatkan produktivitas pertanian buah naganya. Penyinaran dilakukan pada periode Februari sampai dengan Oktober atau November.
Pada periode itu buah naga sedang tidak musim. Dengan metode ini, pohon buah naga tetap bias berbuah sepanjang tahun meskipun sedang tidak musim.
"Saat itu, kita akan melakukan penyinaran lampu di pohon buah naga, penyalaan dilakukan tidak full 24 jam, hanya 6 jam saja demi membantu buah naga berbunga dan kemudian berbuah di luar musimnya," katanya.
Tak Sengaja
Ia menambahkan metode electrifying agriculture di tempatnya sebenarnya dimulai tanpa sengaja. Cerita berawal pada 2013 lalu, kala seorang petani buah naga di daerahnya menanam buah naga di depan rumah, berdekatan dengan bola lampu berwarna kuning.
Pada saat tidak musim, pohon buah naga yang berada di bawah lampu tersebut tetap berbuah. Petani yang sadar dengan fenomena itu, mencoba untuk melakukan hal yang sama di pohon buah naga lain.
Percobaan membuahkan hasil; pohon buah naga yang diberi lampu tetap berbuah meskipun sedang tidak musim. Dari situlah, dengan bantuan dan pendampingan dari PLN, metode pertanian ini kemudian dikembangkan.
"PLN cukup mendorong inovasi ini. Dukungan utama datang dari PLN. Kalau tidak dapat support PLN kita enggak bisa jalan," katanya.
Hendro menambahkan saat awal mulai menerapkan metode ini, para petani menghadapi tantangan. Salah satunya dari ketersediaan lampu.
Saat itu, perusahaan belum banyak membuat lampu yang dibutuhkan petani. Karena itulah, harga lampu saat itu bisa mencapai Rp30 ribu per biji.
Jika lampu yang dibutuhkan dalam setiap hektare lahan mencapai 1.625 buah, maka total dana yang dibutuhkan mencapai Rp48,75 juta.
Selain untuk pembelian lampu, petani juga harus mengeluarkan modal untuk memasang instalasi listrik dari PLN.
"Jadi kalkulasinya, untuk total semua dari instalasi lampu, sambungan dari PLN ke kebun per hektare itu bisa tembus Rp130 juta," katanya.
Tapi, besarnya investasi awal itu, kini terbayar. Usahanya dan teman-temannya membuahkan hasil gemilang. Produktivitas pertanian buah naga melonjak tajam.
Berdasar perhitungannya, hasil panen buah naga bisa mencapai 10 ton per hektare. Hasil panen itu bisa memberikan pendapatan kotor sekitar Rp400 juta, bergantung dengan harga buah naga di pasaran.
Kalau dibandingkan saat pertanian buah naga masih dilakukan dengan metode konvensional, hasil itu melonjak 3 sampai dengan 4 kali lipat.
Ia mengatakan lonjakan penghasilan tidak hanya dialaminya saja. Lonjakan juga dialami oleh para petani buah naga lainnya di daerah Banyuwangi selatan tempatnya tinggal.
Data yang dimilikinya, sampai dengan pertengahan 2020 kemarin 290 petani dengan kepemilikan lahan 240 hektare yang merasakan manfaat besar dari penggunaan metode pertanian tersebut.
"Tak hanya itu, lapangan kerja juga semakin terbuka. Saking banyaknya orang kerja di sini, sulit mencari tenaga kerja lagi. Jadi, manfaat listrik ini benar-benar riil bukan khayalan atau mengada-ada," katanya.
Listrik untuk Peternakan
Tak hanya untuk pertanian, listrik juga bisa digunakan untuk meningkatkan produktivitas hasil peternakan. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi).
Segendang sepenarian dengan Hendro dan petani buah naga di Banyuwangi, manfaat besar dari listrik juga didapat oleh Ahmad Royani, peternak ayam di Wanareja, Sirampong, Brebes Jawa Tengah.
Manfaat itu ia rasakan semenjak menerapkan sistem peternakan ayam closed house mulai sekitar 2017 lalu. Ia bercerita semenjak menerapkan sistem itu, produktivitas hasil peternakannya meningkat sampai dengan tiga kali lipat dibandingkan dengan sistem biasa.
Pasalnya, dengan menggunakan sistem itu kandang lebih steril, udara lebih bersih, oksigen dan temperatur menjadi lebih terjamin.
"Karena kan semua kita bisa atur dengan listrik," katanya.
Ia mengakui ada biaya yang dibutuhkan untuk menerapkan sistem itu. Salah satunya, untuk instalasi listrik baru dengan daya 4.000 KVa sebesar Rp8 juta.
"Yang lain saya buat sendiri, seperti blower dan lain sebagainya, jadi kebutuhan besar untuk pasang listrik," katanya.
Tapi, investasi itu tertutup dengan hasil ternaknya yang menjadi lebih bagus.
"Karena produktivitasnya lebih bagus, bandingannya dengan yang konvensional naiknya dari sisi omzet, bisa Rp2.000 banding Rp6.000. Karena kalau yang konvensional tidak bisa diukur hasilnya, kadang dapat untung besar, kadang minus, kadang pas-pasan. Kalau yang ini lebih pasti," katanya.
Direktur Niaga dan Manajemen PLN Bob Saril mengatakan pemanfaatan energi listrik untuk electrifying agriculture, peternakan dan kegiatan produktif lainnya sekarang ini memang menjadi salah satu perhatian dari perusahaannya.
Pasalnya, melalui sistem ini, produktivitas pertanian dan peternakan bisa meningkat sampai dengan berkali lipat. Tak hanya itu, melalui sistem ini, biaya operasional para petani juga bisa ditekan sampai dengan 60 persen.
Karena tingginya manfaat itu, Bob menambahkan inovasi ini cukup diminati oleh petani dan masyarakat. Berdasarkan data yang dimilikinya, sampai dengan November kemarin sudah ada 160 ribu-an petani yang memanfaatkan sistem ini untuk menggenjot usaha mereka.
"Ini tentu perkembangan yang menggembirakan," katanya.
Bob menambahkan agar sistem itu bisa semakin luas dimanfaatkan masyarakat, pihaknya terus melakukan berbagai upaya. Pertama, memberikan kemudahan akses listrik kepada masyarakat.
Kedua, memberikan layanan konsultasi kepada masyarakat tentang pemanfaatan listrik di sektor pertanian. Ketiga, membantu membentuk kelompok tani guna mengawinkan mereka dengan marketplace sehingga pemasaran produk mereka lebih mudah.
"Kami juga mengajak para petani milenial untuk menggunakan teknologi berbasis digital, meningkatkan elektrifikasi yang ada sampai ke sektor pertanaian sehingga dan mendorong para petani mengganti alat mereka menjadi berbasis listrik dengan menggandeng kelompok tani," katanya.
Ekonom CORE Muhammad Faisal sementara itu mengatakan supaya program itu berhasil PLN dan pemerintah juga harus bahu membahu dalam menjaga kualitas penyediaan listrik.
"Di tengah efektifitas dan manfaat ini, PLN dan pemerintah harus memberikan dukungan infrastruktur yang kuat, bukan hanya jangkauan elektrifikasi yang bagus tapi juga volume dan kualitas listrik harus bagus juga, diperhatikan jangan sering mati. Itu salah satu poin utama karena listrik itu bahan bakar ekonomi," katanya.
Selain itu, ia juga menyarankan kepada pemerintah dan PLN untuk bisa memberikan diskon tarif untuk masyarakat yang memanfaatkan listrik untuk keperluan produktif.
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba PLN Journalist Award 2021 dengan tema 'Energi untuk Kebangkitan Ekonomi Negeri'.