Utang Garuda Indonesia Tembus Rp140 Triliun per Kuartal III 2021
Prasetio memaparkan di tahun depan pihaknya menargetkan pertumbuhan sebesar 40 persen. Diharapkan, 2022 menjadi tahun pemulihan Garuda, baik dari sisi lalu lintas, maupun negosiasi dengan kreditur.
Menurut dia, pihak Garuda telah mengajukan proposal perdamaian yang memberikan win-win solution untuk kedua pihak yang memungkinkan Garuda pada suatu titik mampu membayarkan utangnya.
Dalam proposal tersebut diproyeksikan pengangkutan penumpang Garuda bisa pulih secara bertahap hingga kembali ke posisi normal pada 2024 mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada kesempatan sama, Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menyebut pihaknya punya beberapa strategi menghadapi tahun depan dengan rencana bisnis baru yang menekankan empat elemen.
Pertama, mengoptimalkan rute penerbangan yang menguntungkan; fokus pada rute penerbangan domestik, dan hanya terbang ke destinasi internasional tertentu.
Kedua, menyesuaikan jumlah armada dengan kebutuhan, baik Garuda maupun anak usaha Citilink. Selain itu, tahun depan tipe pesawat yang digunakan akan dirampingkan guna mengoptimalkan biaya perawatan.
Ketiga, melakukan renegosiasi kontak sewa pesawat yang saat ini sedang berlangsung. Keempat, meningkatkan kontribusi pendapatan kargo melalui optimalisasi belly capacity dan digitalisasi operasional.
Di sisi lain, Irfan tak menampik ada lessor yang tidak terima dengan proposal baru Garuda menurunkan jumlah sewa pesawat. Namun, ia optimistis negosiasi dengan para lessor akan berjalan lancar karena mayoritas menunjukkan sikap positif.
"Pasti ada beberapa lessor yang tidak akan terima tapi sepanjang pemahaman kami, diskusi cukup positif dengan mayoritas para lessor," tutupnya.
(bir/bir)PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk membukukan utang sebesar US$9,8 miliar setara Rp140,14 T (kurs Rp14.300) per kuartal III 2021 kepada 800 lebih kreditur.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Garuda Indonesia Prasetio menyebut banyaknya jumlah kreditur membuat proses negosiasi utang di luar persidangan (out court) menjadi sangat lama.
Ia menambahkan negosiasi ulang utang dilakukan karena pendapatan perseroan anjlok 70 persen akibat pandemi covid-19, yang pada ujungnya mengakibatkan masalah likuiditas. Saat ini saja ekuitas Garuda negatif US$3 miliar akibat penurunan pendapatan yang lebih besar dari beban.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Total utang sesuai PSAK telah mencapai US$9,8 miliar, dengan total kreditur kami kurang lebih 800 kreditur," jelas Prasetio pada paparan kinerja kuartal III 2021 kepada media, Senin (20/12).
Ia juga memaparkan bahwa jumlah penumpang pada kuartal III 2021 masih jauh dari normal, yaitu hanya 1,8 juta penumpang dari normalnya 8,2 juta orang pada kuartal III 2019 lalu. Artinya, penumpang yang diangkut maskapai nasional baru 21,6 persen dari dua tahun lalu.
Hal serupa juga terjadi pada angkutan kargo, walau tidak separah angkutan penumpang. Untuk periode yang sama, kargo yang diangkut pada 2019 adalah 80,9 ribu ton dan pada 2021 menjadi 66,4 ribu ton.
Lihat Juga : |
Hingga kuartal III 2021, Grup Garuda Indonesia mencatatkan kerugian sebesar US$516,3 juta, naik dari kuartal sebelumnya US$385,4 juta akibat pengetatan mobilitas lewat PPKM Level 3.
Oleh karena itu, ia mengaku berharap terjadi perbaikan kinerja pada kuartal akhir tahun ini. Walau optimis bertumbuh positif, namun perusahaan belum punya proyeksi angka pertumbuhan di kuartal IV mendatang.
"Kami terus konsentrasi di kontribusi margin I, kami harapkan kontribusi margin kuartal IV akan membaik dan harapkan cukup untuk membiayai operating dari pesawat yang dioperasikan," jelas dia.
Strategi Tahun Depan
Garuda Indonesia tercatat memiliki utang US$9,8 miliar atau Rp140,14 triliun hingga kuartal ketiga tahun ini. Utang itu terdiri dari 800 kreditur. (CNN Indonesia/Fajrian).
Prasetio memaparkan di tahun depan pihaknya menargetkan pertumbuhan sebesar 40 persen. Diharapkan, 2022 menjadi tahun pemulihan Garuda, baik dari sisi lalu lintas, maupun negosiasi dengan kreditur.
Menurut dia, pihak Garuda telah mengajukan proposal perdamaian yang memberikan win-win solution untuk kedua pihak yang memungkinkan Garuda pada suatu titik mampu membayarkan utangnya.
Dalam proposal tersebut diproyeksikan pengangkutan penumpang Garuda bisa pulih secara bertahap hingga kembali ke posisi normal pada 2024 mendatang.
Pada kesempatan sama, Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menyebut pihaknya punya beberapa strategi menghadapi tahun depan dengan rencana bisnis baru yang menekankan empat elemen.
Pertama, mengoptimalkan rute penerbangan yang menguntungkan; fokus pada rute penerbangan domestik, dan hanya terbang ke destinasi internasional tertentu.
Kedua, menyesuaikan jumlah armada dengan kebutuhan, baik Garuda maupun anak usaha Citilink. Selain itu, tahun depan tipe pesawat yang digunakan akan dirampingkan guna mengoptimalkan biaya perawatan.
Ketiga, melakukan renegosiasi kontak sewa pesawat yang saat ini sedang berlangsung. Keempat, meningkatkan kontribusi pendapatan kargo melalui optimalisasi belly capacity dan digitalisasi operasional.
Di sisi lain, Irfan tak menampik ada lessor yang tidak terima dengan proposal baru Garuda menurunkan jumlah sewa pesawat. Namun, ia optimistis negosiasi dengan para lessor akan berjalan lancar karena mayoritas menunjukkan sikap positif.
"Pasti ada beberapa lessor yang tidak akan terima tapi sepanjang pemahaman kami, diskusi cukup positif dengan mayoritas para lessor," tutupnya.