REKOMENDASI SAHAM

Pilihan Saham Cuan di Akhir 2021

CNN Indonesia
Senin, 27 Des 2021 07:10 WIB
Analis menyebut ada sejumlah saham yang bisa menawarkan keuntungan di akhir tahun ini. Berikut rinciannya. Analis menyebut ada sejumlah saham yang bisa menawarkan keuntungan di akhir tahun ini. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 7,34 poin atau naik 0,11 persen ke 6.562 pada akhir perdagangan Jumat (24/12) pekan lalu. Investor asing mencatatkan beli bersih atau net buy senilai Rp205,60 miliar.

Sementara itu, dalam sepekan indeks mengalami penguatan sebanyak tiga kali dan dua kali pelemahan. Namun performa indeks turun hingga 0,59 persen dalam seminggu terakhir.

Dikutip dari situs IDX, Pelaksana Harian Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia Yulianto Aji Sadono mengatakan pekan lalu indeks ditutup bervariasi. Namun, mayoritas berada di zona positif.


Rata-rata volume transaksi harian indeks turun dari 23,40 miliar menjadi 23,36 miliar saham. Rata-rata nilai transaksi harian bursa juga turun 16,01 persen dari Rp12,52 triliun menjadi Rp10,52 triliun.

IHSG selama sepekan naik dan menduduki posisi 6.562 dari 6.601 atau turun 0,59 persen. Sementara investor asing juga membukukan beli bersih sepanjang tahun sebesar Rp37,47 triliun.

"Kapitalisasi pasar selama sepekan turut mengalami perubahan sebesar 0,57 persen menjadi Rp8.231,797 triliun dari Rp8.278,743 triliun pada penutupan pekan sebelumnya," tulis Yulianto dalam keterangan resmi, Jumat (24/12).

Analis Mirae Asset Sekuritas Hariyanto Wijaya memproyeksikan pertumbuhan pasar modal di Indonesia akan semakin cerah pada tahun depan. Pasalnya, terdapat beberapa sentimen yang akan mendorong indeks ke arah yang lebih baik.

Salah satunya, keuntungan yang dapat diraup Indonesia dari harga komoditas yang melambung tinggi.

"Kami optimis ekuitas Indonesia pada 2022, karena kami pikir Indonesia bisa mendapatkan keuntungan dari harga komoditas," kata Hariyanto dalam keterangan resmi, Minggu (26/12).

Tidak hanya itu, ia bahkan optimis Indonesia akan masih menjadi target atau tujuan dana asing dalam beberapa waktu ke depan. Itu seiring data historis dan naiknya harga komoditas.

Hal ini pernah terjadi pada 2013 hingga 2014 dan 2020 hingga 2021.

"Karena kami memperkirakan harga komoditas yang menguntungkan akan berlanjut pada tahun depan, kami memperkirakan hal ini akan terus menarik arus masuk asing lebih lanjut ke ekuitas Indonesia," ujarnya.

Selain itu, harga crude palm oil (CPO) yang cenderung menguntungkan juga dapat mendongkrak pendapatan bagi indeks dalam negeri.

"Menurut kami, dampak positif dari harga CPO yang menguntungkan akan dimulai pada 2022, ketika para petani kecil perkebunan CPO, yang cenderung meningkatkan tabungan mereka pada 2021, mulai membelanjakan uang mereka pada 2022," ucapnya.

Hal ini dikuatkan dengan data perbankan Indonesia yang menunjukkan tabungan masyarakat naik Rp602 triliun dari Rp4.578 triliun pada Februari 2020, menjadi Rp5.180 triliun pada September 2021.

Dari luar negeri, kebijakan moneter yang dikeluarkan bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve's (The Fed) nampaknya akan memiliki dampak yang relatif terbatas terhadap pergerakan IHSG.

The Fed sendiri telah berencana untuk mengurangi pembelian obligasi bulanan dan menaikkan suku bunga. Belajar dari kebijakan pengetatan moneter AS pada 2015 hingga 2019, IHSG ia nilai mampu mengungguli kebijakan tersebut.

Ia pun merekomendasikan sejumlah saham yang dapat dikoleksi, mulai dari perbankan, retail, hingga pertambangan. Untuk bank, ia menyarankan agar pasar membeli saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BBNI.

Bank itu memiliki market cap sebesar Rp131,47 triliun dan ia yakini akan memiliki pertumbuhan earning per sharing (EPS Growth) atau laba bersih per saham sebesar 52,7 persen pada 2022.

EPS Growth sendiri merupakan laba bersih perusahaan dibagi jumlah saham beredar dan ditentukan dalam bentuk persen. EPS Growth memperlihatkan bagian laba bersih untuk pemegang 1 lembar saham suatu perusahaan.

Kemudian, PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) juga ia  perkirakan tumbuh 37,9 persen pada tahun depan. Disusul, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) yang ia proyeksikan tumbuh 12,4 persen pada tahun depan.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI yang memiliki nilai kapitalisasi pasar terbesar yakni Rp639,90 triliun juga ia rekomendasikan untuk dimiliki. Dalam sepekan, BBRI tak bergeming pada posisinya di 4.070 per lembar saham.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI yang ia proyeksikan bisa menorehkan pertumbuhan laba bersih per sahamnya sampai 24,4 persen pada tahun depan.

PT Map Aktif Adiperkasa (MAPA) juga ia proyeksikan laba bersih per sahamnya bisa tumbuh 99 persen. Namun demikian, kinerja MAPA sepekan terakhir justru memerah 5,73 persen atau turun ke 2.470.

PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan PT Adaro Energy Tbk (ADRO) menjadi emiten pertambangan yang juga direkomendasikan untuk dimiliki.

HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER