Harga Minyak Jatuh ke Bawah US$100 per Barel Dihantui Resesi

CNN Indonesia
Rabu, 06 Jul 2022 07:41 WIB
Harga minyak dunia anjlok hingga 9,5 persen karena kekhawatiran pasar terhadap resesi ekonomi global. Harga minyak dunia anjlok hingga 9,5 persen karena kekhawatiran pasar terhadap resesi ekonomi global. (AFP/Fayez Nureldine).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia anjlok hingga 9,5 persen pada akhir perdagangan Selasa waktu AS atau Rabu (6/7) pagi WIB. Ini merupakan penurunan harian terbesar sejak Maret 2022 di tengah meningkatnya kekhawatiran resesi global.

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September menurun US$10,73 atau 9,5 persen dibanding hari sebelumnya. Kini, Brent dihargai US$102,77 per barel.

Sementara, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Agustus merosot US$8,93 atau 8,2 persen menjadi US$99,50 per barel.

Harga minyak berjangka jatuh bersama dengan gas alam, bensin, dan ekuitas. Ketiganya kerap menjadi indikator permintaan minyak mentah.

Presiden Konsultan Lipow Oil Associates Andy Lipow menerangkan jika resesi benar-benar melanda dan mengurangi permintaan energi secara signifikan, harga minyak akan semakin tertekan.

"Pasar komoditas bisa sangat tak kenal ampun ketika Anda mengalami resesi dan pasokan melebihi permintaan," kata Lipow seperti dikutip dari Antara, Rabu (6/7).

Di sisi lain, lockdown covid-19 di China juga menebar kekhawatiran pasar. Pasalnya, hal tersebut dapat memperdalam pengurangan konsumsi minyak.

Pejabat Shanghai mengatakan akan memulai babak baru lockdown covid-19 terhadap 25 juta penduduknya selama periode tiga hari. Hal itu menyusul merebaknya covid-29 di Negeri Tirai Bambu.

Tidak hanya itu, kekhawatiran terhadap menurunnya permintaan minyak di musim mengemudi musim panas AS juga tampak membebani pasar.

"Kami melihat beberapa likuidasi panik. Banyak kegugupan," kata Wakil Presiden Senior untuk perdagangan BOK Financial Dennis Kissler.

Sebelumnya, Bank Dunia menyebut resesi ekonomi global sudah di depan mata. Bahkan, Bank Dunia pesimis negara-negara di dunia bisa menghindari ancaman kemunduran roda ekonomi tersebut.

Dalam laporan Global Economic Prospect June 2022 (GEP), Bank Dunia menyebutkan tekanan inflasi yang begitu tinggi di banyak negara tak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.

[Gambas:Video CNN]



(mrh/bir)
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER