Harga Minyak Bergerak 2 Arah Sepekan Kemarin

CNN Indonesia
Senin, 04 Jul 2022 07:32 WIB
Harga minyak dunia bergerak dua arah pada sepekan kemarin. Berikut sentimennya. Harga minyak dunia bergerak dua arah pada sepekan kemarin. (Tangkapan layar twitter @@PIF_en).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak melonjak lebih dari dua persen pada akhir perdagangan Jumat (1/7) atau Sabtu (2/7) pagi WIB akibat 'terbakar' sentimen penghentian pasokan dari Libya dan ekspektasi penutupan pasokan di Norwegia.

Mengutip Antara, harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September terangkat US$2,60 atau 2,4 persen ke US$111,63 per barel. Sementara harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus naik US$2,67 atau 2,5 persen ke US$108,43 per barel .

Minyak WTI dan Brent masing-masing diperdagangkan sekitar 70 persen dan 77 persen dari volume sesi sebelumnya menjelang liburan 4 Juli di Amerika Serikat. Meski menguat, harga minyak Brent sejatinya masih melemah 1,3 persen selama sepekan kemarin.

Sementara WTI hanya naik 0,8 persen. Harga minyak naik pada Jumat (1/7) meskipun rilis data industri menunjukkan aktivitas manufaktur AS bulan lalu melambat lebih dari yang diharapkan.

Kabar itu sebenarnya membebani pergerakan harga minyak karena perlambatan semakin menambah bukti bahwa ekonomi AS tengah tertekan usai Federal Reserve (Fed) memperketat kebijakan moneter demi menahan laju inflasi.

Namun beban itu berhasil diatasi oleh pengetatan pasokan minyak mentah dan bahan bakar.  Ancaman pengetatan terjadi akibat aksi pemogokan pekerja minyak dan gas Norwegia pada 5 Juli.

Pemogokan dikhawatirkan dapat memangkas produksi minyak negara itu sampai 8 persen atau sekitar 320 ribu barel setara minyak per hari.

Selain itu, ancaman pengetatan juga datang dari National Oil Corporation (NOC), perusahaan minyak milik negara Libya yang pada Kamis (30/6) lalu menyatakan force majeure di Pelabuhan Es Sider dan Ras Lanuf, serta ladang minyak El Feel masih terjadi di Pelabuhan Brega dan Zueitina.

Akibat kejadian itu, produksi minyak turun tajam dan ekspor harian hanya berkisar antara 365 ribu sampai dan 409 ribu barel per hari, turun dibandingkan dalam keadaan normal yang mencapai 865 ribu barel per hari.

"Kemampuan kompleks untuk membukukan kenaikan yang kuat hari ini dalam menghadapi kekuatan dolar AS yang signifikan dan perdagangan ekuitas yang lemah menunjukkan beberapa fokus kembali pada pasokan minyak yang ketat," kata Presiden Ritterbusch and Associates LLC Jim Ritterbusch, dalam sebuah catatan.

Tapi, sentimen itu tertahan oleh kesepakatan antara pemerintah Ekuador dan para pemimpin kelompok adat pada Kamis (30/6). Kesepakatan berisi persetujuan mengakhiri protes yang memicu penutupan lebih dari setengah produksi minyak yang terjadi lebih dari dua minggu kemarin.

[Gambas:Video CNN]



(Antara/agt)
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER