Sri Lanka dan IMF Lanjut Bahas Bailout Bulan Ini

tim | CNN Indonesia
Rabu, 03 Agu 2022 20:15 WIB
Sri Lanka akan membahas soal bailout dengan Dana Moneter Internasional (IMF) pada Agustus ini. Sri Lanka akan membahas soal bailout dengan Dana Moneter Internasional (IMF) pada Agustus ini. (AFP/Ishara S. Kodikara).
Jakarta, CNN Indonesia --

Sri Lanka akan membahas soal dana talangan (bailout) dengan Dana Moneter Internasional (IMF) pada Agustus ini.

Presiden Ranil Wickremesinghe mengatakan pihaknya akan meminta anggota parlemen membentuk pemerintahan untuk menyelesaikan masalah krisis ekonomi di negara tersebut.

Mengutip Reuters, Rabu (3/8), Ranil mengatakan bahwa amandemen konstitusi diperlukan untuk membatasi kekuasaan presiden yang menunjukkan bahwa dia akan memenuhi tuntutan utama para pengunjuk rasa yang mengusir pendahulunya, Gotabaya Rajapaksa.

"Presiden suatu negara tidak harus menjadi raja atau dewa yang ditinggikan di atas rakyatnya. Dia adalah salah satu warga negaranya," kata Wickremesinghe.

Ia mengatakan akan melanjutkan diskusi dengan IMF untuk program empat tahun yang dapat menyediakan hingga US$3 miliar.

Selain itu, pemerintah Sri Lanka juga bekerja dengan penasihat keuangan dan hukumnya Lazard dan Clifford Chance untuk merestrukturisasi utang luar negeri, termasuk sekitar US$12 miliar yang terutang kepada pemegang obligasi.

"Kami akan mengajukan rencana ini ke IMF dalam waktu dekat, dan bernegosiasi dengan negara-negara yang memberikan bantuan pinjaman," kata Wickremesinghe.

"Selanjutnya negosiasi dengan kreditur swasta juga akan mulai mencapai konsensus," imbuhnya.

Dengan anggaran sementara yang kemungkinan akan disajikan dalam beberapa minggu, Wickremesinghe mengatakan pemerintahnya sedang mengerjakan rencana ekonomi jangka panjang.

Ini termasuk menurunkan utang publik dari tingkat saat ini 140 persen dari PDB Sri Lanka menjadi kurang dari 100 persen dalam 10 tahun dan menciptakan surplus anggaran pada 2025.

Negara berpenduduk 22 juta orang tengah menghadapi krisis keuangan terburuk sejak merdeka dari jajahan Inggris pada 1948, dengan cadangan devisa terendah dan dampak pandemi covid-19, serta penurunan tajam dalam pendapatan pemerintah.

Akibat krisis tersebut, Sri Lanka mengalami kelangkaan kebutuhan pokok mulai dari obat-obatan, bahan bakar, pangan, dan dampak inflasi yang tembus di level 60 persen secara tahunan.

Kondisi itu memicu protes unjuk rasa masyarakat yang berujung pada lengsernya Gotabaya Rajapaksa sebagai Presiden negara tersebut.

Wickremesinghe, yang saat itu menjadi perdana menteri, mengambil alih sebagai penjabat presiden dan kemudian dikukuhkan dalam jabatan itu oleh parlemen.

[Gambas:Video CNN]

(dzu/sfr)
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER