Mohammed Al Amoudi, Lahir di Ethiopia Kaya Raya di Arab Saudi
Agus Triyono | CNN Indonesia
Minggu, 25 Sep 2022 08:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Mohammed Al Almoudi menjadi orang kelahiran Ethiopia berkewarganegaraan Arab Saudi yang sukses memiliki kekayaan Rp121 triliun. (CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani).
Jakarta, CNN Indonesia --
Ethiopiayang pada 1983-1985 lalu sempat menjadi negara termiskin di dunia berhasil mencetak taipan besar. Mohammed Al Amoudi, itulah taipan itu.
Terlahir di sebuah negara yang pernah dihantam oleh bencana kekeringan dan kelaparan, lelaki ini berhasil memiliki harta triliunan rupiah.
Mengutip Forbes, total kekayaan Al Amoudi mencapai US$8,1 miliar pada 2018 lalu. Kalau dirupiahkan dengan nilai saat ini, kekayaan itu tembus Rp121,54 triliun.
Karena jumlah harta itu, ia pernah dijuluki sebagai orang terkaya di Ethiopia. Ia juga pernah dijuluki sebagai warga Arab terkaya kedua di dunia setelah Pangeran Al-Walid bin Abdul-Azis al Saud.
Tak hanya itu, ia juga pernah mendapatkan predikat sebagai orang kulit hitam terkaya kedua di dunia.
Lalu siapa sebenarnya Al Amoudi dan bagaimana dia bisa sekaya itu. Apa pula kaitannya dengan Arab Saudi?
Mengutip berbagai sumber, Al Amoudi merupakan lelaki keturunan Hadhrami, Yaman dan seorang wanita Muslim Ethiopia. Ia lahir di Kota Dessie, Ethiopia pada 1946 lalu.
Kemudian ia dibesarkan di Kota Woldia, Ethiopia. Tidak banyak cerita soal bagaimana ia menghabiskan masa kecilnya di Ethiopia, bagaimana pendidikan dan soal kondisi keluarganya di negara tersebut.
Yang pasti, saat usianya menginjak 14 tahun atau pada 1960-an, ia pindah ke Arab Saudi. Saat berusia 19 tahun atau 1965, ia beralih kewarganegaraan jadi Arab Saudi.
Dan di Arab yang merupakan asal negara ayahnya inilah, ia memulai membangun kerajaan bisnisnya di bidang konstruksi dan real estat. Walau baru awalan, bisnis ini sukses besar.
Pada 1988, konsorsium perusahaan konstruksinya, Mohammed International Development and Organization Companies berhasil memenangkan tender pembangunan kompleks penyimpanan minyak bawah tanah nasional Arab Saudi.
Nilai proyek diperkirakan tembus US$30 miliar. Sukses itu membuatnya semakin percaya diri untuk melebarkan saya bisnis ke sektor lain. Ada beberapa yang ia coba.
Pertama, pertambangan minyak dan gas yang dilakukannya dengan mengakuisisi perusahaan minyak terbesar Swedia, OK Petroleum dengan nilai US$750 juta pada 1994 lalu. Akuisisi dilakukan saat ekonomi Swedia sedang sakit parah.
Hubungannya yang kuat dengan Kerajaan Arab Saudi membuat akuisisi itu membuahkan hasil bisnis gemilang. Ia berhasil menghubungkan kepentingan minyak Swedia dan Timur Tengah.
Keberhasilan itu meningkatkan peluangnya masuk ke pasar Polandia yang saat itu penduduknya mencapai 40 juta jiwa. Kedua, sektor otomotif.
Bersama dengan investor Arab Saudi dan Korea Selatan, ia menggelontorkan dana US$275 juta untuk membangun pabrik mobil pertama di Arab Saudi bernama Gazal-1 yang diprakarsai oleh King Saud University.
Investasi ia lakukan melalui Midroc yang didirikannya pada 1994 lalu. Ketiga, bisnis industri petrokimia.
Pada 2011, ia menggelontorkan investasi US$1,07 miliar untuk pembangunan proyek turunan fosfat dan belerang di Ras Al-Khair dan Kota Industri Jubail. Keempat, bisnis pertambangan emas di Ethiopia.
Bisnis ini dilaporkan telah memberikan royalti ke pemerintah negara itu sebesar 100,1 juta birr. Jumlah pembayaran royalti itu merupakan kontribusi terbesar yang pernah diberikan perusahaan pertambangan dalam sejarah.
Al Almoudi juga merambah ke bisnis pertanian. Melalui Saudi Star Agricultural Development Plc milinya, ia mengembangkan perkebunan tebu, minyak nabati dan juga biji-bijian di lahan seluas 500 ribu hektar.
Melalui bisnis-bisnisnya itu, ia berhasil memberikan pekerjaan kepada lebih dari 70 ribu orang.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Al Amoudi terkenal sebagai seorang yang hartawan yang dermawan. Ini dibuktikan dengan sejumlah amal yang dilakukannya.
Tercatat, ia merupakan salah satu donatur Yayasan William J. Clinton. Berdasar informasi yang berkembang, ia memberikan donasi antara US$5 juta sampai US$10 juta ke yayasan tersebut.
Al Amoudi juga memberikan sejumlah dana untuk mendukung pusat penelitian kanker payudara di Universitas King Abdulazis.
Di bidang olah raga ia juga terkenal royal. Al Amoudi mensponsori Piala CECAFA, kompetisi piala sepak bola tertua di Afrika. Ia juga pernah menutupi biaya pengobatan salah satu pesepakbola paling terkenal di Ethiopia, Mengistu Worku sebelum kematiannya pada Desember 2010.
Pada 2011, ia menggelontorkan 100 juta birr Ethiopia untuk pembangunan stadion dan akses jalan di Mek'ele. Mengutup wawancara Forbes pada 2013 lalu, Al Amoudi mengatakan kedermawanan itu merupakan bentuk rasa sukurnya atas keberhasilan dan kesuksesan bisnis serta proyeknya selama ini.
"Saya cukup beruntung untuk mencapai banyak hal selama hidup saya dan mendapat manfaat dari dukungan komunitas lokal untuk proyek bisnis saya. Sebagai imbalannya, saya pikir sudah tepat jika saya memastikan bahwa masyarakat mendapat manfaat dari kesuksesan bisnis saya. Motivasi kebijakan publik adalah bahwa manfaat maksimal harus diberikan kepada sejumlah besar orang sambil tetap fokus pada hasil. Tuhan telah memberkati saya sehingga saya dapat bermurah hati dengan mereka yang membutuhkan," katanya.
Ia berharap langkahnya itu bisa mendorong orang kaya lain untuk menyisihkan pendapatan mereka membantu masyarakat.
Namun, di tengah kedermawanannya itu, Al Amoudibukan tidak pernah tertimpa masalah. Pada November 2017 lalu, ia bersama dengan lusinan pangeran dan ratusan pebisnis Arab ditahan di Hotel Ritz Carlton terkait tuduhan korupsi.
Penahanan itu sempat memicu kontroversi. Al Amoudidibebaskan setahun setelah penahanan tersebut tanpa proses hukum yang jelas.
Ethiopiayang pada 1983-1985 lalu sempat menjadi negara termiskin di dunia berhasil mencetak taipan besar. Mohammed Al Amoudi, itulah taipan itu.
Terlahir di sebuah negara yang pernah dihantam oleh bencana kekeringan dan kelaparan, lelaki ini berhasil memiliki harta triliunan rupiah.
Mengutip Forbes, total kekayaan Al Amoudi mencapai US$8,1 miliar pada 2018 lalu. Kalau dirupiahkan dengan nilai saat ini, kekayaan itu tembus Rp121,54 triliun.
Karena jumlah harta itu, ia pernah dijuluki sebagai orang terkaya di Ethiopia. Ia juga pernah dijuluki sebagai warga Arab terkaya kedua di dunia setelah Pangeran Al-Walid bin Abdul-Azis al Saud.
Tak hanya itu, ia juga pernah mendapatkan predikat sebagai orang kulit hitam terkaya kedua di dunia.
Lalu siapa sebenarnya Al Amoudi dan bagaimana dia bisa sekaya itu. Apa pula kaitannya dengan Arab Saudi?
Mengutip berbagai sumber, Al Amoudi merupakan lelaki keturunan Hadhrami, Yaman dan seorang wanita Muslim Ethiopia. Ia lahir di Kota Dessie, Ethiopia pada 1946 lalu.
Kemudian ia dibesarkan di Kota Woldia, Ethiopia. Tidak banyak cerita soal bagaimana ia menghabiskan masa kecilnya di Ethiopia, bagaimana pendidikan dan soal kondisi keluarganya di negara tersebut.
Yang pasti, saat usianya menginjak 14 tahun atau pada 1960-an, ia pindah ke Arab Saudi. Saat berusia 19 tahun atau 1965, ia beralih kewarganegaraan jadi Arab Saudi.
Dan di Arab yang merupakan asal negara ayahnya inilah, ia memulai membangun kerajaan bisnisnya di bidang konstruksi dan real estat. Walau baru awalan, bisnis ini sukses besar.
Pada 1988, konsorsium perusahaan konstruksinya, Mohammed International Development and Organization Companies berhasil memenangkan tender pembangunan kompleks penyimpanan minyak bawah tanah nasional Arab Saudi.
Nilai proyek diperkirakan tembus US$30 miliar. Sukses itu membuatnya semakin percaya diri untuk melebarkan saya bisnis ke sektor lain. Ada beberapa yang ia coba.
Pertama, pertambangan minyak dan gas yang dilakukannya dengan mengakuisisi perusahaan minyak terbesar Swedia, OK Petroleum dengan nilai US$750 juta pada 1994 lalu. Akuisisi dilakukan saat ekonomi Swedia sedang sakit parah.
Hubungannya yang kuat dengan Kerajaan Arab Saudi membuat akuisisi itu membuahkan hasil bisnis gemilang. Ia berhasil menghubungkan kepentingan minyak Swedia dan Timur Tengah.
Keberhasilan itu meningkatkan peluangnya masuk ke pasar Polandia yang saat itu penduduknya mencapai 40 juta jiwa. Kedua, sektor otomotif.
Bersama dengan investor Arab Saudi dan Korea Selatan, ia menggelontorkan dana US$275 juta untuk membangun pabrik mobil pertama di Arab Saudi bernama Gazal-1 yang diprakarsai oleh King Saud University.
Investasi ia lakukan melalui Midroc yang didirikannya pada 1994 lalu. Ketiga, bisnis industri petrokimia.
Pada 2011, ia menggelontorkan investasi US$1,07 miliar untuk pembangunan proyek turunan fosfat dan belerang di Ras Al-Khair dan Kota Industri Jubail. Keempat, bisnis pertambangan emas di Ethiopia.
Bisnis ini dilaporkan telah memberikan royalti ke pemerintah negara itu sebesar 100,1 juta birr. Jumlah pembayaran royalti itu merupakan kontribusi terbesar yang pernah diberikan perusahaan pertambangan dalam sejarah.
Al Almoudi juga merambah ke bisnis pertanian. Melalui Saudi Star Agricultural Development Plc milinya, ia mengembangkan perkebunan tebu, minyak nabati dan juga biji-bijian di lahan seluas 500 ribu hektar.
Melalui bisnis-bisnisnya itu, ia berhasil memberikan pekerjaan kepada lebih dari 70 ribu orang.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Ingin Hidup dan Sukses Bisnis Bermanfaat ke Masyarakat
Mohammed Al Almoudi mendermakan hartanya untuk berbagai kegiatan amal, salah satunya mendukung pusat penelitian kanker payudara. Ilustrasi. (iStockphoto).
Al Amoudi terkenal sebagai seorang yang hartawan yang dermawan. Ini dibuktikan dengan sejumlah amal yang dilakukannya.
Tercatat, ia merupakan salah satu donatur Yayasan William J. Clinton. Berdasar informasi yang berkembang, ia memberikan donasi antara US$5 juta sampai US$10 juta ke yayasan tersebut.
Al Amoudi juga memberikan sejumlah dana untuk mendukung pusat penelitian kanker payudara di Universitas King Abdulazis.
Di bidang olah raga ia juga terkenal royal. Al Amoudi mensponsori Piala CECAFA, kompetisi piala sepak bola tertua di Afrika. Ia juga pernah menutupi biaya pengobatan salah satu pesepakbola paling terkenal di Ethiopia, Mengistu Worku sebelum kematiannya pada Desember 2010.
Pada 2011, ia menggelontorkan 100 juta birr Ethiopia untuk pembangunan stadion dan akses jalan di Mek'ele. Mengutup wawancara Forbes pada 2013 lalu, Al Amoudi mengatakan kedermawanan itu merupakan bentuk rasa sukurnya atas keberhasilan dan kesuksesan bisnis serta proyeknya selama ini.
"Saya cukup beruntung untuk mencapai banyak hal selama hidup saya dan mendapat manfaat dari dukungan komunitas lokal untuk proyek bisnis saya. Sebagai imbalannya, saya pikir sudah tepat jika saya memastikan bahwa masyarakat mendapat manfaat dari kesuksesan bisnis saya. Motivasi kebijakan publik adalah bahwa manfaat maksimal harus diberikan kepada sejumlah besar orang sambil tetap fokus pada hasil. Tuhan telah memberkati saya sehingga saya dapat bermurah hati dengan mereka yang membutuhkan," katanya.
Ia berharap langkahnya itu bisa mendorong orang kaya lain untuk menyisihkan pendapatan mereka membantu masyarakat.
Namun, di tengah kedermawanannya itu, Al Amoudibukan tidak pernah tertimpa masalah. Pada November 2017 lalu, ia bersama dengan lusinan pangeran dan ratusan pebisnis Arab ditahan di Hotel Ritz Carlton terkait tuduhan korupsi.
Penahanan itu sempat memicu kontroversi. Al Amoudidibebaskan setahun setelah penahanan tersebut tanpa proses hukum yang jelas.